<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254</id><updated>2011-07-08T05:32:30.331+07:00</updated><category term='Kesehatan'/><category term='Hadits'/><category term='Shalat'/><category term='Tazkiyatun Nufus'/><category term='Akhlak'/><category term='Tausyiah Keluarga'/><category term='Buletin Jum&apos;at'/><category term='Tausyiah'/><category term='Rumah Tangga'/><category term='Adab Dan Perilaku'/><category term='Anak-anak Muslim'/><category term='Pergaulan'/><category term='Halal dan Haram'/><category term='ILMU'/><category term='Nabi'/><title type='text'>Blog Akang Hendra</title><subtitle type='html'>"Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Alah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasannya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah,ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu"[Q.S 65-12]</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-2656183745574267758</id><published>2010-05-03T10:15:00.001+07:00</published><updated>2010-05-03T10:15:52.460+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hadits'/><title type='text'>BERPERANG MELAWAN WAS-WAS SETAN</title><content type='html'>Abu Hurairah  menuturkan, Rasulullâh  bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ&lt;br /&gt;"Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya,'Siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan itu?' Hingga dia bertanya,'Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?' Oleh karena itu, jika telah sampai kepadanya hal tersebut, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan (waswas tersebut)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAKHRIJ HADITS&lt;br /&gt;Hadits ini muttafaqun 'alaihi (Al-Bukhari dalam Shahih-nya di kitab "Bad'ul-Khalqi", bab "Shifatu Iblisa wa Junudihi", hadits no. 3276 [6/387 – Fathul-Bari]; dan Muslim dalam Shahih-nya di kitab "Al Iman", bab "Bayan al Waswasati fil-Iman wa ma Yaquluhu man Wajadaha", hadits no. 134 [2/132 – Syarhu Shahih Muslim]).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BIOGRAFI PERIWAYAT HADITS&lt;br /&gt;Abu Hurairah  , beliau bernama Abdur-Rahman bin Shakhr Ad-Dausi, inilah pendapat yang masyhur. Pada masa Jahiliyyah, beliau bernama Abdu Syams, dan ada pula yang berpendapat lain. Panggilan kunyahnya Abu Hurairah, dan inilah yang masyhur. Kunyah lainnya yaitu Abu Hir, karena beliau z memiliki seekor kucing kecil yang selalu diajaknya bermain-main pada siang hari. Dalam Shahih Al-Bukhari disebutkan, bahwa Nabi  pernah memanggilnya “Wahai Abu Hir”.&lt;br /&gt;Ahli hadits telah bersepakat, Abu Hurairah merupakan sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Abu Muhammad Ibnu Hazm mengatakan di dalam Musnad Baqiy bin Makhlad, terdapat 5.300-an hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah.&lt;br /&gt;Selain meriwayatkan dari Nabi , beliau juga meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, al-Fadhl bin al-Abbas, Ubaiy bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, ‘Aisyah, Bushrah al-Ghifari, dan Ka’ab al-Ahbar .&lt;br /&gt;Ada sekitar 800 ahli ilmu dari kalangan sahabat maupun tabi’in yang meriwayatkan hadits dari beliau, dan beliau adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan beribu-ribu hadits. Namun, bukan berarti beliau yang paling utama di antara para sahabat Rasulullah .&lt;br /&gt;Imam asy-Syafi’i berkata,"Abu Hurairah adalah orang yang paling hafal dalam meriwayatkan hadits pada zamannya (masa sahabat).”&lt;br /&gt;Beliau masuk Islam antara setelah perjanjian Hudaibiyyah dan sebelum perang Khaibar. Datang ke Madinah sebagai muhajir dan tinggal di Shuffah. Nabi  mendo’akan ibu Abu Hurairah untuk masuk Islam.&lt;br /&gt;Amr bin Ali al-Fallas mengatakan, Abu Hurairah datang ke Madinah pada tahun terjadinya perang Khaibar pada bulan Muharram tahun ke-7 H.&lt;br /&gt;Humaid al-Himyari berkata,"Aku menemani seorang sahabat yang pernah menemani Rasulullah  selama empat tahun sebagaimana halnya Abu Hurairah.”&lt;br /&gt;Menurut pendapat yang lebih kuat, beliau  wafat pada tahun 57 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKNA HADITS&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberitakan, setan dapat mendatangi seseorang untuk menghembuskan was-was (gangguan) dan syubhat (keraguan) ke dalam hatinya; di antaranya dengan membisikkan kalimat-kalimat yang dapat menimbulkan keragu-raguan secara halus, hingga menggiringnya kepada kalimat kufur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, seperti disebutkan dalam hadits ini. Yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan yang semula merupakan pertanyaan biasa, lalu setan berusaha menggiring pada pertanyaan yang membuat keraguan, yaitu "siapa yang menciptakan Rabb-mu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila was-was setan ini telah merasuk ke dalam hati dan benak pikiran seseorang, maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan agar orang tersebut segera meminta perlindungan kepada Allah dan mengakhiri (was-was setan tersebut) dari benak pikirannya. Walahu a'lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN DAN PELAJARAN HADITS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setan Musuh Yang Nyata Bagi Bani Adam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala mengusir Iblis dari surga karena keengganannya menjalankan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk bersujud kepada Adam Alaihissallam, ia meminta tangguh kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala seraya menyatakan tekadnya untuk menggoda dan menjerumuskan Adam Alaihissallam dan anak cucunya ke dalam lembah kehinaan, menyimpangkan mereka dari jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala yang lurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pertama kalinya Iblis berhasil membujuk Adam Alaihissallam dan isterinya melanggar larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala, sehingga keduanya dihukum oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan diturunkan ke bumi, meskipun kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menerima taubat Adam Alaihissallam dan isterinya, dan mengampuni keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhenti sampai di situ, Iblis kemudian mengajak bala tentaranya dari kalangan setan untuk terus memerangi anak cucu Adam, menggelincirkannya dari jalan Allah yang lurus, dan menjatuhkannya ke dalam kesesatan yang menghinakan. Maka Iblis dan bala tentaranya menjadi musuh yang paling nyata dan paling sengit bagi manusia. Oleh karena itu berhati-hatilah dari tipu daya dan langkah-langkah setan yang menyesatkan.&lt;br /&gt;Allah  telah memperingatkan hal itu dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;… dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya syithan itu musuh yang nyata bagimu. (Qs Al-Baqarah/2:168. Al An'âm/6:142).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setan Menghembuskan Was-was dan Syubhat&lt;br /&gt;Sejak awal permusuhan, setan telah mempersiapkan jurus-jurus dan langkah-langkah muslihat untuk menggelincirkan dan melumpuhkan manusia agar tidak taat kepada Allah. Di antaranya dengan meluncurkan was-was dan syubhat (keraguan) dalam diri manusia.&lt;br /&gt;Perhatikan perkataan setan (Iblis). Dengan muslihatnya, ia berlagak sebagai penasihat, dan bahkan dengan mengangkat sumpah kepada Adam  dan isterinya –sebelum diturunkan ke bumi- setelah sebelumnya Allah memperingatkan keduanya untuk tidak mendekati pohon terlarang.&lt;br /&gt;فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مِنْ سَوْءَاتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلاَّ أَنْ تَكُوناَ مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُوناَ مِنَ الْخَالِدِينَ. وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ. فَدَلاَّهُمَا بِغُرُورٍ ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setan membisikkan pikiran jahat (was-was) kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya, dan setan berkata, "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)". Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya,"Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua,' maka setan membujuk keduanya dengan tipu daya. … (Qs Al-A'râf/7:20-22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat lain, Allah  juga menceritakan hal serupa.&lt;br /&gt;فَوَسْوَسَ لَهُ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لاَ يَبْلَى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setan membisikkan pikiran jahat (waswas) kepadanya, dengan berkata,"Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (kekekalan) dan kerajaan yang tidak akan binasa?" (Qs Thâhâ/20:120).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Allah  menceritakan tentang ketergelinciran Adam  dan isterinya oleh was-was dan tipu daya setan, yang membuat Adam lupa dengan peringatan Allah  . Ketergelinciran ini untuk menjadi pelajaran bagi anak cucunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk Waswas Setan&lt;br /&gt;Banyak cara yang dilancarkan setan dalam menghembuskan was-was (pikiran jahatnya) kepada bani Adam. Di antaranya dapat dicontohkan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Setan menghiasi kemaksiatan.&lt;br /&gt;Setan menghiasi kemaksiatan dengan hiasan-hiasan indah, sehingga kemaksiatan tersebut tidak nampak lagi sebagai kemaksiatan di mata manusia. Seperti perkataannya kepada Adam  dan isterinya dalam dua ayat di atas, ternyata merupakan tipuan berhias nasihat. Begitu pula ketika menghiasi perbuatan kaum musyrikin pada perang Badar. Allah  mengisahkan:&lt;br /&gt;وَلاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَراً وَرِئَـاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللهِ، وَاللهُ بِمَا يَعْمَلوُنَ مُحِيطٌ. وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لاَ غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌّ لَّكُمْ، فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِّنْكْم إِنِّي أَرَى مَا لاَ تَرَونَ إِنِّي أَخَافُ اللهَ، وَاللهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan,"Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu," maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata,"Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah". Dan Allah sangat keras siksa-Nya. (Qs Al-Anfâl/8:47-48).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah hiasan setan yang berisikan janji-janji palsu dan angan-angan kosong.&lt;br /&gt;يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِم وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلاَّ غُرُوراً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (Qs An-Nisâ': 120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Setan menakut-nakuti manusia.&lt;br /&gt;Tatkala ada sebagian manusia tidak mempan dengan hiasan-hiasan setan, maka setan menggunakan cara lain, yaitu menakut-nakuti mereka.&lt;br /&gt;Allah  berfirman:&lt;br /&gt;إِنَّمَا ذَلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلاَ تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِنْ كُنْتُم مُؤْمِنِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Qs Ali Imran/3:175).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangkal Was-Was Setan&lt;br /&gt;Keberadaan setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia merupakan salah satu ujian terberat buat manusia; karena setan dapat melihat keberadaan manusia, sedangkan manusia tidak dapat melihat setan.&lt;br /&gt;Allah  berfirman:&lt;br /&gt;يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا مِن سَوْءَاتِهِمَا، إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِن حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُم، إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Qs Al-A'râf/7:27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, Allah  dengan rahmatNya memberikan petunjuk kepada para hamba-Nya melalui lisan Rasul-Nya  , yaitu kiat-kiat untuk menangkal dan mengusir setiap serangan yang dilancarkan setan. Di antaranya sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ikhlas.&lt;br /&gt;Hamba-hamba yang ikhlas akan dijaga dan diselamatkan dari gangguan setan, sebagaimana menurut pengakuan setan sendiri. Allah l menceritakan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (39) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis berkata, "Ya Rabb-ku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka." (Qs Al-Hijr/15:39-40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat yang lain:&lt;br /&gt;قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (82) إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (83)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iblis menjawab, "Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka." (Qs Shâd/38:82-83).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan jaminan dari Allah  sebagaimana dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ(42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hamba-hamba-Ku (yang mukhlis) tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang sesat. (Qs Al-Hijr/15:42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Iman.&lt;br /&gt;Dalam sebagian riwayat hadits Abu Hurairah  yang kita bahas di atas, ada disebutkan dengan lafazh berikut.&lt;br /&gt;((إِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْتِي أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ السَّمَاءَ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ الْأَرْضَ فَيَقُولُ اللَّهُ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ اللَّهَ فَإِذَا أَحَسَّ أَحَدُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ هَذَا فَلْيَقُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ وَبِرُسُلِهِ)).&lt;br /&gt;Sesungguhnya setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya (kepadanya),"Siapa yang menciptakan langit?" Ia menjawab,"Alah  ," lalu setan bertanya lagi,"Siapa yang menciptakan bumi?" Ia menjawab,"Allah," hingga setan bertanya,"Siapa yang menciptakan Allah? Maka apabila salah seorang dari kalian merasakan suatu (was-was) seperti ini, hendaklah dia mengucapkan,"Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya".&lt;br /&gt;Dan dalam riwayat Aisyah x dengan lafazh:&lt;br /&gt;((... فَلْيَقْرَأْ آمَنْتُ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ يُذْهِبُ عَنْهُ)).&lt;br /&gt;… maka bacalah "Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya," karena hal itu akan menghilangkannya (was-was tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berlindung Kepada Allah  .&lt;br /&gt;Hal ini sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah  dalam hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah  di atas:&lt;br /&gt;((... فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ))&lt;br /&gt;… jika telah sampai kepadanya hal tersebut, maka hendaklah dia berlindung kepada Allah dan hendaklah dia menghentikan/memutuskan (was-was tersebut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal ini sesuai dengan perintah Allah  dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Qs Al-A'râf/7:200).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah  pula dengan lafazh:&lt;br /&gt;((فَإِذَا قَالُوا ذَلِكَ، فَقُولُوا: اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، ثُمَّ لِيَتْفُلْ عَنْ يَسَارِهِ ثَلَاثًا وَلْيَسْتَعِذْ مِنْ الشَّيْطَانِ)).&lt;br /&gt;Jika mereka mengucapkan hal itu (kalimat-kalimat was-was), maka ucapkanlah "Allah itu Maha Esa, Allah itu tempat bergantung, Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan," kemudian meludahlah ke kiri (3x) dan berlindunglah kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dzikrullah.&lt;br /&gt;Sebagaimana dalam firman Allah  :&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (menyadari) kesalahan-kesalahannya. (Qs Al-A'râf/7:201).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nas'alullaha at taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya di dalam kitab "Al Ghusl", bab "Al-Junub Yakhruju wa Yamsyi fis-Sûq wa Ghairihi", hadits no. 285 (1/466 – Fathul-Bari).&lt;br /&gt;Anjungan di serambi Masjid Nabi , tempat tinggal kaum fakir yang tak punya rumah.&lt;br /&gt;Lihat Al-Ishabah (4/316 – dst.).&lt;br /&gt;Lihat firman Allah dalam Qs Al-Baqarah/2 ayat 34 dan Al-A'râf/7 ayat 11-18.&lt;br /&gt;Lihat firman Allah Qs Al-A'râf/7 ayat 19-25.&lt;br /&gt;Risalah Maqami' Asy-Syaithan, oleh Syaikh Salim Al-Hilali, Dâr Ibnil-Jauzi, Cetakan III, Tahun 1412H/1991M, hlm. 10-14.&lt;br /&gt;Lihat risalah Maqami' Asy-Syaithan, hlm. 29-31.&lt;br /&gt;HR Imam Ahmad dalam Musnad-nya (2/331) dan (5/214) dengan lafazh: " …aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya " (dengan bentuk tunggal). Lihat pula Shahih Muslim, kitab "Al Iman", bab "Bayan al Waswasati fil- Iman wa ma Yaquluhu man Wajadaha", hadits no. 134 (2/132 – Syarah Shahih Muslim).&lt;br /&gt;HR Imam Ahmad dalam Musnad-nya (6/257). Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahihul-Jami’ (no. 1542).&lt;br /&gt;HR Abu Dawud dalam Sunan-nya, kitab "As-Sunnah", bab "Fil-Jahmiyyah", hadits no. 4722. Derajatnya dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud dan Shahihul-Jami’ (no. 8182).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-2656183745574267758?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/2656183745574267758/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/05/berperang-melawan-was-was-setan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/2656183745574267758'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/2656183745574267758'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/05/berperang-melawan-was-was-setan.html' title='BERPERANG MELAWAN WAS-WAS SETAN'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-2864303886439525965</id><published>2010-04-29T15:16:00.001+07:00</published><updated>2010-04-29T15:16:44.826+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Akhlak'/><title type='text'>SIAPAKAH YANG LAYAK DIBERI AMANAH?</title><content type='html'>Amanah adalah sifat mulia. Sehingga amat disayangkan jika kaum Muslimin kehilangan sifat mulia ini. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala dan RasulNya Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada setiap muslim untuk menunaikan amanah, menjelaskan akibat buruk mengabaikan dan melalaikan amanah. Penyebab utama seseorang terjerumus ke dalam kemaksiatan ini adalah karena kejahilan (kebodohan).[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebodohan seorang muslim terhadap pentingnya masalah amanah, telah membuatnya meninggalkan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala yang sangat agung ini, sekaligus telah bermaksiat. Dan bahkan dapat menjadi dosa besar, jika seseorang yang telah mengetahui hukumnya, tetapi justru menyia-nyiakan amanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sebagai seorang muslim, kita senantiasa berusaha keras dan sungguh-sungguh membebaskan diri dari kejahilan, yakni dengan menuntut ilmu syar’i secara umum, dan memahami urgensi amanah ini secara khusus, lalu mengamalkannya. Serta tetap terus memohon dan berdoa kepada Allah Subhanahun wa Ta'ala agar kita senantisa diberi taufiq, hidayah, dan segala kemudahan dalam menuntut ilmu syar’i, memahaminya, serta merealisasikan syariat Islam yang sempurna dan mulia ini dalam keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKNA AMANAH&lt;br /&gt;Al Imam Ibnu al Atsir rahimahullah berkata, amanah bisa bermakna ketaatan, ibadah, titipan, kepercayaan, dan jaminan keamanan [2]. Begitu juga al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah membawakan beberapa perkataan dari sahabat dan tabi’in tentang makna amanah ini. Ketika menafsirkan surat al Ahzab ayat 72, al Hafizh Ibnu Katsir membawakan beberapa perkataan sahabat dan tabi'in tentang makna amanah dengan menyatakan, makna amanah adalah ketaatan, kewajiban-kewajiban, (perintah-perintah) agama, dan batasan-batasan hukum.[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy Syaikh al Mubarakfuri rahimahullah berkata,"(Amanah) adalah segala sesuatu yang mewajibkan engkau untuk menunaikannya” [4]. Adapun menurut asy Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman -hafizhahullah-amanah adalah, kepercayaan orang berupa barang-barang titipan, dan perintah Allah berupa shalat, puasa, zakat dan semisalnya, menjaga kemaluan dari hal-hal haram, dan menjaga seluruh anggota tubuh dari segala perbuatan dosa. [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan asy Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali -hafizhahullah- menjelaskan, amanah adalah sebuah perintah menyeluruh dan mencakup segala hal berkaitan dengan perkara-perkara, yang dengannya, seseorang terbebani untuk menunaikannya, atau ia dipercaya dengannya. Sehingga amanah ini mencakup seluruh hak-hak Allah atas seseorang, seperti perintah-perintahNya yang wajib. Juga meliputi hak-hak orang lain, seperti barang-barang titipan (yang harus ditunaikan dan disampaikan kepada si pemiliknya, Pen). Sehingga, sudah semestinya seseorang yang dibebani amanah, ia menunaikannya dengan sebaik-baiknya dengan menyampaikan kepada pemiliknya. Ia tidak boleh menyembunyikan, mengingkari, atau bahkan menggunakannya tanpa izin yang syar’i.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy Syaikh Husain bin Abdul Aziz Alu asy Syaikh -hafizhahullah- juga menjelaskan : “Para ulama telah berkata, hal-hal yang termasuk amanah sangatlah banyak. Kaidah dan dasar hukumnya adalah segala sesuatu yang seseorang terbebani dengannya, dan hak-hak yang telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala agar ia memelihara dan menunaikannya, baik berkaitan dengan agama, jiwa manusia, akal, harta, dan kehormatan harga diri". [7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI ANTARA DALIL-DALIL AL QUR`AN YANG MENJELASKAN TENTANG AMANAH&lt;br /&gt;1. Surat an Nisaa/4 ayat 58 :&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah di dalam Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (2/338-339) berkata : Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengabarkan bahwa sesungguhnya Ia memerintahkan (kepada kita) untuk menunaikan amanah kepada pemiliknya. Dalam sebuah hadits dari al Hasan, dari Samurah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَدِّ الأَمَانَةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ، وَلاَ تَخُنْ مَنْ خَانَكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunaikanlah amanah kepada orang yang engkau dipercaya (untuk menunaikan amanah kepadanya), dan jangan khianati orang yang telah mengkhianatimu". [Diriwayatkan oleh al Imam Ahmad dan Ahlus Sunan].[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mencakup seluruh jenis amanah yang wajib ditunaikan oleh seseorang yang dibebani dengannya. Baik (amanah itu) berupa hak-hak Allah atas hambanya, seperti (menunaikan) shalat, zakat, kaffarat, nadzar, puasa, dan lain-lainnya yang ia terbebani dengannya dan tidak terlihat oleh hamba-hamba Allah lainnya. Ataupun berupa hak-hak sesama manusia, seperti barang-barang titipan, dan yang semisalnya, yang mereka saling mempercayai satu orang dengan yang lainnya tanpa ada bukti atasnya. Maka, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkannya untuk menunaikannya. Barangsiapa yang tidak menunaikannya, akan diambil darinya pada hari Kiamat kelak.[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Surat al Anfal/8 ayat 27 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata,"… Dan khianat, mencakup seluruh perbuatan dosa, baik yang kecil maupun yang besar, baik (dosanya) terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. 'Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu ‘Abbas, (tentang firmanNya) وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ , amanah adalah seluruh perbuatan yang telah Allah bebankan kepada hamba-hambaNya (agar mereka menunaikannya, Pen), yaitu (berupa) kewajiban-kewajiban. Dan maksud "janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat” adalah, janganlah kamu menggugurkannya. Dalam sebuah riwayat, ‘Ibnu Abbas menjelaskan maksud firmanNya: لاَ تَخُونُواْ اللهَ وَالرَّسُولَ , (janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul), dengan cara meninggalkan sunnah Nabi dan melakukan maksiat kepada Nabi" [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Surat al Ahzab/33 ayat 72 :&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu Katsir t , setelah membawakan beberapa perkataan dari shahabat dan tabi’in tentang makna amanah ini, beliau berkata: “Seluruh perkataan ini, tidak ada pertentangan sesamanya. Bahkan seluruhnya bermakna sama dan kembali kepada satu makna, (yaitu) pembebanan, penerimaan perintah-perintah dan larangan-larangan dengan syarat-syaratnya. Dan hal ini, jika seseorang menunaikannya, maka ia akan diberi pahala. Namun, jika ia menyia-nyiakannya, maka ia pun akan disiksa. Akhirnya, manusialah yang menerima amanah ini, padahal ia lemah, bodoh, lagi berbuat zhalim. Kecuali orang yang diberi taufiq oleh Allah, dan Allah-lah tempat memohon pertolongan”.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Surat al Mu’minun/23 ayat 8, atau surat al Ma’arij/70 ayat 32:&lt;br /&gt;"Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (8/227) berkata: "Maksudnya, apabila mereka dipercaya (dalam suatu urusan), mereka tidak berkhianat. Dan apabila mereka mengadakan perjanjian, mereka tidak menyelisihinya. Demikianlah sifat orang-orang yang beriman. Dan kebalikan dari ini, adalah sifat orang-orang munafik. Sebagaimana diterangkan dalam hadits shahih, tanda orang munafiq ada tiga: apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyelisihi janjinya, dan apabila diberi amanah (kepercayaan) ia berkhianat. Dalam sebuah riwayat, apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyelisihi janjinya, dan apabila bertengkar ia berbuat curang.[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Surat al Baqarah/2 ayat 283:&lt;br /&gt;"…Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah Tuhannya…".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI ANTARA DALIL-DALIL AS SUNNAH YANG BERKAITAN DENGAN AMANAH DAN KETERANGAN WAJIBNYA MENUNAIKAN AMANAH, SERTA AKIBAT BURUK MENYIA-NYIAKAN DAN MELALAIKANNYA&lt;br /&gt;1. Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, yang menjelaskan wajibnya menunaikan amanah kepada pemiliknya, ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَدِّ الأَمَانَـةَ إِلَى مَنِ ائْـتَمَنَكَ، وَلاَ تَـخُنْ مَنْ خَانَكَ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tunaikanlah amanah kepada orang yang engkau dipercaya (untuk menunaikan amanah kepadanya), dan jangan khianati orang yang telah mengkhianatimu". [13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits ini, asy Syaikh al Mubarakfuri rahimahullah berkata : "Perintah (di dalam hadits ini) menunjukkan wajibnya hal tersebut” [14]. Yakni, seseorang wajib menunaikan amanah. Sehingga Imam adz Dzahabi rahimahullah telah mengkategorikan perbuatan khianat ini ke dalam perbuatan dosa besar. Beliau berkata,"Khianat sangat buruk dalam segala hal, sebagiannya lebih buruk dari sebagian yang lainnya. Tidaklah orang yang mengkhianatimu dengan sedikit uang, seperti orang yang mengkhianatimu pada keluargamu, hartamu, dan ia pun melakukan dosa-dosa besar (lainnya)”.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, yang menjelaskan salah satu tanda hari Kiamat adalah apabila amanah telah disia-siakan, ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَيْنَمَا النَّـبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ القَوْمَ، جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ، فَقَالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَمَضَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ، فَقَالَ بَعْضُ القَوْمِ: سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ: بَلْ لَمْ يَسْمَعْ، حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيْـثَهُ، قَالَ: أَيْنَ -أُرَاهُ- السَّائِلُ عَنِ السَّاعَةِ؟ ، قَالَ: هَا أَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: فَإِذَا ضُـيِّعَتِ الأَمَانَـةُ، فَانْـتَظِرِ السَّاعَةَ ، قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا؟ قَالَ: إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ، فَانْـتَظِرِ السَّاعَةَ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tatkala Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berada dalam sebuah majelis (dan) berbicara dengan sekelompok orang, datanglah kepadanya seorang sahabat (dari sebuah perkampungan) dan berkata, “Kapankah hari kiamat?”. Namun Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tetap melanjutkan pembicaraannya, maka sebagian orang ada yang berkata, “Ia (Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ) mendengar ucapannya, namun ia tidak menyukainya”. Dan sebagian yang lain berkata: “Bahkan beliau tidak mendengarnya,” hingga akhirnya Rasulullah selesai dari pembicaraannya, dan beliau pun bersabda, “Mana orang yang (tadi) bertanya?” Orang itu berkata,"Inilah saya, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda,"Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat!” Orang itu kembali bertanya,"Bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?" Rasulullah bersabda,"Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat!" [16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hadits Abu Hurairah Radhiyallahu 'anha , yang menerangkan khianat adalah salah satu tanda-tanda orang munafik, ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: آيـَةُ المُـنَافِقِ ثَلاَثٌ، إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ؛ وَإِذَا وَعَدَ أَخْـلَفَ؛ وَإِذَا اؤْتُـمِنَ خَانَ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga : apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia menyelisihi janjinya, dan apabila diberi amanah (kepercayaan) ia berkhianat” [17].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, yang menjelaskan amanah dan menepati janji merupakan salah satu sifat orang beriman, ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَا خَطَبَنَا نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِلاَّ قَالَ: لاَ إِيْـمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَـةَ لَهُ، وَلاَ دِيْـنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَـهُ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidaklah Nabiyullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami, melainkan beliau bersabda: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki (sifat) amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janjinya”. [18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan hadits ini, asy Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman -hafizhahullah- berkata, “Maksud sabda beliau (لاَ إِيْـمَانَ), dikatakan oleh as Sindi, ada yang mengatakan bahwa maksud dari kedua penafian (peniadaan) dalam hadits ini adalah nafyul kamal (peniadaan kesempurnaan iman dan agama). Ada yang mengatakan pula, maksudnya adalah, sama sekali tidak beriman orang yang menganggap halal meninggalkan amanah, dan sama sekali tidak beragama seseorang yang menganggap halal melanggar janjinya. Dan maksud dari sabda beliau (لاَ دِيْـنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَـهُ) adalah, barangsiapa yang mengadakan sebuah perjanjian dengan orang lain, lalu ia sendiri yang melanggar dan tidak menepati janjinya tanpa ada ‘udzur (alasan) yang syar’i, maka agamanya kurang. Adapun jika dengan ‘udzur (alasan yang syar’i) -seperti seorang Imam (pemimpin) yang membatalkan perjanjian dengan seorang harbi (orang kafir yang diperangi), jika ia melihat ada kemaslahatan padanya-, maka hal ini boleh. Wallahu Ta’ala a’lam”.[19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Hadits Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash Radhiyallahu 'anhuma , yang menerangkan salah satu tanda hari kiamat adalah datangnya sebuah zaman, yang pada saat itu, orang yang amanah (jujur) dianggap pengkhianat, dan pengkhianat dianggap orang yang amanah (jujur). Dia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ يُـبْغِضُ الفُحْشَ وَالتَّـفَحُّشَ، وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِـيَدِهِ، لاَ تَـقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يُـخَوَّنَ الأَمِـيْنُ وَيُؤْتَـمَنَ الخَائِنُ، حَتَّى يَظْهَرَ الفُحْشُ وَالتَّـفَحُّشُ وَقَطِـيْعَةُ الأَرْحَامِ وَسُوْءُ الجِوَارِ... .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Allah membenci (sifat) keji dan kekejian. Dan demi (Dzat) yang jiwa Muhammad berada di tangannya, tidak akan terjadi hari kiamat sampai orang yang amanah (jujur) dianggap pengkhianat, dan seorang pengkhianat dipercaya, sampai muncul (sifat) keji dan kekejian, pemutusan hubungan silaturahim (kerabat), dan buruk dalam bertetangga…".[20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAPAKAH YANG LAYAK DIBERI AMANAH?&lt;br /&gt;Judul di atas memberikan pemahaman, tidak semua orang bisa diberi amanah kepercayan. Maksudnya, ada orang yang memiliki sifat-sifat tertentu, yang dengannya ia sebagai orang yang paling tepat dan paling berhak untuk dibebani amanah atau kepercayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbad al Badr -hafizhahullah- menjelaskan permasalahan ini dan berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar untuk memilih seorang pegawai atau pekerja adalah ia seorang yang kuat dan amanah (terpercaya). Karena dengan kekuatannya, ia mampu melakukan pekerjaan dengan baik. Dan dengan sifat amanahnya, ia akan menempatkan pada tempatnya semua perkara yang berkaitan dengan tugasnya. Dengan kekuatannya pula, ia sanggup menunaikan kewajiban yang telah dibebani atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah mengkhabarkan tentang salah satu dari kedua anak perempuan seorang penduduk Madyan, ia berkata kepada ayahnya tatkala Nabi Musa Alaihissallam mengambilkan minum untuk hewan ternak kedua wanita tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"… Wahai bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya". [al Qashash/28 : 26].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala juga telah mengkhabarkan tentang ‘Ifrit dari golongan jin, yang memperlihatkan kesanggupannya kepada Nabi Sulaiman Alaihissallam untuk membawa singgasana Balqis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"…Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". [an Naml/27 : 39].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknanya, ia memiliki kemampuan untuk membawa dan mendatangkannya, sekaligus menjaga apa yang terdapat di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga mengkhabarkan tentang Nabi Yusuf Alaihissallam , tatkala ia berkata kepada sang raja:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"… Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan". [Yusuf/12 : 55].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, lawan dari sifat kuat dan amanah adalah lemah dan khianat. Sehingga, inipun menjadi dasar atas diri seseorang untuk tidak dipilih dan dibebani kepercayaan atau pekerjaan. Bahkan, mengharuskan untuk menjauhkannya dari kepercayaan atau pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Umar bin al Khaththab Radhiyallahu 'anhu menjadikan Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu 'anhu sebagai gubernur di Kufah, dan kemudian orang-orang dungu di Kufah mencelanya dan membicarakan buruk padanya, maka Umar Radhiyallahu 'anhu melihat adanya kemaslahatan untuk menghentikan (Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu 'anhu) dari jabatan tersebut untuk menghindari fitnah. Selain itu juga, agar tidak ada orang yang berani berbuat macam-macam padanya. Kendatipun demikian, Umar Radhiyallahu 'anhu, menjelang wafatnya memilih enam orang sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam agar salah satu dari mereka dijadikan sebagai khalifah sepeninggalnya. Salah satu dari mereka adalah Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu 'anhu. Hal ini, karena Umar Radhiyallahu 'anhu khawatir timbul prasangka, bahwa penghentiannya atas Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu 'anhu -dari jabatan Gubernur- disebabkan ketidakmampuannya dalam memimpin sebuah wilayah. Dan Umar Radhiyallahu 'anhu ingin menghilangkan anggapan itu dengan berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِنْ أَصَابَتْ الإِمْـرَةُ سَعْداً فَهُوَ ذَاكَ، وَإِلاَّ فَلْـيَسْـتَعِنْ بِهِ أَيُّـكُمْ مَا أُمِّـرَ، فَإِنِّي لَمْ أَعْـزِلْهُ عَنْ عَجْـزٍ وَلاَ خِيَانَةٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kekuasaan ini terjatuh pada Sa’ad, maka itu memang haknya. Dan jika tidak, maka hendaknya salah seorang dari kalian meminta bantuannya, kerena sesungguhnya aku tidak menghentikannya dengan sebab kelemahan dan pengkhianatan". [Diriwayatkan al Bukhari, 3700].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terdapat di dalam Shahih Muslim (1825) dari Abu Dzar z , ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَلاَ تَسْـتَـعْمِلُنِي؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِيْ، ثُمَّ قَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّـكَ ضَـعِيْفٌ، وَإِنَّـهَا أَمَانَـةٌ، وَإِنَّـهَا يَوْمَ القِـيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَـقِّهَا، وَأَدَّى الَّذِي عَلَـيْهِ فِيْهَا .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menjadikanku (seorang pemimpin)?” Lalu Rasulullah memukulkan tangannya di bahuku, dan bersabda,"Wahai, Abu Dzar. Sesungguhnya engkau lemah, dan sesungguhnya hal ini adalah amanah, dan ia merupakan kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat, kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya, dan menunaikannya (dengan sebaik-baiknya)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat pula di dalam Shahih Muslim, 1826, dari Abu Dzar, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنِّي أَرَاكَ ضَـعِـيْفاً، وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِـنَـفْسِيْ، لاَ تَـأَمَّـرَنَّ عَلَى اثْـنَـيْنِ، وَلاَ تَوَلَّـيَنَّ مَالَ يَـتِـيْمٍ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai, Abu Dzar. Sesungguhnya aku memandangmu orang yang lemah, sedangkan aku mencintai untukmu seperti aku mencintai untuk diriku. Janganlah kamu menjadi pemimpin (walaupun terhadap) dua orang (saja), dan janganlah kamu mengatur harta (anak) yatim".[21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Allah l senantiasa menjadikan kita sebagai orang-orang yang jujur, amanah, dan menjauhkan kita semua dari kelemahan, kedustaan, dan khianat. Hanya Allah sajalah Maha Pemberi taufiq. Wallahu a’lam bish shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’ &amp; Mashadir:&lt;br /&gt;1. Al Qur`an dan Terjemahnya, Cetakan Mujamma’ Malik Fahd, Saudi Arabia.&lt;br /&gt;2. Shahih al Bukhari, tahqiq Musthafa Dib al Bugha, Daar Ibni Katsir, al Yamamah, Beirut, Cet. III, Th. 1407 H/1987 M.&lt;br /&gt;3. Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Daar Ihya at Turats, Beirut.&lt;br /&gt;4. Sunan Abi Daud, tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Daar al Fikr.&lt;br /&gt;5. Jami’ at Tirmidzi, tahqiq Ahmad Muhammad Syakir dkk, Daar Ihya at Turats, Beirut.&lt;br /&gt;6. Musnad al Imam Ahmad, Mu’assasah Qurthubah, Mesir.&lt;br /&gt;7. An Nihayah Fi Gharib al Hadits wa al Atsar karya Ibnu al Atsir (544-606 H), tahqiq Khalil Ma’mun Syiha, Daar al Ma’rifah, Beirut-Libanon, Cet. I, Th 1422 H/ 2001 M.&lt;br /&gt;8. Al Kaba-ir, karya adz Dzahabi (673-748 H), tahqiq Abu ‘Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman, Maktabah al Furqan, ‘Ajman, Uni Emirat Arab, Cet. II, Th. 1424 H/ 2003 M.&lt;br /&gt;9. Ighatsatul Lahfaan fi Mashayid asy Syaithan, karya Ibnul (691-751 H), takhrij Muhammad Nashiruddin al Albani (1332-1420 H), tahqiq Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al Atsari, Daar Ibn al Jauzi, Dammam, KSA, Cet. I, Th. 1424 H.&lt;br /&gt;10. Fawa-id al Fawa-id, Syamsuddin Ibnu Qayyim al Jauziyah (751 H), tartib dan takhrij Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al Atsari, Daar Ibn al Jauzi, Dammam, KSA, Cet. V, Th. 1422 H.&lt;br /&gt;11. Zaadul Ma’ad, karya Ibnul Qayyim, tahqiq Syu’aib Al Arna’uth dan Abdul Qadir Al Arna’uth, Mu’assasah ar Risalah, Beirut, Libanon, cet III, th 1423 H/2002 M.&lt;br /&gt;12. Tafsir Ibnu Katsir (Tasir Al Qur’an Al ‘Azhim), karya Ibnu Katsir (700-774 H), tahqiq Sami bin Muhammad as Salamah, Daar ath Thayibah, Riyadh, Cet. I, Th. 1422 H/ 2002 M.&lt;br /&gt;13. Jami’ al Ulum wa al Hikam fi Syarhi Khamsina Haditsan min Jawami’ al Kalim, karya Ibnu Rajab al Hanbali (736-795 H), tahqiq Syu’aib Al Arna-uth dan Ibrahim Bajis, Mu’assasah ar Risalah, Beirut, Libanon, Cet. VII, Th. 1422 H/ 2001 M.&lt;br /&gt;14. Tuhfatul Ahwadzi Syarh Sunan at Tirmidzi, karya al Mubarakfuri (1283-1353 H), Daar al Kutub al Ilmiah, Beirut.&lt;br /&gt;15. Shahih Sunan Abi Daud, karya al Albani (1332-1420 H), Maktabah Al Ma’arif, Riyadh.&lt;br /&gt;16. Shahih Sunan at Tirmidzi, karya al Albani (1332-1420 H), Maktabah al Ma’arif, Riyadh.&lt;br /&gt;17. Shahih al Jami’ ash Shaghir, karya al Albani (1332-1420 H), Al Maktab al Islami.&lt;br /&gt;18. As Silsilah as Shahihah, karya al Albani (1332-1420 H), Maktabah al Ma’arif, Riyadh.&lt;br /&gt;19. Irwa-ul Ghalil fi Takhriji Ahaditsi Manar as Sabil, karya al Albani (1332-1420 H), al Maktab al Islami, Beirut, Cet. II, Th. 1405 H/ 1985 M.&lt;br /&gt;20. Shahih at Targhib wa at Tarhib, karya al Albani (1332-1420 H), Maktabah al Ma’arif, Riyadh, Cet. I, Th. 1421 H/ 2000 M.&lt;br /&gt;21. Kaifa yu-addi al Muwazhzhaf al Amanah, Abdul Muhsin bin Hamd al ‘Abbad al Badr, ad Daar al Haditsah, Mesir, Cet. I. Th. 1425 H/ 2004 M.&lt;br /&gt;22. Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadh ash Shalihin, Salim bin ‘Id al Hilali, Daar Ibn al Jauzi, Dammam, KSA, Cet. VI, Th. 1422 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;br /&gt;________&lt;br /&gt;Footnote&lt;br /&gt;[1]. Fawa-id al Fawa-id, hlm. 193-195, dan 215-231.&lt;br /&gt;[2]. An Nihayah fi Gharib al Hadits wa al Atsar (1/80).&lt;br /&gt;[3]. Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (6/488-489).&lt;br /&gt;[4]. Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ at Tirmidzi (4/400).&lt;br /&gt;[5]. Lihat ta’liq (komentar) beliau dalam kitab al Kabair, hlm. 282.&lt;br /&gt;[6]. Bahjatun Nazhirin Syarhu Riyadh ash Shalihin (1/288).&lt;br /&gt;[7]. Dari khuthbah Jum’at yang beliau sampaikan di Masjid Nabawi, al Madinah an Nabawiyah, KSA, pada tanggal 13 Rabi’ul Awwal 1426 H, yang bertema ‘Izhamu Qadril Amanah (Agungnya Kedudukan Amanah).&lt;br /&gt;[8]. Berkaitan dengan hadits yang dibawakan oleh al Hafizh Ibnu Katsir t di dalam kitab tafsirnya (2/339) ini, pentahqiq Sami bin Muhammad as Salamah berkata: “Saya tidak mendapatkan hadits ini diriwayatkan dari jalan Samurah Radhiyallahu 'anhu, akan tetapi hadits ini diriwayatkan oleh:&lt;br /&gt;1. Imam Ahmad di dalam Musnadnya (3/414), dari seseorang, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam .&lt;br /&gt;2. At Tirmidzi di dalam Sunannya nomor (1264), dan Abu Dawud di dalam Sunannya nomor (3535), dari jalan Thalq bin Ghannam, dari Syarik dan Qais, dari Abu Hushain, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu. Dan at Tirmidzi berkata,"Hadits hasan Gharib”. Dan Abu Hatim berkata,"Hadits munkar, tidak ada yang meriwayatkan hadits ini melainkan Thalq saja”. (Lihat al ‘Ilal (1/375). Lebih lanjut lihat catatan kaki pentahqiq kitab tafsir Ibnu Katsir tersebut.&lt;br /&gt;[9]. Lihat pula risalah Kaifa yu-addi al Muwazhzhaf al Amanah, hlm. 4-5.&lt;br /&gt;[10]. Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (4/41).&lt;br /&gt;[11]. Tafsir al Qur’an al ‘Azhim (6/489).&lt;br /&gt;[12]. Muttafaq ‘alaih, lihat takhrij ringkasnya pada footnote nomor 17.&lt;br /&gt;[13]. HR Abu Dawud (3/290 no. 3535), at Tirmidzi (3/564 no. 1264), dan lain-lain. Hadits ini dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani -rahimahullah- di dalam Shahih Sunan Abi Dawud, Shahih Sunan at Tirmidzi, Shahih al Jami’ (240), as Silsilah ash Shahihah (1/783 no. 423-424), dan Irwa-ul Ghalil (5/381 no. 1544).&lt;br /&gt;[14]. Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ at Tirmidzi (4/400).&lt;br /&gt;[15]. al Kabair, hlm. 282.&lt;br /&gt;[16]. HR al Bukhari (1/33 no. 59) dan (5/2382 no. 6131), Ahmad (2/361 no. 8714), dan lain-lain.&lt;br /&gt;[17]. HR al Bukhari (1/21 no. 33, 2/952 no. 2536, 3/1010 no. 2598, 5/2262 no. 5744), Muslim (1/78 no. 59), dan lain-lain.&lt;br /&gt;[18]. HR Ahmad (3/135, 154, 210, 251), dan lain-lain. Hadits ini dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani t di dalam Shahih al Jami’ (7179), Shahih at Targhib wa at Tarhib (3/156 no. 3004), dan lain-lain. Lihat pula takhrij asy Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman -hafizhahullah- terhadap hadits ini dalam kitab al Kabair, hlm. 280-282.&lt;br /&gt;[19]. Lihat ta’liq (komentar) beliau terhadap hadits ini dalam kitab al Kabair, hlm. 282.&lt;br /&gt;[20]. HR Ahmad (2/199 no. 6872), dan lain-lain. Hadits ini dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani t di dalam as Silsilah ash Shahihah (5/360).&lt;br /&gt;[21]. Lihat risalah beliau yang berjudul Kaifa yu-addi al Muwazhzhaf al Amanah, hlm. 13-15. &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-2864303886439525965?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/2864303886439525965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/siapakah-yang-layak-diberi-amanah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/2864303886439525965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/2864303886439525965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/siapakah-yang-layak-diberi-amanah.html' title='SIAPAKAH YANG LAYAK DIBERI AMANAH?'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-4038066562958138450</id><published>2010-04-27T22:21:00.001+07:00</published><updated>2010-04-27T22:21:33.175+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Adab Dan Perilaku'/><title type='text'>ADAB dan ETIKA BERGAUL</title><content type='html'>Cita-cita tertinggi seorang muslim, ialah agar dirinya dicintai Allah, menjadi orang bertakwa yang dapat diperoleh dengan menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak manusia. diantara tanda-tanda seseorang dicintai Allah, yaitu jika dirinya dicintai olah orang-orang shalih, diterima oleh hati mereka. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi was sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril, “Sesungguhnya Aku mencintai si fulan, maka cintailah ia.”Lalu Jibril mencintainya dan menyeru kepada penduduk langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah ia.”Maka (penduduk langit) mencintainya, kemudian menjadi orang yang diterima di muka bumi.” [Hadits Bukhari dan Muslim,dalam Shahih Jami’ush Shaghir no.283]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara sifat-sifat muslim yang dicintai oleh orang-orang shalih di muka bumi ini, diantaranya ia mencintai mereka karena Allah, berakhlak kepada manusia dengan akhlak yang baik, memberi manfaat, melakukan hal-hal yang disukai manusia dan menghindari dari sikap-sikap yang tidak disukai manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa dalil yang menguatkan keterangan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Pergauilah mereka (isteri) dengan baik”. [An-Nisaa : ’1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”. [Ali-Imran : 134]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Bertakwalah engkau dimanapun engkau berada, Sertailah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan.Dan berakhlaklah kepada manusia dengan akhlak yang baik” [HR.Tirmidzi, ia berkata :Hadits hasan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Seutama-utama amal Shalih, ialah agar engkau memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman”.[HR.Ibn Abi Dunya dan dihasankan olah Syaikh Al-Albani dalam Shahih Jami’ush Shaghir 1096]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;URGENSI PEMBAHASAN ETIKA BERGAUL&lt;br /&gt;Adab bergaul dengan manusia merupakan bagian dari akhlakul karimah (akhlak yang mulia). akhlak yang mulia itu sendiri merupakan bagian dari dienul Islam. Walaupun prioritas pertama yang diajarkan olah para Nabi adalah tauhid, namun bersamaan dengan itu, mereka juga mengajarkan akhlak yang baik. Bahkan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam diutus untuk menyempurnakan akhlak. beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam adalah seorang manusia yang berakhlak mulia. Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung”.[Al-Qalam 4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kita diperintahkan untuk mengikuti beliau, taat kepadanya dan menjadikannya sebagai teladan dalam hidup. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu contoh teladan yang baik” [Al-Ahzab 21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mempraktekkan adab-adab dalam bergaul, maka kita akan memperoleh manfaat, yaitu berupa ukhuwah yang kuat diantara umat Islam, ukhuwah yang kokoh, yang dilandasi iman dan keikhlasan kepada Allah. Allah telah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan berpegang teguhlah kalian denga tali (agama ) Allah bersama-sama , dan janganlah kalian bercerai-berai, Dan ingatlah nikmat Allah yang telah Allah berikan kepada kalian, ketika kalian dahulu bermusuh-musuhan, lalu Allah lunakkan hati-hati kalian sehingga dengan nikmat-Nya, kalian menjadi bersaudara, padahal tadinya kalian berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menjelaskan kepada kalian ayat-ayatnya, agar kalian mendapat petunjuk” [Al-Imran : 103]&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, adab-adab bergaul ini sangat perlu dipelajari untuk kita amalkan. kita harus mengetahui, bagaimana adab terhadap orang tua, adab terhadap saudara kita, adab terhadap istri kita, adab seorang istri terhadap suaminya, adab terhadap teman sekerja atau terhadap atasan dan bawahan. Jika kita seorang da’i atau guru, maka harus mengetahui bagaimana adab bermuamalah dengan da’i atau lainnya dan dengan mad’u (yang didakwahi) atau terhadap muridnya. Demikian juga apabila seorang guru, atau seorang murid atau apapun jabatan dan kedudukannya, maka kita perlu untuk mengetahui etika atau adab-adab dalam bergaul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang mempraktekkan etika bergaul, menyebabkan dakwah yang haq dijauhi oleh manusia. Manusia menjadi lari dari kebenaran disebabkan ahli haq atau pendukung kebenaran itu sendiri melakukan praktek yang salah dalam bergaul dengan orang lain. Sebenarnya memang tidaklah dibenarkan seseorang lari dari kebenaran, disebabkan kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika inti ajaran yang dibawa oleh seseorang itu benar, maka kita harus menerimanya, dengan tidak memperdulikan cara penyampaiannya yang benar atau salah, etikanya baik atau buruk, akan tetapi pada kenyataannya, kebanyakan orang melihat dulu kepada etika orang itu. Oleh karena itu, mengetahui etika ini penting bagi kita, sebagai muslim yang punya kewajiban saling menasehati sesama manusia, agar bisa mempraktekkan cara bergaul yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MOTIVASI DALAM BERGAUL&lt;br /&gt;Faktor yang mendorong seorang muslim dalam bergaul dengan orang lain ialah semata-mata mencari ridha Allah. ketika seorang muslim tersenyum kepada saudaranya, maka itu semata-mata mencari ridha Allah, karena tersenyum merupakan perbuatan baik. Demikian juga ketika seorang muslim membantu temannya atau ketika mendengarkan kesulitan-kesulitan temannya, ketika menepati janji, tidak berkata-kata yang menyakitkan kepada orang lain, maka perbuatan-perbuatan itu semata-mata untuk mencari ridha Allah, Demikianlah seharusnya. jangan sebaliknya, yaitu, bertujuan bukan dalam rangka mencari ridha Allah. Misalnya : bermuka manis kepada orang lain, menepati janji, berbicara lemah-lembut, semua itu dilakukan karena kepentingan dunia. atau ketika berurusan dalam perdagangan, sikapnya ditunjukkan hanya semata-mata untuk kemaslahatan dunia. tingkah laku seperti ini yang membedakan antara muslim dengan non muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja seorang muslim bermuamalah dengan sesamanya karena tujuan dunia semata. Seseorang mau akrab, menjalin persahabatan disebabkan adanya keuntungan yang didapatnya dari orang lain. Manakala keuntungan itu tidak didapatkan lagi, maka ia berubah menjadi tidak mau kenal dan akrab lagi. Atau seseorang senang ketika oramg lain memberi sesuatu kepadanya, akan tetapi ketika sudah tidak diberi, kemudian berubah menjadi benci. Hal seperti itu bisa terjadi pada diri seorang muslim. Sikap seperti itu merupakan perbuatan salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Imam Ibn Qayyim rahimahullah menjelaskan dalam kitab Zaadul Ma’ad juz ke-4 hal 249 : “Diantara kecintaan terhadap sesama muslim ada yang disebut mahabbatun linaili gharadlin minal mahbud, yaitu suatu kecintaan untuk mencapai tujuan dari yang dicintainya, bisa jadi tujuan yang ingin ia dapatkan dari kedudukan orang tersebut, atau hartanya, atau ingin mendapatkan manfaat berupa ilmu dan bimbingan orang tersebut, atau untuk tujuan tertentu; maka yang demikian itu disebut kecintaan karena tendensi. atau karena ada tujuan yang ingin dicapai, kemudian kecintaan ini akan lenyap pula seiring dengan lenyapnya tujuan tadi. Karena sesungguhnya, siapa saja yang mencintaimu dikarenakan adanya suatu keperluan, maka ia akan berpaling darimu jika telah tercapai keinginannya”. hal seperti ini sering terjadi dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya :seorang karyawan sangat menghormati dan perhatian kepada atasannya di tempat kerja. tetapi apabila atasannya itu sudah pensiun atau sudah tidak menjabat lagi, karyawan ini tidak pernah memikirkan dan memperhatikannya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga ketika seseorang masih menjadi murid, sangat menghormati gurunya. Namun ketika sudah lulus (tidak menjadi muridnya lagi), bahkan sekolahnya sudah lebih tinggi dari gurunya itu, bertemu di jalan pun enggan untuk menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang yang berteman akrab hanya sebatas ketika ada kepentingannya saja.yakni ketika menguntungkannya, dia akrab, sering mengunjungi, berbincang-bincang dan memperhatikannya.namun ketika sudah tidak ada keuntungan yang bisa didapatnya, kenal pun tidak mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga seseorang yang hanya hormat kepada orang kaya saja. Adapun kepada orang miskin, memandang pun sudah tidak mau. Hal semacam ini bukan berasal aturan-aturan Islam. menilai seseorang hanya dikarenakan hartanya, hanya karena nasabnya, hanya karena ilmunya, yaitu jika kepada orang yang berilmu dia hormat dan menyepelekan kepada orang yang tak berilmu. hal-hal seperti itu merupakan perbuatan yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan dalam Majmu’Fatawa juz 10, beliau berkata: “Jiwa manusia itu telah diberi naluri untuk mencintai orang yang berbuat baik kepadanya, namun pada hakekatnya sesungguhnya hal itu sebagai kecintaan kepada kebaikan, bukan kepada orang yang telah berbuat baik.apabila orang yang berbuat baik itu memutuskan kebaikannya atau perbuatan baiknya, maka kecintaannya akan melemah, bahkan bisa berbalik menjadi kebencian. Maka kecintaan demikian bukan karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa yang mencintai orang lain dikarenakan dia itu memberi sesuatu kepadanya, maka dia semata-mata cinta kepada pemberian. Dan barang siapa yang mengatakan: “saya cinta kepadanya karena Allah”, maka dia pendusta. Begitu pula, barang siapa yang menolongnya, maka dia semata-mata mencintai pertolongan, bukan cinta kepada yang menolong. Yang demikian itu, semuanya termasuk mengikuti hawa nafsu. Karena pada hakekatnya dia mencintai orang lain untuk mendapatkan manfaat darinya, atau agar tehindar dari bahaya. Demikianlah pada umumnya manusia saling mencintai pada sesamanya, dan yang demikian itu tidak akan diberi pahala di akhirat, dan tidak akan memberi manfaat bagi mereka. Bahkan bisa jadi hal demikian itu mengakibatkan terjerumus pada nifaq dan sifat kemunafikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan Ibn Taimiyah rahimahullah ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Az-Zukhruf 67,artinya: “teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang bertakwa. adapun orang-orang bertakwa, persahabatan mereka akan langgeng sampai di alam akhirat, karena didasari lillah dan fillah. Yaitu cinta karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, bagi orang-orang yang tidak bertakwa, di akhirat nanti mereka akan menjadi musuh satu sama lain. Persahabatan mereka hanya berdasarkan kepentingan dunia. Diantara motto mereka ialah: “Tidak ada teman yang abadi, tidak ada musuh yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang abadi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar persahabatan mereka bukan karena dien, tetapi karena kepentingan duniawi. Berupa ambisi untuk mendapatkan kekuasaan, harta dan sebagainya dengan tidak memperdulikan apakah cara yang mereka lakukan diridhoi Allah, sesuai dengan aturan-aturan Islam ataukah tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sumber : Majalah As-Sunnah edisi 03 – 04/ V11/ 1424/ 2003 M. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah, Jl Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-4038066562958138450?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/4038066562958138450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/adab-dan-etika-bergaul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/4038066562958138450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/4038066562958138450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/adab-dan-etika-bergaul.html' title='ADAB dan ETIKA BERGAUL'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-5686202229685252913</id><published>2010-04-27T21:58:00.001+07:00</published><updated>2010-04-27T21:58:20.897+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shalat'/><title type='text'>MEMAHAMI POSISI IMAM DAN MA'MUM DALAM SHALAT BERJAMA'AH</title><content type='html'>Shalat berjamaah merupakan salah satu syiar Islam. Ia dapat menjadi media pemersatu hati kaum Muslimin. Berkumpulnya kaum Muslimin di rumah Allah untuk menunaikan ibadah dipimpin oleh seorang imam, yang tentunya membutuhkan aturan secara lengkap dan jelas. Semua itu diperlukan, karena sebagai kebutuhan, sehingga kaum Muslimin mengetahui aturan yang jelas saat berinteraksi dalam beribadah di tempat yang satu. Begitu juga saat melakukan shalat berjamaah, hendaklah setiap kaum Muslimin mengetahui tentang hal itu, sehingga tidak terjadi pelanggaran terhadap syariat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAPA YANG LEBIH BERHAK MENJADI IMAM?&lt;br /&gt;Jika di suatu masjid terdapat imam rawatibnya, maka yang lebih berhak menjadi imam adalah imam rawatib yang ditunjuk oleh penguasa atau pengurus masjid. Kalau tidak ada, maka yang didahulukan ialah orang yang lebih banyak memiliki hafalan al Qur’an dan lebih memahami hukum Islam. Apabila di kalangan para jamaah setara, maka didahulukan yang lebih pandai dan lebih mengetahui tentang sunnah-sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Apabila juga setara, maka didahulukan orang yang lebih dahulu berhijrah. Apabila sama juga, maka didahulukan yang lebih tua usianya.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semua berdasarkan pada beberapa hadits di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Hadits Abu Sa’id al Khudri :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ وَأَحَقُّهُمْ بِالْإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Apabila mereka tiga orang, maka hendaklah seorang dari mereka menjadi imam shalat mereka, dan yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling baik bacaan al Qur`annya" [HR Muslim 672]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Hadits Abu Mas’ud al Anshari, ia menyatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ وَأَقْدَمُهُمْ قِرَاءَةً فَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَتُهُمْ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا وَلَا تَؤُمَّنَّ الرَّجُلَ فِي أَهْلِهِ وَلَا فِي سُلْطَانِهِ وَلَا تَجْلِسْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا أَنْ يَأْذَنَ لَكَ أَوْ بِإِذْنِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada kami: "Hendaknya yang menjadi imam shalat suatu kaum adalah yang paling hafal al Qur`an dan paling baik bacaannya. Apabila dalam bacaan mereka sama, maka yang berhak menjadi imam adalah yang paling dahulu hijrahnya. Apabila mereka sama dalam hijrah, maka yang berhak menjadi imam adalah yang paling tua. Janganlah kalian menjadi imam atas seseorang pada keluarga dan kekuasaannya, dan jangan juga menduduki permadani di rumahnya, kecuali ia mengizinkanmu atau dengan izinnya" [HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab al Masaajid wa Mawadhi’ Shalat, Bab Man Ahaqqu bil Imamah, no. 1709]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, hal ini tidak termasuk syarat sahnya shalat berjamaah, karena seseorang diperbolehkan menjadi imam bagi orang yang lebih berhak menjadi imam darinya, sebagaimana kisah Nabi. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat di belakang Abu Bakar sebagaimana dijelaskan dalam hadits 'Aisyah, ia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَمَّا مَرِضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَضَهُ الَّذِي مَاتَ فِيهِ فَحَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَأُذِّنَ فَقَالَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَقِيلَ لَهُ إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ أَسِيفٌ إِذَا قَامَ فِي مَقَامِكَ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّيَ بِالنَّاسِ وَأَعَادَ فَأَعَادُوا لَهُ فَأَعَادَ الثَّالِثَةَ فَقَالَ إِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ فَخَرَجَ أَبُو بَكْرٍ فَصَلَّى فَوَجَدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَفْسِهِ خِفَّةً فَخَرَجَ يُهَادَى بَيْنَ رَجُلَيْنِ كَأَنِّي أَنْظُرُ رِجْلَيْهِ تَخُطَّانِ مِنْ الْوَجَعِ فَأَرَادَ أَبُو بَكْرٍ أَنْ يَتَأَخَّرَ فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ مَكَانَكَ ثُمَّ أُتِيَ بِهِ حَتَّى جَلَسَ إِلَى جَنْبِهِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sakit di akhir hayatnya, lalu datanglah waktu shalat dan Bilal telah beradzan, maka beliau berkata: "Perintahkan Abu Bakar agar mengimami shalat," lalu ada yang berkata kepada beliau : "Sungguh Abu Bakr seorang yang lembut hati. Apabila menggantikan kedudukanmu, ia tidak dapat mengimami orang banyak". Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengulangi lagi (perintahnya) dan merekapun mengulangi (pernyataan tersebut), lalu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengulanginya yang ketiga dan berkata: "Kalian ini seperti wanita-wanita dalam kisah Yusuf[2]. Perintahkan Abu Bakar agar mengimami orang shalat," lalu Abu Bakar berangkat dan mengimami shalat. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam merasakan sakitnya agak ringan, lalu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar dengan bersandar pada dua orang, seakan-akan aku melihat kakinya gontai (tidak mantap dalam melangkah) karena rasa sakit. Lalu Abu Bakar ingin mundur, maka beliau memberikan isyarat untuk tetap di tempatnya, kemudian mendatanginya dan duduk di sebelah Abu Bakar" [HR al Bukhari, kitab al Adzan, hadits 2641]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini, secara jelas menunjukkan bolehnya seseorang mengimami orang yang lebih berhak menjadi imam darinya. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAPAKAH YANG SAH MENJADI IMAM&lt;br /&gt;Semua orang yang sah shalatnya, ia dapat menjadi imam atau sah menjadi imam dalam shalat. Namun ada orang-orang yang dianggap oleh sebagian orang tidak pantas menjadi imam, padahal mereka sah menjadi imam, di antaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Orang buta. &lt;br /&gt;Orang buta memiliki kedudukan yang sama dengan orang yang melihat. Dia dapat dijadikan imam dalam shalat. Hal ini didasarkan pada hadits Mahmud bin ar Rabi’ :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ كَانَ يَؤُمُّ قَوْمَهُ وَهُوَ أَعْمَى &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya ‘Itbaan bin Malik, dahulu mengimami shalat kaumnya" [Muttafaqun ‘alaihi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pernyataan Aisyah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اسْتُخْلِفَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُوْمٍ عَلَى الْمَدِيْنَةِ يُصَلِّيْ بِالنَّاسِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibnu Umi Maktum dijadikan pengganti (Rasulullah) di Madinah mengimami shalat penduduknya" [HR Ibnu Hibban dan Abu Ya’la. Dikatakan penulis kitab Shahih Fiqhus Sunnah, bahwa hadits ini shahih li ghairihi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Hamba sahaya atau yang telah dimerdekakan. &lt;br /&gt;Keabsahannya didasarkan kepada pernyataan Ibnu Umar yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَمَّا قَدِمَ الْمُهَاجِرُونَ الْأَوَّلُونَ الْعُصْبَةَ مَوْضِعٌ بِقُبَاءٍ قَبْلَ مَقْدَمِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَؤُمُّهُمْ سَالِمٌ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ وَكَانَ أَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika kaum Muhajirun yang awal-awal datang ke al ‘Ushbah, suatu tempat di Quba’; sebelum kedatangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang menjadi imam shalat mereka adalah Saalim maula Abu Hudzaifah, dan dialah yang terbanyak hafalan al Qur`annya" [HR al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab al Adzan, Bab Imamatul al ‘Abdi wal Maula, no. 651]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Anak kecil yang mumayyiz. &lt;br /&gt;Hal ini didasarkan pada pernyataan Amru bin Salamah yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلَمَّا كَانَتْ وَقْعَةُ أَهْلِ الْفَتْحِ بَادَرَ كُلُّ قَوْمٍ بِإِسْلَامِهِمْ وَبَدَرَ أَبِي وَ قَوْمِي بِإِسْلَامِهِمْ فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ جِئْتُكُمْ وَاللَّهِ مِنْ عِنْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقًّا فَقَالَ صَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا وَصَلُّوا صَلَاةَ كَذَا فِي حِينِ كَذَا فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا فَنَظَرُوا فَلَمْ يَكُنْ أَحَدٌ أَكْثَرَ قُرْآنًا مِنِّي لِمَا كُنْتُ أَتَلَقَّى مِنْ الرُّكْبَانِ فَقَدَّمُونِي بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَأَنَا ابْنُ سِتٍّ أَوْ سَبْعِ سِنِينَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika terjadi penaklukan penduduk kota Makkah, maka setiap kaum bersegera masuk Islam dan bapak dan kaumku segera masuk Islam. Ketika dating, ia berkata: "Demi Allah, aku membawa kepada kalian dari sisi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sebuah kebenaran," lalu ia berkata,"Lakukanlah shalat ini, pada waktu ini, dan shalat itu pada waktu itu. Apabila datang waktu shalat, hendaklah salah seorang kalian beradzan, dan yang mengimami shalat kalian adalah yang paling banyak hafalan al Qur’annya." Lalu mereka melihat, dan tidak mendapati seorangpun yang lebih banyak hafalannya dariku, karena aku sering menemui orang yang datang. Maka mereka menunjukku sebagai imam shalat, padahal usiaku baru enam atau tujuh tahun" [HR al Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Orang fasiq yang tidak keluar dari Islam. &lt;br /&gt;Hal ini didasarkan pada dalil naqli dan aqli. Diantaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Keumuman sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hendaknya yang menjadi imam shalat suatu kaum adalah yang paling hafal al Qur`an" [HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab al Masaajid wa Mawadhi’ Shalat, Bab Man Ahaqqu bil Imamah, no. 1709].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini mencakup fasiq, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kekhususan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada pemimpin zhalim, yang shalat diluar waktunya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صَلُّوا الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا وَاجْعَلُوا صَلَاتَكُمْ مَعَهُمْ نَافِلَةً &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Shalatlah kalian pada waktunya, dan jadikanlah shalat kalian bersama mereka sebagai nafilah (sunnah)". [HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab al Masaajid, Bab Karahiyat Ta’khir ash Shalat, no. 1033]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يُصَلُّونَ لَكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka mengimami kalian shalat; apabila mereka benar, maka kalian mendapatkan pahalanya; dan apabila mereka salah, kalian tetap mendapatkan pahalanya, dan dosanya ditanggung oleh mereka". [HR al Bukhari dalam Shahih-nya, kitab al Adzan, Bab Idza lam Yutim al Imam wa Atamma Man Khalfaha, no. 653]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Amalan para sahabat pada zaman al Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafi, di antaranya Ibnu 'Umar yang shalat di belakang al Hajjaj, sedangkan al Hajjaj adalah seorang fasiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Sedangkan dalil aqli, dikatakan, semua yang shalatnya sah, maka sah juga menjadi imam. Tidak ada dalil yang membedakan antara keabsahan shalat dengan keabsahan imam. Selama ia masih shalat bagaimana kita tidak shalat dibelakangnya, karena apabila ia bermaksiat, maka maksiatnya kembali kepadanya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan: "Orang fasiq dan mubtadi’, shalatnya sah. Apabila ma'mum shalat di belakangnya, maka shalatnya tidak batal. Namun dimakruhkan oleh orang yang memakruhkan shalat di belakangnya, karena amar makruf nahi mungkar wajib. Oleh karena itu, orang yang menampakkan bid'ah atau kefajiran, ia tidak boleh menjadi imam rawatib bagi kaum Muslimin, karena ia pantas diberi pelajaran hingga bertaubat. Apabila memungkinkan, (boleh) memboikotnya hingga ia bertaubat, maka hal itu baik. Apabila sebagian orang tertentu tidak shalat di belakangnya dan shalat di belakang orang lain memiliki pengaruh hingga ia bertaubat, atau dipecat, atau orang-orang berhenti melakukan dosa sepertinya, maka yang seperti ini baik, apabila meninggalkan shalat di belakangnya memiliki maslahat dan tidak kehilangan jamaah dan Jum’at. Adapun bila tidak shalat di belakangnya menyebabkan ma'mum kehilangan Jum’at dan jamaah, maka disini tidak meninggalkan shalat di belakang mereka, kecuali mubtadi’ yang menyelisihi para sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam"[3]. Demikianlah yang dirajihkan Syaikh Ibnu 'Utsaimin ketika menyatakan, bahwa pendapat yang rajih adalah sah shalat di belakang orang fasiq. Sehingga, apabila seorang shalat di belakang imam yang mencukur jenggot atau merokok atau memakan riba atau pezina atau pencuri, maka shalatnya tetap sah.[4] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5). Orang yang belum diketahui apakah fasiq ataukah tidak. &lt;br /&gt;Dalam permasalahan ini, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : "Seseorang diperbolehkan melakukan shalat lima waktu dan Jum’at serta yang lainnya, di belakang orang yang belum diketahui kebid'ahan dan kefasikannya, menurut kesepakatan imam fiqih yang empat dan selain mereka dari imam-imam kaum Muslimin. Bukan menjadi syarat bagi seorang ma'mum harus mengetahui i’tikad (keyakinan) imamnya, dan tidak pula mengujian, hingga menanyakan 'apa yang engkau yakini?'."[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, apabila sah shalat di belakang orang fasiq, maka shalat di belakang orang yang belum jelas kefasikannya lebih pantas untuk disahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6). Wanita menjadi imam untuk kaum wanita. &lt;br /&gt;Hal ini dilakukan sebagian sahabat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, di antaranya 'Aisyah dan Ummu Salamah, dan tidak ada seorang sahabatpun yang mengingkarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGAIMANA POSISI IMAM DAN MA’MUM?&lt;br /&gt;Agar dapat melaksanakan shalat berjamaah sesuai dengan syariat Islam, seorang imam maupun ma'mum, tidak lepas dari keadaan berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Ma'mum sendirian bersama imam (dalam hal ini, imam dengan satu orang ma'mum).&lt;br /&gt;Bila seseorang berma'mum sendirian, maka posisinya berdiri di samping kanan sejajar dengan imam. Dasarnya adalah, kisah Ibnu Abbas dalam shalat bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقُمْتُ فَصَنَعْتُ مِثْلَ مَا صَنَعَ ثُمَّ ذَهَبْتُ فَقُمْتُ إِلَى جَنْبِهِ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رَأْسِي وَأَخَذَ بِأُذُنِي الْيُمْنَى يَفْتِلُهَا فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ أَوْتَرَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibnu 'Abbas berkata: "Lalu aku bangun dan berbuat seperti yang beliau perbuat. Kemudian aku pergi dan tegak di sampingnya, lalu beliau menempatkan tangan kanannya di kepalaku dan mengambilnya, dan menarik telinga kananku, lalu shalat dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian witir". [Muttafaqun 'alaihi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). Imam bersama dua orang ma'mum.&lt;br /&gt;Apabila imam mendapatkan ma'mum hanya dua orang, maka hendaklah kedua ma'mum tersebut berdiri di belakang imam membentuk satu barisan. Hal ini didasarkan pada hadits Jabir yang panjang, yang sebagiannya berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثُمَّ جِئْتُ حَتَّى قُمْتُ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ بِيَدِي فَأَدَارَنِي حَتَّى أَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ ثُمَّ جَاءَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ فَقَامَ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدَيْنَا جَمِيعًا فَدَفَعَنَا حَتَّى أَقَامَنَا خَلْفَهُ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemudian aku datang sampai berdiri di sebelah kiri Rasulullah, lalu beliau memegang tanganku dan menarikku hingga membuatku berdiri di sebalah kanannya. Kemudian datang Jabbaar bin Shakhr, lalu ia berwudhu kemudian datang dan berdiri di sebelah kiri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memegang tangan kami berdua dan mendorong kami hingga membuat kami berdiri di belakang beliau" [HR Muslim dalam Shahih-nya, kitab az Zuhud wal Raqaiq Wa …, no. 5328].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3). Imam bersama lebih dari dua orang ma'mum. &lt;br /&gt;Apabila terdapat lebih dari dua orang ma'mum bersama imam, maka ma'mum berdiri di belakang imam dalam satu barisan, demikian menurut kesepakatan ulama.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4). Ma'mum mendapatkan shaf (barisan) shalat sudah penuh, sehingga ia tidak dapat masuk ke shaf.&lt;br /&gt;Dalam keadaan demikian, maka ma'mum jangan shalat sendirian di belakang shaf (barisan), akan tetapi berusaha maju ke depan hingga berdiri di samping imam, sebagaimana dilakukan Rasulullah -ketika beliau sakit- bersama Abu Bakar yang ditunjuk menggantikan mengimami shalat. Disebutkan dalam sebuah riwayat yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِذَاءَ أَبِي بَكْرٍ إِلَى جَنْبِهِ فَكَانَ أَبُو بَكْرٍ يُصَلِّي بِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ أَبِي بَكْرٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam duduk sejajar Abu Bakar di sampingnya. Waktu itu, Abu Bakar shalat ikut shalat Rasulullah, dan orang-orang shalat mengikuti shalat Abu Bakar" [Muttafaqun ‘alaihi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lajnah ad Daimah lil Buhuts al Islamiyah al Ifta’ (Komite tetap untuk penelitian Islam dan fatwa Saudi Arabia), ketika menjawab pertanyaan seputar masalah ini menyatakan, apabila seseorang masuk masjid dan mendapatkan shalat telah ditegakkan, dan shaf telah penuh, maka hendaklah ia berusaha masuk dalam barisan. Apabila tidak bisa, maka ia masuk berdiri bersama imam dan berada di sebelah kanannya. Apabila ini juga tidak bisa, maka hendaknya menunggu sampai datang orang yang menemaninya di shaf (baru). Jika tidak ada seorang yang menemaninya, maka ia shalat sendirian setelah selesai shalat berjamaah.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan ini menunjukkan, ma'mum yang dalam keadaan demikian, ia tidak menarik salah seorang ma'mum lainnyanya sebagaimana banyak terjadi di kalangan kaum Muslimin dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu Komite tetap untuk penelitian Islam dan fatwa Saudi Arabia berfatwa tentang hal ini: Seorang yang masuk masjid tidak mendapatkan celah dalam barisan (shof) dan tidak bisa baris disebelah kanan imam dan shalat hampir selesai, maka menunggu orang lain yang masuk untuk membuat shof (barisan) dengannya. Apabila tidak mendapatkannya maka hendaknya shalat dengan jamaah lain. Jika juga tidak ada, maka shalat sendirian setelah imam salam, dan ia tidak berdosa, dengan dalil firman Allah : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu" [at Taghabun/64:16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apabila aku perintahkan kalian berbuat sesuatu, maka kerjakanlah semampu kalian".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini karena shalat adalah ibadah, dan ibadah itu harus tauqifiyah. Padahal hadits larangan shalat sendirian di belakang shaf (barisan) shahih dan bersifat umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلاَ دَخَلْتَ مَعَهُمْ أَوْ ادْتَرَرْتَ رَجُلاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kenapa kamu tidak masuk berbaris dengan mereka atau menarik seorang?) ini adalah hadits dhaif (lemah). Demikian juga, apabila orang itu menerima ajakan orang yang manariknya, maka shaf menjadi tidak penuh (ada celahnya), padahal kita diperintahkan untuk menyempurnakan dan menutup celah shaf dalam shalat.[8] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5). Wanita berma'mum dengan seorang imam laki-laki. &lt;br /&gt;Seorang wanita bila berma'mum kepada seorang laki-laki, maka ia berdiri di belakang shaf laki-laki, walaupun ia sendirian. Demikian juga bila shalat sendirian bersama imam laki-laki, maka ia berdiri di belakangnya, dan tidak di sebelah kanannya. Semua ini berdasarkan hadits-hadits di bawah ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Hadits Anas yang berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمِّي أُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku shalat bersama seorang anak yatim di rumah kami di belakang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan ibuku Ummu Sulaim di belakang kami" [Muttafaqub ‘alaihi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Hadits Anas yang berbunyi: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِ وَبِأُمِّهِ أَوْ خَالَتِهِ قَالَ فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ وَأَقَامَ الْمَرْأَةَ خَلْفَنَا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengimami Anas bin Malik dan ibunya atau bibinya, Anas berkata,"Lalu Rasulullah menjadikan aku berdiri di sebelah kanannya dan wanita di belakang kami." [HR Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6). Wanita shalat dengan imam wanita.&lt;br /&gt;Apabila seorang wanita shalat berjamaah mengimami sesamanya, maka ia berdiri di tengahnya dan tidak maju ke depan. Dicontohkan 'Aisyah dan Ummu Salamah, dari Rabthah al Hanafiyah, ia berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ عَائِشَةَ أَمَّتْهُنَّ وَ قَامَتْ بَيْنَهُنَّ فِيْ صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya 'Aisyah mengimami mereka dan berdiri diantara mereka dalam satu shalat wajib" [HR Abdurrazaq, Al daraquthni dan Al Baihaqi dan dihukumi penulis Shohih Fiqih Sunnah hadits shohih Lighoriihi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga Abu Hurairah mengatakan bahwa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ أُمَّ سَلَمَةَ أَمَّتْهُنَّ فَكَانَتْ وَسَطًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sungguh Ummu Salamah mengimami mereka shalat dan berada di tengah-tengah". [HR Abdurrazaq, ad Daraquthni dan al Baihaqi, dan hadits ini dihukumi oleh penulis Shahih Fiqih Sunnah sebagai hadits shahih lighairiihi] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7). Shaf (barisan) anak kecil.&lt;br /&gt;Anak kecil yang telah mumayyiz, ia tidak berbeda dengan orang yang sudah baligh, yaitu berdiri di belakang imam. Dengan dalil hadits Anas yang berbunyi: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمِّي أُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku shalat bersama seorang anak yatim dirumah kami dibelakang Nabi n dan ibuku Ummu Sulain dibelakang kami". [Muttafaqub ‘alaihi]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lajnah ad Daimah lil Buhuts al Islamiyah al Ifta’, Saudi Arabia mengatakan: "Yang sesuai Sunnah untuk anak-anak, apabila ia telah mencapai usia tujuh tahun dan lebih, untuk berdiri di belakang imam sebagaimana orang-orang yang telah baligh. Apabila yang ada hanya satu, maka ia berdiri di samping kanan imam, karena sudah jelas dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau shalat di rumah Abu Thalhah, dan menjadikan Anas dan seorang anak yatim di belakangnya, sedangkan Ummu Sulaim di belakang keduanya. Juga telah ada dalam riwayat lainnya, bahwa beliau mengimami shalat Anas, dan menjadikannya di sebelah kanannya".[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Syaikh al Albani mengatakan: "Adapun menjadikan anak-anak di belakang mereka (barisan dewasa), maka dalam permasalahan ini, aku belum mendapatkan kecuali hadits ini[10], dan hadits ini lemah, tidak bisa dijadikan hujjah. Sehingga aku memandang bolehnya anak-anak berdiri bersama orang dewasa, apabila barisannya belum penuh; dan shalatnya anak yatim bersama Anas di belakang Rasulullah menjadi hujjah dalam permasalahan ini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian menjadi jelas kesamaan posisi anak-anak dan orang dewasa dalam shalat berjamaah bersama imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah beberapa permasalahan seputar imam dan posisi imam dan ma'mum, mudah-mudahan hal ini bermanfaat bagi kita.&lt;br /&gt;Billahit taufiq&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;br /&gt;________&lt;br /&gt;Footnote &lt;br /&gt;[1]. Shahih Fiqh Sunnah, 1/523. .&lt;br /&gt;[2]. Maksudnya diserupakan dengan para wanita dalam kisah Nabi Yusuf, yaitu mereka menyembunyikan hakekat yang ada di hatinnya, dan menampakkan sesuatu yang lain dari kenyataan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;[3]. Majmu’ Fatawa, 23/354.&lt;br /&gt;[4]. Syarhul Mumti’, 4/308.&lt;br /&gt;[5]. Majmu’ Fatawa, 23/351.&lt;br /&gt;[6]. Shahih Fiqh Sunnah, 1/529.&lt;br /&gt;[7]. Fatawa Lajnah Daimah, no. 2601, Jilid 8/6, yang ditanda-tangani Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Abdurrazaq ‘Afifi, Abdullah bin Ghadhayaan dan Abdullah bin Qu’ud.&lt;br /&gt;[8]. Fatawa lajnah Daimah, no. 8498, Jilid 8/9-10, yang ditanda-tangani Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Abdurrazaq ‘Afifi dan Abdullah bin Qu’ud.&lt;br /&gt;[9]. Fatawa Lajnah Daimah, no. 1954, Jilid 8/20, yang ditanda-tangani Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Abdurrazaq ‘Afifi, Abdullah bin Ghadhayaan dan Abdullah bin Qu’ud.&lt;br /&gt;[10]. Hadits ini berbunyi (artinya): Rasulullah menjadikan orang dewasa di depan anak-anak, dan anak-anak di belakang mereka, serta wanita di belakang anak-anak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-5686202229685252913?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/5686202229685252913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/memahami-posisi-imam-dan-ma-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/5686202229685252913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/5686202229685252913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/memahami-posisi-imam-dan-ma-dalam.html' title='MEMAHAMI POSISI IMAM DAN MA&amp;#39;MUM DALAM SHALAT BERJAMA&amp;#39;AH'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-4877689784989077729</id><published>2010-04-27T21:54:00.001+07:00</published><updated>2010-04-27T21:54:43.832+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tazkiyatun Nufus'/><title type='text'>MUSUH-MUSUH MANUSIA</title><content type='html'>Kita memahami, bahwa Allah Azza wa Jalla menciptakan fitrah atas diri manusia, yaitu bisa mengetahui dan mengenal kebenaran, serta menjauhi dan menghindari kebathilan. Akan tetapi, meskipun fithrah manusia itu sudah disiapkan dan memiliki kemampuan untuk mengetahui yang haq dan yang bathil, namun bukan berarti untuk mengamalkan al haq ataupun menghindari yang bathil itu mudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rintangan dan hambatan yang menjadi ujian. Ada musuh yang selalu menghalangi dari jalan al haq. Dan sebaliknya ada musuh yang selalu berusaha membimbing ke arah yang bathil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh-musuh ini memberikan gambaran tentang kebenaran dan kebathilan. Al haq, yang semestinya indah, menjanjikan kebaikan dan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, digambarkan oleh musuh manusia sebagai sesuatu yang menakutkan dan menyusahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya yang bathil, yang mestinya menjijikkan dan berujung pada penderitaan, digambarkan oleh musuh manusia sebagai keindahan nan menyenangkan. Akhirnya banyak orang yang terpedaya, meninggalkan jalan yang benar dan mengikuti jalan yang bathil, iyadzan billah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, wahai saudara-saudaraku, rahimanillahu wa iyyakum ajma’in, kita perlu mengetahui musuh-musuh itu, agar dapat bersikap. Musuh tetaplah musuh, bukan sebagai teman, apalagi sebagai pembimbing. Siapakah musuh-musuh yang selalu berusaha mengajak manusia kepada perbuatan batil dan keliru? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh yang pertama adalah setan. Berbagai macam cara ditempuh oleh setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam kebathilan dan menghalangi manusia dari al haq (kebenaran). Dan setan ini sering berhasil menjadikan manusia sebagai pengikutnya. Hanya orang-orang ikhlas dalam ibadahnya yang selamat dari makar dan tipu daya setan. Hanya orang-orang beriman yang bisa menjadikan setan sebagai musuhnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang beriman yang iikhlas dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal kitab Madarijus Salikin dan al Bada-i, pada akhir pembahasan tafsir surat al Mu’awwidzatain (surat an Nas dan al Falaq), Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan cara-cara dan tahapan setan dalam menghembuskan kejahatan dan tipuan kepada manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan Pertama : Setan mengajak manusia melakukan perbuatan kufur dan syirik, menentang Allah dan RasulNya. Inilah yang paling diinginkan oleh setan. Dengan cara ini, setan telah berhasil menyesatkan banyak orang. Dengan cara ini, manusia dijadikan sebagai tentara dan para abdinya. Jika setan putus asa dan tidak mampu menyeret manusia ke dalam perbuatan kufur, maka setan akan menggodanya dengan tahapan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan Kedua : Setan mengajak manusia untuk mengamalkan perbuatan bid’ah dalam agama, baik bid’ah dalam masalah aqidah maupun amal perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bid’ah merupakan perbuatan dosa, yang pelakunya sulit diharapkan bertaubat. Setan memberi gambaran yang indah dalam benak manusia, bahwa apa yang dilakukan itu merupakan kebenaran, dan ahli bid’ah mempercayai bisikan setan ini. Karena anggapan yang baik atas perbuatan bid’ah, membuat pelakunya susah melepaskan diri dan bertaubat dari perbuatan yang dianggap baik ini, padahal sebenarnya menyesatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berhasil menyeret seseorang ke dalam tahapan ini, maka setan akan merasa lega. Karena perbuatan bid’ah merupakan gerbang menuju kekufuran. Dan para pembuat bid’ah menjadi salah satu corong di antara propaganda iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika setan tidak mampu menyeretnya ke dalam perbuatan bid’ah, maka dia akan menjebak dan menggiring manusia kepada Tahapan Ketiga : Yaitu perbuatan dosa besar dengan berbagai macam variasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa-dosa besar ini juga merupakan gerbang menuju kekufuran. Setan berhasil menjerumuskan banyak orang dalam dosa besar. Manusia tenggelam dalam perbuatan maksiat, sehingga hatinya menjadi membatu, terhalang dari kebenaran. Kemudian setan menyebarkan berita tentang mereka ini di tengah masyarakat. Setan memanfaatkan tentara dan para abdinya untuk menyebarkan perbuatan dosa ini, terutama jika perbuatan dosa ini dilakukan oleh penguasa atau orang yang diidolakan. Tujuannya, supaya perbuatan-perbuatan mereka dijadikan argumen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai misal, yaitu makan riba, mendengarkan musik, menikmati alat-alat musik dan permainan, menyetujui perbuatan bersolek, membuka wajah dan ikhtilath (campur baur) laki-laki dan perempuan, loyal dan suka kepada orang-orang kafir, homoseks, meminum khamr, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahapan ini, setan berhasil menyesatkan banyak orang. Banyak manusia berkubang dalam kemungkaran-kemungkaran. Setan menghiasi amal-amal para idola ini, sehingga mereka menjadi pioner yang mengajak ke perbuatan maksiat secara nyata, atau mungkin dengan ucapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang yang tidak mampu digoda setan dan dijaga oleh Allah dari perbuatan dosa-dosa besar, maka setan berusaha menyeretnya ke Tahap Keempat : Yaitu melakukan dosa-dosa kecil, sebagai gerbang memasuki dosa-dosa besar. Dosa-dosa kecil ini terkadang dianggap remeh oleh manusia dan tidak peduli dengan pelakunya. Padahal, dosa-dosa kecil itu menyeret untuk melakukan dosa berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan dalam sebuah hadits dari Sahl bin Sa’d, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jauhilah dosa-dosa kecil, karena jika dosa-dosa itu berkumpul pada diri seseorangو akhirnya akan membuatnya binasa (celaka)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tidak diragukan lagi, meremehkan perbuatan dosa kecil, bisa merubah dosa kecil menjadi besar. Sebagaimana perkataan ulama Salaf, tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus, dan tidak dosa besar bila diiringi dengan istighfar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian yang lain mengatakan, janganlah kalian memandang kecil sebuah dosa, akan tetapi pandanglah keagungan Dzat yang kalian durhakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika setan merasa lemah dan tidak mampu menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan-pebuatan dosa ini, maka setan menggoda manusia dengan tahapan kelima. Yaitu menyibukkan manusia dengan perkara-perkara mubah yang tidak mendatangkan pahala, dan juga tidak mengakibatkan dosa. Menyibukkan perkara-perkara mubah, berarti menyia-nyiakan waktu dan usia, tidak memanfaatkankanya dengan kebaikan dan perbuatan shalih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak manusia tertipu dengan perkara-perkara mubah, berlebih-lebihan dalam makanan, minum, rumah, pakaian. Demi keperluan ini, manusia telah menyia-nyiakan sejumlah harta, usia dan waktu, lalai dengan kebaikan, tidak berlomba-lomba dalam kebaikan. Sehingga, perbuatan mubah ini bisa menjadi penyebab seseorang lupa kepada akhirat, dan lupa melakukan persiapan untuk menyongsongnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan manusia yang tidak bisa dijerumuskan dengan tahapan ini, maka setan akan mengganggunya dengan Tahapan Keenam, yaitu mengalihkan perhatian manusia dari amalan-amalan yang lebih baik kepada amalan yang di bawahnya. Sebagai misal, seseorang akan menggunakan harta untuk hal-hal yang bernilai baik tetapi kurang. Disibukkan dengan amalan-amalan marjuh (bernilai baik tetapi kurang), sehingga (salah satu wujudnya) mempelajari ilmu-ilmu yang tidak memiliki urgensitas dan kehilangan ilmu yang bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau seseorang itu lebih memilih melakukan usaha-usaha yang masih memiliki syubhat daripada usaha yang jelas-jelas halal. Lebih mengutamakan ibadah-ibadah qashirah (yaitu manfaat ibadahnya hanya sebatas untuk si pelaku saja, seperti shalat sunnah) daripada ibadah muta’addiyah (ibadah yang manfaatnya juga akan dirasakan oleh orang lain) seperti jihad, mengajarkan ilmu, memerintahkan kepada yang ma’ruf, mencegah dari kemungkaran. Akibatnya, dia akan kehilangan kebaikan yang banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tipu daya musuh setan. Saat setan merasa lemah dan tidak mampu menjerat sebagian manusia dalam perangkap-perangkap ini, maka setan memberikan kuasa kepada wali-walinya dan para abdinya dari kalangan jin dan manusia, serta orang yang tertipu dengan bisikannya. Lalu mereka menghina orang-orang baik ini dengan tujuan menyakiti wali dan para kekasih Allah Azza wa Jalla. Mereka menyiksanya dengan siksa yang buruk, seperti pembunuhan, pengusiran, penahanan, penyiksaan, penghinaan, pelecehan terhadap amalan-amalan orang-orang baik ini, sebagaimana kejadian yang dialami oleh para nabi Allah dan pengikutnya pada setiap waktu dan di semua tempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah melindungi kita dari semua makar dan tipu daya setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh manusia yang kedua, adalah nafsu yang senantiasa mengajak kepada keburukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hawa nafsu ini cendrung kepada kebathilan, menghalangi manusia agar tidak menerima kebenaran dan tidak mengamalkannya. Jika jiwa ini muthmainnah (tenang dalam kebenaran), lebih mengutamakan yang hak, maka dia akan membimbing manusia ke arah yang benar dan berjalan di atas jalan keselamatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh manusia yang ketiga, adalah menjadikan hawa nafsu ini sebagai ilah, yaitu menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan selain Allah. Disebutkan dalam firman Allah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya (sesembahannya). Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?" [al Furqon : 43].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang selalu memperturutkan segala keinginannya, ia tidak akan peduli dengan akibat buruknya. Dalam sebuah atsar diriwayatkan, di bawah kolong langit ini, tidak ada yang lebih jelek dibandingkan hawa nafsu yang diperturutkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun musuh manusia yang keempat adalah gemerlap dunia, kenikmatan dan hiasannya. Keindahan dunia dan berbagai kenikmatan semunya, telah menipu banyak orang, membuat manusia lupa kepada tujuan hidupnya yang hakiki. Padahal kehidupan akhirat dan segala isinya jauh lebih baik dibandingkan dengan kehidupan dunia yang fana. Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah, adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?" [al Qashash : 60]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla juga berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi kamu (orang-orang) kafir lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal". [al A’la : 16-17].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian beberapa musuh yang sering menghalangi manusia dari berbuat amal shalih. Semoga Allah melindungi kita dari semua makar dan tipu daya yang menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika musuh-musuh bisa menguasai diri seorang manusia, maka dampak yang terlihat adalah tidak semangat dalam melakukan ketaatan. Dan sebaliknya, ia justru semangat dan tidak takut melakukan perbuatan maksiat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, Allah Azza wa Jalla yang Maha Rahim tidak membiarkan para hambaNya untuk menghadapi musuhnya seorang diri. Allah Azza wa Jalla berjanji akan menolong manusia dalam menghadapi musuh-musuhnya ini. Allah memerintahkan kepada kita agar memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, serta memerintahkan manusia agar memohon pertolongan kepada Allah k dalam melakukan amalan yang susah ataupun berat baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla juga memerintahkan kepada para hambaNya agar ikhlas dalam melakukan ketaatan. Dengan demikian, dia akan termasuk hamba-hamba pilihan. Hamba-hamba yang ikhlas akan dibentengi Allah Azza wa Jalla dari kekuasaan musuh. Allah Azza wa Jalla berfirman : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya hamba-hambaku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabb-mu sebagai Penjaga" [al Israa` : 65].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa menolong kita dalam menghadapi godaan musuh-musuh, yang senantiasa menghalangi manusia dari jalan ketaatan. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang ikhlas, dan senantiasa mengikuti petunjuk Raslullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diangkat dari Minhajul Muslim Bainal ‘Ilmi wal ‘Amal, karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al Jibrin, hlm. 175-180]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-4877689784989077729?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/4877689784989077729/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/musuh-musuh-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/4877689784989077729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/4877689784989077729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/musuh-musuh-manusia.html' title='MUSUH-MUSUH MANUSIA'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-7711857167582945039</id><published>2010-04-22T21:12:00.001+07:00</published><updated>2010-04-22T21:12:40.739+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Anak-anak Muslim'/><title type='text'>PERLUKAH HUKUMAN FISIK BAGI ANAK</title><content type='html'>HUKUMAN DAN IMBALAN SEBAGAI METODE PENDIDIKAN&lt;br /&gt;Permasalahan ini amat penting untuk diperhatikan, mengingat kondisi anak didik yang tidak sama. Semestinya para orang tua dan pendidik memperhatikan betul metode yang tepat bagi anak didiknya. Perbedaan tingkat intelegensi, persepsi, usia serta tingkat emosi anak menuntut perlakuan yang berbeda pula. Manakala si anak berbuat kesalahan, penyimpangan, ataupun gagal mengerjakan tugasnya, tidak berarti saat itu juga si anak harus dihukum dengan hukuman berat. Tidak selamanya hukuman itu baik bagi anak. Tidak berarti pula kita membiarkan anak larut dalam kesalahan tanpa ada upaya pengarahan. Ada tipe anak yang sudah sadar akan kesalahannya hanya dengan pandangan tajam dari orang tua ataupun gurunya. Ada pula tipe anak yang mudah diarahkan dengan nasehat bijak. Dan ada pula tipe anak yang memang tidak bisa diluruskan kecuali dengan hukuman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada asalnya, Rasulullah menganjurkan kepada setiap muslim untuk selalu mengedepankan sikap lemah lembut, terlebih pada anak- anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu haditsnya Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنَّ الرِفْقَ لاَ يَكُوْنُ في شَيْءٍ إلاَّ زَانَهُ وَ مَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إلا شَانَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya tidaklah kelemahlembutan ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya, dan tidaklah kelemahlembutan tercabut dari sesuatu kecuali akan menodainya” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga sabda Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ يُحْرَمُ الرِفْقَ يُحْرَمُ الخَيْرُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa yang diharamkan kelemahlembutan baginya, berarti ia telah diharamkan dari kebaikan” [2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إنَهُ مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِفْقِ فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنْ خَيْرِ الدُنْيَا وَ الآخِرَةِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa dianugerahi watak lemah lembut, sungguh berarti ia telah dianugerahi kebaikan dunia dan akhirat” [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih ada beberapa riwayat lain yang menegaskan keutamaan sikap lemah lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu riwayat Muslim, A’isyah Radhiyallahu 'anha menceritakan, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah memukul seorang pun, baik wanita maupun pelayan, kecuali ketika Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berjihad di jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidik yang bijak tentu tidak bersandar kepada hukuman semata dalam upaya meluruskan kesalahan anak. Akan tetapi hendaklah ia menempuh metode-metode sugestif semacam pemberian hadiah ataupun nasehat yang mampu memotivasi anak dalam kebaikan. Karena pada asalnya, anak-anak lebih menyukai imbalan/hadiah ketimbang hukuman. Hadiah ataupun wejangan lebih memberikan pengaruh positif pada jiwa anak. Sehingga dia lebih terdorong untuk melakukan kebajikan. Berbeda dengan hukuman yang biasanya memberikan efek negatif pada perkembangan mental dan emosi anak, Apalagi jika hukuman terlalu sering diberikan. Si anak bisa saja menjadi kebal hukuman serta tidak takut untuk melakukan kesalahan ataupun penyimpangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Jamil Zainu memaparkan beberapa cara guna memotifasi anak, diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pujian Yang Indah Serta Do’a Yang Baik&lt;br /&gt;Misalnya dengan mengucapkan kepada anak ahsanta (bagus kamu), baarakallahu fiik (semoga Allah memberkahimu), waffaqakallahu (semoga Allah memberikan taufik kepadamu) ataupun pujian serta doa lain. Seorang pendidik yang baik, tentunya tidak segan-segan memuji anak didiknya sewaktu anak melakukan kebaikan dan berhasil menunaikan tugas dan kewajibannya dengan baik. Adapun kepada anak yang malas ataupun jelek akhlaknya, sang pendidik sebaiknya mendo’akannya dengan do’a yang baik, misalnya ucapan ashlahakallahu wa hadaaka (semoga Allah memperbaikimu dan menunjukimu). Ucapan-ucapan lembut seperti di atas akan mendorong semangat anak, sekaligus memberikan kesan yang baik pada jiwanya, sehingga ia akan lebih mencintai pendidiknya. Di sisi lain, teman-temannya juga akan termotivasi untuk meniru perbuatan baiknya agar mendapatkan pujian serta do’a yang sama dari gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Imbalan Materi&lt;br /&gt;Watak dasar seorang anak adalah senang bila mendapat hadiah atau imbalan materi. Ini merupakan sisi yang bisa dimanfaatkan pendidik untuk memotivasinya, sejalan dengan kecenderungan manusiawinya yang suka apabila upaya dan jerih payahnya dihargai. Imbalan materi tersebut tidaklah harus berupa barang mahal. Hadiah sederhana sudah cukup membuat semangat anak tergugah untuk melakukan perbuatan baik sesuai dengan harapan pendidiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Wasiat Kepada Keluarga Murid.&lt;br /&gt;Metode ini bisa dilakukan oleh guru kepada orang tua anak didiknya, baik dengan bahasa lisan ataupun tulisan. Hal ini akan mendorong keluarga anak untuk semakin memperhatikannya dan memperlakukannya dengan baik. Bersamaan dengan itu, si anak juga akan semakin terpacu untuk maju dan bertingkah laku baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pendekatan Persuasif&lt;br /&gt;Sebagian orang tua atau pendidik, mungkin pernah menjumpai anak yang sulit memahami pelajaran. Pada kondisi demikian tidak selayaknya pendidik tergesa mengecap dan mengklaim si anak sebagai anak bodoh ataupun malas. Metode yang tepat adalah dengan melakukan pendekatan kepada si anak. Bertanya dengan lemah lembut tentang permasalahannya, dengan harapan agar anak mau berbagi kepada sang guru, serta berani mengungkapkan problematika yang dihadapinya. Dengan demikian sang guru bisa memahami latar belakang serta sebab-sebab yang menghambat pemahaman anak terhadap materi pelajaran, sekaligus membantu memberikan solusi agar anak kembali bersemangat. Adalah satu hal yang sangat bijak jika sang pendidik memberikan kesempatan pada setiap anak didiknya untuk memperbaiki diri dari kesalahan-kesalahan yang mungkin belum sepenuhnya ia fahami. Betapa banyak anak didik yang bersemangat hingga berhasil karena mendapat wejangan gurunya, padahal sebelumnya mereka merasa pesimis karena berbagai faktor yang membebaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUKUMAN, ANTARA MANFAAT DAN BAHAYANYA.&lt;br /&gt;Dalam syari’at islam, hukuman atau ‘uqubah dikonotasikan sebagai penegakan ketentuan-ketentuan Allah (hudud), karena di dalamnya terdapat sanksi tegas dan keras serta efektif dalam mencegah terjadinya beragam kemaksiatan. Sejalan dengan kesempurnaan hikmahNya. Berkaca pada ajaran islam, sewajibnya bagi setiap pendidik untuk selalu mengingat tujuan dari adanya hukuman, yakni meluruskan kesalahan agar sang anak kembali dan bertaubat dari perbuatan salahnya. Karena hukuman, terlebih lagi hukuman fisik, merupakan langkah terakhir yang ditempuh dalam memperbaiki satu kesalahan. Hukuman ini diberikan ketika nasehat ataupun ancaman sudah tidak mempan lagi bagi anak. Sedapat mungkin seorang pendidik menghindari bentuk hukuman fisik pada anak didiknya, mengingat bahaya yang mungkin ditimbulkan, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Timbulnya cacat fisik pada anak didik yang dipukul.&lt;br /&gt;2. Membekasnya hukuman tersebut pada jiwa anak, hingga mempengaruhi kondisi psikis dan emosinya. Mungkin saja ia akan meniru hal serupa dari gurunya dan melampiaskannya kepada temannya.&lt;br /&gt;3. Hilangnya sikap saling menghargai antara guru dan anak didik. Bahkan mungkin menimbulkan kebencian diantara keduanya.&lt;br /&gt;4. Terhambatnya pemahaman anak terhadap pelajaran.&lt;br /&gt;5. Serta bahaya-bahaya lain yang tentunya merugikan semuanya, baik pendidik, murid juga keluarga keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUKUMAN YANG TERLARANG&lt;br /&gt;1. Memukul muka &lt;br /&gt;Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذَا قَتَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَجْتَنِبِ الوَجْهَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika salah seorang diantara kalian berkelahi maka hindarilah memukul wajah" [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan juga sabda Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إَذَ ضَرَبَ أَحَدُكُمْ خَادِمَهُ فَلْيَتَّقِ الوَجْهَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apabila salah seorang diantara kalian memukul pelayannya, maka janganlah memukul wajahnya" [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kekerasan Yang Berlebihan&lt;br /&gt;Seorang pendidik hendaknya berhati-hati ketika menghukum anak agar ia tidak menyesal dikemudian hari karena tindakan kasarnya terhadap murid. Kekerasan bukanlah satu simbol kekuatan ataupun kehebatan seseorang. Simaklah sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيْسَ الشَدِيْدُ بالِصُرْعَةِ، إنَّمَا الشَدِيْدُ الَذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الغَضَبِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukanlah orang yang kuat itu adalah orang yang menang dalam bergulat, akan tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah”[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru yang terlalu keras akan dijuluki oleh murid-muridnya sebagai guru galak atau guru zhalim. Cukuplah hal ini sebagai aib bagi pendidik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Marah Besar&lt;br /&gt;Biasanya hal ini terlahir dari pendidik yang kurang bisa mengontrol emosinya. Seharusnya pendidik dan orang tua mampu mengesampingkan ego manusiawinya serta tidak mengedepankan amarah ketika kata-katanya tidak dipatuhi anak. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan satu do’a ketika kita marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إذَا غَضَبَ أحَدُكُمْ فَقَالَ: أعُوْذُ بِالله، سَكَنَ غَضَبُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika salah seorang diantara kalian marah, kemudian ia mengucapkan: Aku berllindung kepada Allah, niscaya kemarahannya akan reda"[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَ إذَا غَضَبَ أحَدُكُمْ وَ هُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ، فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الغَضَبُ وَ إِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan apabila salah seorang kalian marah sedangkan ia dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk, niscaya kemarahannya akan lenyap. Jika tidak lenyap maka hendaklah ia berbaring" [8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memukul Ketika Marah&lt;br /&gt;Abu Mas’ud bercerita,” Pernah ketika aku memukul budak saya dengan cemeti, aku mendengar suara dari belakang yang berkata,”Ketahuilah wahai Abu Mas’ud”, namun aku tidak mengenali suara tersebut karena sedang marah”. Kemudian Abu Mas’ud melanjutkan perkataanya,” Ketika orang tersebut mendekat tenyata Rasulullah, Beliau bersabda lagi,”Ketahuilah hai Abu Mas’ud, ketahuilah hai Abu Mas’ud”!&lt;br /&gt;Abu Mas’ud berkata lagi,”Maka kulepaskan cemetiku”. Lantas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,”Ketahuilah hai Abu Mas’ud, sesungguhnya Allah lebih kuasa untuk berbuat demikian atas dirimu daripada apa yang engkau perbuat atas budak ini.” Maka aku menjawab,” Aku tidak akan memukul seorang budak pun setelah ini selama-lamanya" [9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Berkata Buruk&lt;br /&gt;Seorang pendidik harus menjauhi kata-kata buruk ataupun hinaan kepada anak didiknya. Misalnya ucapan “setan kamu” atau “laknat kamu” juga kata-kata yang bersifat celaan kepada murid. Ucapan-ucapan semacam itu sangat tidak pantas keluar dari lisan seorang pendidik, sebab akan melukai perasaan murid, menghilangkan kepercayaan dirinya, membuatnya semakin menjauh dari guru serta tidak tertarik untuk mengikuti pelajaran. Lebih jauh lagi akibatnya adalah murid akan meniru ucapan gurunya tersebut dan melontarkannya kepada temannya atau pun saudaranya. Tanggung jawab ini tentu akan kembali kepada guru yang telah mengajarkan kata-kata buruk tadi kepada anak didiknya.&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…وَ مَنْ سَنَّ في الإسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ وَ وِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"…dan barangsiapa yang mencontohkan contoh kejelekan dalam islam, maka ia akan menanggung dosanya dan dosa orang-orang yang meniru perbuatannya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun" [10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HUKUMAN EDUKATIF YANG BERMANFAAT&lt;br /&gt;Ada beberapa jenis hukuman yang bersifat mendidik, yang baik dilakukan oleh seorang pendidik terhadap murid yang melakukan pelanggaran dan penyimpangan. Kami tegaskan lagi, tujuan menghukum anak yang berbuat salah adalah agar ia menyadari kesalahannya serta tidak mengulangi kesalahan serupa. Penekanan hukuman adalah pada sisi edukatif guna membentuk pribadi anak yang selalu bertanggung jawab atas setiap perbuatannya&lt;br /&gt;Jadi hukuman bukan semata ajang pelampiasan amarah guru untuk menyakiti si anak ataupun untuk menunujukkan kekuasaanya sebagai guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara hukuman yang bersifat mendidik adalah:&lt;br /&gt;1. Memperlihatkan wajah masam untuk menunjukkan ketidak sukaan guru terhadap pelanggaran muridnya. Dengan demikian si murid menyadari perubahan raut wajah gurunya dan berusaha mengoreksi diri dari kesalahan yang tidak disukai gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: حَشَوْتُ وِسَدَةً لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه و سلم فِيْهَا تَمَاثِيْلُ كَأَنَّهَا نُمْرُقَة فَقَامَ بَينَ البَابَيْنِ، وَ جَعَلَ يَتَغَيَّرَ وَجْهُهُ، فَقُلْتُ: ما لَنَا يَا رَسُولَ الله؟[أَتُوْبُ إلى الله مِمَّا أَذْنَبْتُ]، قَالَ: مَا بَالُ هذه الوِسَادَةِ؟ قَالَتْ: قُلْتُ: وِسِادَة جَعَلْتُهَا لَكَ لِتَضْجِعَ عَلَيْهَا، قَالَ: أَمَا عَلِمْتِ أَنَّ مَنْ صَنَعَ الصُوَرَ يُعَذَّبُ يَوْمَ القِيَامَةِ، فَيُقَالُ: أحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ؟! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari A’isyah ia berkata,” Aku membuat sebuah bantal untuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalamnya terdapat gambar, lalu Beliau berdiri diambang pintu dan raut wajah Beliau berubah, aku berkata,” Ada apa ya Rasulullah? (Aku bertaubat kepada Allah atas dosa yang kukerjakan)”. Beliau bertanya,” Ada dengan bantal ini?” Aku menjawab,” Itu adalah bantal yang kubuat untukmu agar engkau bisa bersandar padanya,” Beliau berkata,” Tidakkah engkau tahu bahwa orang yang membuat gambar (makhluk hidup) akan disiksa pad hari kiamat nanti seraya dikatakan kepada mereka,”hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan?!" [11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menghajr yaitu mengisolir anak dengan tidak mengajaknya berbicara serta berpaling darinya selama beberapa waktu, dengan catatan tidak boleh dari tiga hari. Karena ada larangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أبِي أَيُّوْب رضي الله عنه أنَّ رَسُوْلَ الله قَال لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أنْ يَهْجُرَ أخَاه فَوْقَ ثَلاَثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هذا و يُعْرِضُ هذا، وَخَيْرُهُمَا الذي يَبْدَأُ بِالسَلاَم&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Abu Ayyub bahwasanya Rasulullah bersabda,” Tidak halal bagi seorang muslim menghajr saudaranya lebih dai tiga hari, keduanya saling berpaling ketika bertemu, dan yang terbaik dari keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam" [12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Perkataan Pedas.&lt;br /&gt;Seorang pendidik perlu mengeluarkan kata-kata pedas kepada anak yang melakukan dosa besar, apabila nasehat serta bimbingan sudah tidak berpengaruh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Menggantungkan Cambuk Di Dinding Rumah.&lt;br /&gt;Berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَلِّقُوا السَوْطَ حَيْثُ يَرَاهُ أَهْلُ البَيْتِ، فَإِنَّهُ أدَبٌ لَهُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gantungkanlah cambuk di tempat yang bisa dilihat oleh anggota keluarga. Sesungguhnya itu akan menjadi pengajaran bagi mereka" [13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan hadis di atas, Ibnu Al Anbari berkata, cambuk tersebut tidak dimaksudkan untuk memukul atau mecambuk mereka (penghuni rumah), sebab Nabi tidak pernah memerintah siapapun untuk memukul dengan cambuk tersebut. Yang Beliau maksudkan adalah janganlah kamu (para orangtua) meninggalkan pengajaran terhadap mereka. Adapun sabda Nabi “Sesungguhnya itu akan menjadi pengajaran bagi mereka” , maksudnya cambuk tersebut akan menjadi pendorong bagi mereka untuk berakhlak dengan akhlak mulia dan bertingkah laku terhormat”[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pukulan Ringan&lt;br /&gt;Pukulan merupakan cara terakhir yang ditempuh jika cara-cara di atas tidak berhasil menyadarkan anak dari kesalahannya. Sebagaimana firman Allah yang memuat tahapan sanksi bagi istri yang durhaka kepada suaminya. Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً إِنَّ اللهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkan mereka di tempat mereka serta pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar". [An Nisaa’: 34]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu waliyyut taufiq&lt;br /&gt;Amatullah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diangkat dari kitab Nidaa’ ilal Murabbiyyin Wal Murabbiyyat karya Syaikh jamil Zainu dan kitab Fiqhut Tarbiyyatil Abna karya Syaikh Musthafa Al ‘Adawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05//Tahun VII/1422H/2001M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;br /&gt;_______&lt;br /&gt;Footnote&lt;br /&gt;[1]. H.R Muslim&lt;br /&gt;[2]. H.R Muslim&lt;br /&gt;[3]. H.R Ahmad dalam Al Musnad 6/159, lihat juga Sunan At Tirmidzi hadits no. 2013&lt;br /&gt;[4]. H.R Muslim&lt;br /&gt;[5]. Hadits hasan, lihat Shahihul Jami’ 187&lt;br /&gt;[6]. Muttafaqqun ‘alaih&lt;br /&gt;[7]. Lihat Shahihul Jami, hadits no. 1708&lt;br /&gt;[8]. Hadits shahih, lihat Shahihul Jami’ hadits no. 707&lt;br /&gt;[9]. H.R Muslim no. 1659&lt;br /&gt;[10]. H.R Muslim dan yang selainnya&lt;br /&gt;[11]. H.R Al Bukhari (2/11 dan 4/105) dan Abu Bakr Asy Syafi’i dalam Al Fawaid 6/68&lt;br /&gt;[12]. H.R Al Bukhari dan Muslim&lt;br /&gt;[13]. Hadits yang dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’&lt;br /&gt;[14]. Al Manawi menyebutkannya dalam Faidhul Qadiir 4/325&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-7711857167582945039?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/7711857167582945039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/perlukah-hukuman-fisik-bagi-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/7711857167582945039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/7711857167582945039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/perlukah-hukuman-fisik-bagi-anak.html' title='PERLUKAH HUKUMAN FISIK BAGI ANAK'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-3624757150234863434</id><published>2010-04-22T21:06:00.001+07:00</published><updated>2010-04-22T21:06:52.624+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>KUKU SEHAT NAN INDAH, KUKU SESUAI FITHRAH</title><content type='html'>Kuku adalah salah satu organ pelengkap kulit selain kelenjar keringat dan rambut. Ia merupakan lempeng yang mengandung lapisan tanduk. Tempatnya yang berada di ujung-ujung jari tangan dan kaki, selain berguna untuk membantu jari-jari untuk memegang, juga bisa menjadi sarana untuk memperindah penampilan, dan khususnya bagi para wanita yang menyukai keindahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan makhluk lainnya, kuku manusia lebih baik dan lebih sempurna. Demikian sempurna ciptaan ini, sehingga kuku menjadi pelengkap tangan dan kaki atas diri manusia. Bagaimana bila kuku ini tidak ada ataupun rusak serta sakit? Sudah tentu tangan maupun kaki tak akan berfungsi dengan baik saat melakukan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA PENYAKIT TERTENTU DI LOKASI KULIT&lt;br /&gt;Penyakit yang menyerang pada bagian kuku, merupakan salah satu bagian penyakit kulit itu sendiri, di antaranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Paronikia, yaitu suatu reaksi peradangan (inflamasi) yang menyerang lipatan kulit di sekitar kuku, baik di kaki maupun jari tangan. Ditandai dengan pembengkakan dan rasa nyeri. Jika disertai infeksi, maka bisa mengeluarkan nanah (pus). Biasanya mengenai ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah (jari 1-3). Hal ini disebabkan oleh trauma karena perlunakan suatu benda yang diakibatkan oleh cairan pada tangan atau kaki, dan seringnya jari-jari berhubungan dengan air. Celah yang lembab pada kuku kemudian terkontaminasi oleh bakteri atau jamur. Kondisi seperti ini sering terjadi pada wanita dan mereka yang sehari-hari sering bersentuhan dengan air saat bekerja. Pada anak-anak, bisa karena mengisap jari. Penderita DM (diabetes mellitus), penyakit dengan kadar gula darah tinggi dan malnutrisi, sangat beresiko terkena penyakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Onkolisis, yaitu terpisahnya kuku dari dasar kuku, terutama bagian bawah atau samping. Warna kuku berubah menjadi kuning karena ada nanah (infeksi). Kondisi seperti ini biasa karena jamur, trauma karena sepatu atau bahan kimia. Onikolisis dan paronikia bisa diakibatkan kuman yang disebut pseudomonas aeruginosa yang merubah kuku berwarna hijau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Penyakit kuku lainnya, misalnya kuku psoariasis, penyakit yang bersifat kronis di lokasi kulit, atau keadaan kuku yang memang mudah pecah dan rapuh karena kekurangan vitamin A atau B serta penyakit keturunan maupun bawaan yang bisa menimbulkan kelainan di kuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUKU BISA MENUNJUKKAN TANDA DAN GEJALA PENYAKIT DARI TUBUH&lt;br /&gt;Dari kuku, kita bisa mengetahui adanya kelainan atau penyakit tertentu di tubuh manusia. Hal ini bisa ditunjukkan dengan dua keadaan kuku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Adanya Perubahan Bentuk Kuku. &lt;br /&gt;Beberapa contoh dalam hal ini, misalnya bentuk kuku yang menggembung dan konveks (cembung) atau disebut clubbing finger (jari-jari tabuh). Dengan keadaan kuku seperti ini, bisa diketahui pada diri si empunya kuku terdapat kelainan di paru-parunya. Misalnya TBC, bronkhitis kronis, pertumbuhan tumor dan sebagainya, maupun kelainan ada di lokasi jantung, misalnya penyakit jantung bawaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan mental atau psikis seseorang yang mengalami gangguan, juga bisa dilihat dengan seringnya menggigit kuku yang disebut dengan onikofagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Perubahan Warna. &lt;br /&gt;Perubahan warna kuku sering terjadi karena pigmen melanin yang dimiliki tubuh akibat proses pembentukan melanin yang berlebihan. Dapat juga disebabkan karena adanya endapan zat lain pada bagian-bagian kuku. Warna yang timbul akan bergantung pada tempat dan sifat-sifat zat yang diendapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuku warna hitam bisa karena defisiensi vitamin B12, tumor kulit yang ganas, peningkatan hormon MSH. Yaitu suatu hormon yang merangsang pengeluaran sel melanin (sel pemberi warna hitam ke kulit), atau bisa karena infeksi jamur di kuku itu sendiri. Begitu juga obat anti malaria, penyakit herediter (penyakit keturunan, misalnya penyakit addison), juga penoftalin pun bisa menjadikan kuku berubah coklat atau merah tua. Atau akibat kelainan metabolisme tembaga (Cu), penyakit bawaan, maka kuku berubah warna biru. Kuku biru juga bisa karena perdarahan di bawah kuku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuku berwarna putih terbatas karena pengaruh dari penyakit tifus, penderita ginjal kronis, juga penyakit bawaan maupun infeksi jamur. Warna putih ini sangat penting sekali pada kasus keracunan, yaitu keracunan arsen dengan gambaran khas pita putih melintang pada kuku (meen’s transverse band), juga keracunan talium dengan gambaran garis-garis putih. Keracunan talium ini tidak khas, karena gambaran garis putih juga bisa menyertai penyakit bawaan ataupun trauma otak yang hebat. Ada gambaran pita putih susu berbatas tegas yang menyeluruh disebabkan seseorang kekurangan vitamin B yang berat (penyakit pellagra). Sedangkan kuku dengan warna putih yang menyeluruh, bisa dijumpai pada penderita lever (sirosis hepatis, penyakit jantung dan penyakit kronis lainnya). Suatu keadaan yang normal pun untuk anak-anak umur 1-4 tahun menunjukkan gambaran kuku dengan warna putih di seluruh permukaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENCEGAH PENYAKIT DENGAN MERAWAT KUKU&lt;br /&gt;Kuku bersih dan sehat juga sebagai cerminan kesehatan tubuh seseorang. Sehingga, kuku yang bersih dan selalu dipotong, atau tidak dibiarkan panjang, ia bisa mengurangi resiko penyakit cacing, diare, desentri atau penyakit-penyakit lain yang ditimbulkan oleh kuman, parasit atau jamur yang suka bersembunyi di balik kuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa cara untuk menjaga kesehatan dan keindahan kuku, sekaligus jari-jari tangan maupun kaki :&lt;br /&gt;1. Hindari trauma (benturan) atau luka, dan jagalah agar kulit sekitar kuku tetap kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Jangan menggunakan sepatu atau sandal yang terlalu ketat, serta hindari pemakaian yang terlalu lama, terlebih dengan sepatu atau sandal tertutup, untuk mencegah kelembaban di ujung tangan atau kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Gunakan kaos kaki atau kaos tangan dalam keadaan bersih dan kering. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dianjurkan menggunakan sarung tangan yang terbuat dari karet dan katun ketika menggunakan sabun dan air dalam waktu lama atau kontak dengan bahan kimia rumah tangga maupun bekerja dengan pekerjaan yang berhubungan dengan tanah (berkebun, bertani dan lain-lain). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jangan menggunakan kuku untuk mengambil sesuatu, memukul maupun mencongkel kaleng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kebiasaan menggigit kuku harus ditinggalkan, karena bisa merusak bantalan atau dasar kuku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Potonglah kuku sesuai panjang jari. Kuku tumbuh dari akar kuku keluar ke bagian kuku yang bebas dengan kecepatan tumbuh kira-kira 1 mm tiap pekan dan kuku jari kaki pertumbuhannya lebih lambat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal memotong kuku ini, perlu juga diperhatikan anjuran sebagian ulama, sebagaimana disebutkan dalam Khishalu al Fithrah, Abu Syamah al Maqdisi hlm. 72, sebagian ulama ada yang menganjurkan mencuci ujung-ujung jari usai dipotong kukunya. karena, bila langsung dipakai untuk menggaruk sebelum dicuci, dapat menimbulkan efek yang buruk pada tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Tidak boleh membiarkan kuku lebih dari empat puluh hari, berdasarkan riwayat Anas Radhiyallahu 'anhu, bahwa ia bercerita: "Kami diberi batasan tempo untuk memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan mencukur bulu kemaluan dengan tidak membiarkannya lebih dari empat puluh malam". [HR Muslim, 257].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun sebenarnya untuk membersihkan kuku dilakukan berdasarkan kebutuhan. Kapan saja dibutuhkan untuk mengambilnya, maka itulah waktunya. Tetapi seyogyanya tidak melebihi empat puluh hari. [Lihat Shahihu Fiqh as Sunnah, 1/101].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Selalu mencuci tangan dari tempat kotor, sebelum makan serta sebelum dan sesudah bangun tidur. Mencuci tangan sebaiknya memakai sabun dan menggosok seluruh jari-jari, serta permukaan kuku maupun ujung jari-jari. Biasakan juga anak-anak mencuci tangan dan memotong kuku, serta belajar mengikuti perbuatan sunnah tersebut. Terlebih lagi anak-anak memang biasa senang bermain sesukanya, misalnya bermain tanah, pasir dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Bagi wanita yang menyukai, dibolehkan memoles kuku dengan bahan yang tidak menghalangi masuknya air ke permukaan kuku, supaya wudhu seseorang tetap sah. Pakailah pewarna kuku dengan bahan alami yang sudah dikenal. Misalnya daun pacar, daun inai atau al hinna. Demikian itu tidaklah dilarang, seperti halnya sebagian wanita pada zaman Rasulullah n juga mengecat kukunya dengan bahan alami tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA PENDAPAT AHLI KESEHATAN DAN PARA ULAMA TENTANG KUKU&lt;br /&gt;Ada sebuah riset ilmiah berharga yang dilakukan oleh salah satu universitas di Timur Tengah. Riset tersebut mengambil sample potongan kuku para pelajar dan meletakkannya ke dalam tempat khusus sesuai suhu tubuh. Kemudian tempat itu dilihat di bawah mirkoskop. Ternyata, hasilnya sangat menakjubkan. Yakni terdapat ratusan macam bakteri yang sangat berbahaya dalam kandungan potongan kuku tersebut. [Majalah al ‘Arabiyah, Edisi 179].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan cat cucu (kuteks), Dr. Mahmud Majid al Bayyar, konsultan ahli penyakit kulit dan kelamin mengatakan, bahwa cat kuku dengan campuran zat kimia, memiliki pengaruh berbahaya pada kuku. Karena, zat itu menutup jalan udara dan menghalangi sirkulasi kelembaban antara kuku dan udara. Dalam kondisi seperti ini, biasanya kuku menguning dan redup, tidak mengkilap, retak dan mudah pecah. Disamping itu, kulit yang dikelilingi kuku mudah terkena penyakit kulit dan gatal-gatal. Demikian juga dengan kuku palsu. Menurut Dr. al Bayyar, hal itu dapat membahayakan kuku asli, yang mengakibatkan luka, cacat dan menimbulkan gangguan di sela-sela kulit serta iritasi. [Koran al Madinah, Edisi 9125].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad bin al 'Utsaimin berkata,"Sungguh suatu hal yang rancu. Pada saat mereka mengakui diri mereka sebagai masyarakat maju dan modern, namun mereka masih membiarkan kuku mereka panjang. Padahal mereka mengetahui, bahwa hal itu bisa membawa kotoran dan penyakit, serta memasukkan manusia dalam kategori hewan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun berkenaan dengan cat kuku (manicure), Syaikh Muhammad bin ‘Utsaimin berpendapat, bahwa wanita dilarang menggunakan cat kuku ketika dia shalat, karena air wudhu tidak dapat masuk. Segala sesuatu yang menghalangi masuknya air wudhu, maka dilarang bagi orang yang shalat. Namun, jika sedang berhalangan atau sedang haidh, maka menggunakannya tidaklah mengapa. Hanya saja perlu untuk diketahui, bahwa itu termasuk identitas wanita kafir, dan tentu kita tidak boleh mengikutinya. [Lihat fatwa tentang wanita, hlm. 34].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh 'Abdul ‘Azis bin Baz juga berpendapat, meninggalkan cat kuku adalah lebih baik dan lebih terjaga (dari dosa). Wajib menghilangkannya sebelum bersuci dalam hadats besar dan kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Begitu bernilanya sepotong kuku. Sehingga kita perlu merawatnya sebagai sebuah fitrah dalam agama. Merawat kuku ini bukan dengan memanjangkannya, tetapi dengan memotong kuku. Demikian ini yang diajarkan sunnah. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَعَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ , عَنِ النَّبِيُّ قاَلَ : " اَلْفَطْرَةُ خَمْسٌ, أَوْ خَمْسٌ مِنَ الْفَطْرَةِ : اَلْخِتَانُ وَالاِسْتِدَادُ, وَ تَقْلِيْمُ الاَظَفَارِ, &lt;br /&gt;وَ نَقْفُ الايِطِ وَ قَصُّ الشَّارِبِ ". ( متفق عليه ) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fithrah itu lima atau lima di antara fithrah adalah : khitan, mencukur rambut kemaluan, memotong kuku, mencabut bulu ketiak dan menggunting kumis". [HR al Bukhari-Muslim dalam Riyadhus Shalihin, no. 1211].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits ini, yang dimaksud dengan sunnah fithrah adalah, apabila dikerjakan, maka orangnya berada dalam fithrah yang Allah telah menciptakan dirinya dalam kondisi seperti itu dan menyukainya. Karena orang tersebut akan berada dalam penampilan yang paling sempurna dan mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu merupakan sunnah yang disepakati oleh para nabi dan seluruh syari’at. Seolah-olah menjadi perkara yang melekat pada mereka. Disebutkan dalam Faidhu al Qadir al Munawi (1/38), yang kami nukil dari Shahihu Fiqhi as Sunnah hlm. 97, sesungguhnya, maslahat agama dan duniawi terselip pada sunnah-sunnah fitrah ini, yaitu memperbaiki penampilan dan membersihkan kondisi tubuh. &lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber Bacaan : &lt;br /&gt;- Shahihu Fiqhi as Sunnah, Abu Malik Kamal as Sayyid Salim, Maktabah Taufiqiyah. &lt;br /&gt;- Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, FKUI, Th. 1999. Edisi 3. &lt;br /&gt;- Zinatul Mar’ah, Muhammad bin Abdul Azis al Musnid, Darul Haq. Cet. 1V, Th. 2002. &lt;br /&gt;- Dan sumber-sumber lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-3624757150234863434?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/3624757150234863434/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/kuku-sehat-nan-indah-kuku-sesuai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/3624757150234863434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/3624757150234863434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/kuku-sehat-nan-indah-kuku-sesuai.html' title='KUKU SEHAT NAN INDAH, KUKU SESUAI FITHRAH'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-360191356847471569</id><published>2010-04-22T21:03:00.001+07:00</published><updated>2010-04-22T21:03:25.987+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kesehatan'/><title type='text'>KANKER LEHER RAHIM</title><content type='html'>Abad millenium merupakan abad tehnologi dan informasi. Media informasi yang canggih menyebabkan begitu mudahnya berkomunikasi. Bagaikan air mengalir, pergaulan bebas tak terelakkan. Dunia kesehatan pun terkena imbasnya. Penyakit baru bermunculan karena dampak pergaulan bebas dan ketidakpedulian manusia terhadap norma agama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanker merupakan penyakit yang telah merebak dalam akhir abad millenium ini. Penyakit ini bisa menyerang di seluruh organ tubuh manusia, tidak pandang bulu pria maupun wanita. Masing-masing penyakit kanker ini mempunyai nama tersendiri sesuai jenis kelamin serta organ tubuh yang ditempatinya. Ada kanker payudara, kanker prostat, kanker otak, kanker rahim, kanker vagina, dan masih banyak jenis kanker lainnya. Mari kita kaji berikut ini bagaimana kanker leher rahim yang merupakan salah satu jenis kanker itu menyerang seorang wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEFINISI KANKER&lt;br /&gt;Sebelum kita mengetahui apa itu kanker, terlebih dahulu harus kita ketahui istilah tumor. Tumor merupakan suatu benjolan atau pertumbuhan massa jaringan (istilah umum menyebutnya daging tumbuh) secara tidak wajar di organ tubuh manusia. Sedangkan kanker (carcinoma, cancer), yaitu suatu tumor dengan sifat keganasan. Artinya, sel-sel tumor tersebut bisa menyebar ke organ tubuh lainnya selain organ tubuh yang pertama diserangnya. Sifat keganasan ini juga berhubungan dengan harapan hidup seseorang tersebut. Dengan kata lain, sel-sel tumor sudah menggrogoti bagian-bagian tubuh manusia sehingga sulit untuk disembuhkan secara medis dan kematian pun biasa menanti penderita kanker (wallahu a’lam). Istilah kanker biasa disebut juga dengan tumor ganas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEHER RAHIM SERING TERKENA KANKER&lt;br /&gt;Sebenarnya kanker bisa menyerang di bagian manapun dari tubuh manusia. Semau dia hinggap dan cocok untuk menyerang manusia. Tentunya hal ini atas kehendak sang penguasa Allah, Rabb pencipta manusia itu sendiri. Tak terkecuali di rahim seorang wanita. Jenis kanker di organ reproduksi kaum hawa ini ada beberapa macam tergantung lokasi yang disenangi sel-sel kanker tersebut. Rahim, menurut bentuknya ada beberapa bagian, di antaranya badan rahim (corpus uteri) dengan rongga di dalamnya yang biasa untuk tempat kehidupan dan perkembangan janin setelah terjadi pembuahan, saluran penghubung dari rahim ke indung telur (tuba fallopi), dan kemudian leher rahim (serviks) yang merupakan bagian terendah dari rahim yang menonjol ke puncak liang vagina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kanker bisa bersarang di bagian-bagian rahim tersebut. Kanker leher rahim atau sering disebut dengan kanker serviks, merupakan bentuk keganasan yang terjadi di daerah leher rahim. Kanker inilah yang sering ditemukan di antara tumor ganas lainnya di bagian alat reproduksi wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;Penyakit kanker serviks pada awal permulaan adalah sebagai proses displasia sel di daerah leher rahim. Displasia yaitu suatu perkembangan sel atau jaringan yang tidak normal. Perkembangan yang berlangsung dari displasia ringan ke displasia berat kemudian menjadi prakanker memakan waktu bertahun-tahun, sebagian mengalami perubahan cepat, sebagian displasia menghilang tanpa pengobatan. Waktu rata-rata yang diperlukan sejak awal untuk mengalami displasia kemudian berkembang menjadi kanker yang bersifat invasi (sel-sel tumor menembus membran dinding leher rahim sampai menyerang lokasi dibawahnya) adalah 10-20 tahun, ada yang menyatakan 3-20 tahun dengan rata-rata 7 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa stadium kanker di lokasi serviks ini. Hal tersebut tergantung dari tingkat perkembangan dan pertumbuhan serta penyebaran atau invasi tumor ganas ke lokasi di sekitarnya maupun ke pembuluh getah bening serta pembuluh darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar ada 4 tingkat klinis perkembangannya. Pertama hanya terbatas pada leher rahim, biasanya besar tumor belum melebihi 1-3 mm. Tingkat kedua proses sudah menjalar ke 2/3 bagian atas vagina. Tingkat ketiga, proses invasi sudah berlanjut ke 1/3 bawah vagina. Tingkat terakhir/keempat sel-sel tumor telah mencapai ke organ dubur dan kandung kencing serta telah terjadi penyebaran (metastase) lebih jauh ke luar panggul misalnya ke kelenjar getah bening (limfa) di daerah leher maupun di paru-paru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum adanya tingkat pertama, sebenarnya sudah terdapat kelainan awal untuk mengarah kepada perkembangan tumor ganas, yaitu pada stadium 0 yang biasa disebut carcinaoma in situ atau tahap prakanker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GEJALA YANG TIMBUL&lt;br /&gt;Pada saat kelainan paling awal (prakanker) sering tak menimbulkan gejala. Pertumbuhan tumor belum tampak, tetapi hanya mirip dengan peradangan atau iritasi biasa atau kemerahan sehingga sangat sulit dibedakan dengan suatu pertumbuhan kanker. Bila tumor telah berkembang akan menghasilkan suatu massa atau benjolan di luar seperti bunga kol. Massa tumor ini mudah berdarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi gejala-gejala lain bisa dicurigai ke arah kanker leher rahim, yaitu keputihan yang bersifat encer serta tidak gatal, cairan yang keluar dari vagina ini lama-lama akan berbau busuk menyengat akibat infeksi pada massa tumor yang berkembang. Selain itu, perdarahan setelah bersenggama dapat pula terjadi akibat terbukanya pembuluh darah di massa tumor, dan lama-kelamaan bisa terjadi di luar senggama. Gejala lainnya adanya menstruasi kembali setelah masa menopause, terkadang juga perdarahan di luar siklus haid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya gejala keputihan maupun perdarahan baru muncul setelah kanker berkembang pada tingkat II-III. Untuk mengetahui gejala awal (tingkat 0-I) memang sulit sekali, karena dengan mata telanjang tidak bisa dilihat. Bisa diketahui hanya berdasarkan atas hasil laboratorium di bawah mrikoskop dari usapan di lokasi serviks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anemia (kekurangan darah) sering ditemukan sebagai akibat perdarahan dari vagina maupun akibat penyakit kanker itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DET EKSI AWAL MENGETAHUI KANKER LEHER RAHIM&lt;br /&gt;Deteksi dini terhadap kanker serviks bertujuan untuk mengetahui kondisi sel di leher rahim pada tahap prakanker, apakah sel-sel di leher rahim tersebut normal atau mengalami displasia. Hal ini bisa dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium dengan pemeriksaan pap smear.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pap smear di kenal di dunia internasional pada permulaan 1950-an. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mengusap daerah leher rahim melalui alat, kemudian dipindahkan ke suatu tempat khusus untuk dilihat di bawah mikroskop. Wanita yang masih gadis atau perawan tidak dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan pap smear ini. Namun untuk wanita pasca menikah sampai umur 40 tahun dianjurkan pemeriksaan berkala setiap tahun, dan di atas 40 tahun dilakukan 2 kali dalam satu tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAKTOR PENCETUS TIMBULNYA KANKER&lt;br /&gt;Ada beberapa pendapat sebagai pencetus timbulnya kanker leher rahim, karena memang penyebab pasti belum ada. Di antaranya adalah infeksi dan juga rangsangan terus-menerus pada leher rahim, misalnya karena coitus (hubungan seksual) dengan frekwensi tinggi dari si wanita, pergantian partner pada kegiatan sex dari pihak wanita, serta kecenderungan beberapa kali menikah. Pasangan dari laki-laki juga turut memberikan peranan untuk mencetuskan kanker ini, yaitu tidak dikhitan (circumsisi) dari buah zakarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian menunjukkan bahwa kanker leher rahim ini juga berkaitan dengan penyakit menular seksual dengan agen penyebaran adalah virus human papilloma. Ada juga yang menyatakan virus herpes tipe 2 sebagai biang keladinya, atau peradangan yang disebabkan parasit trichomonas vaginalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor risiko lainnya yaitu hubungan seksual (awal aktivitas sex) maupun menikah sebelum usia 17 tahun. Benda-benda yang sering merangsang serviks, sering juga turut sebagai pemicu munculnya kanker ganas di leher rahim. Ada kecurigaan juga, bahwa susu yang dikonsumsi secara berlebihan akan meningkatkan risiko penyakit di serviks, terutama kanker serviks karena terjadi ketidakseimbangan hormon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENCEGAH LEBIH AWAL DENGAN MENJAGA AGAMA&lt;br /&gt;Penyebab pasti kanker serviks dengan sifat ganasnya dan bisa menyebabkan kematian tersebut memang belum ditemukan. Namun dari uraian pencetus timbulnya kanker ini, kemungkinan yang paling mendekati adalah berganti-ganti pasangan dalam aktivitas sex dari para kaum hawa. Kondisi pergantian partner ini jelas biasa terjadi pada wanita-wanita PSK (Pekerja Sex Komersil) atau wanita tuna susila. Sudah pasti mereka juga mudah terpapar infeksi atau penyakit menular seksual yang cenderung sebagai pemicu penyakit ini. Kemudian yang paling mendekati lagi adalah mereka yang melakukan sanggama tanpa ikatan sah secara agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kondisi di atas, selain mereka melakukan perzinahan, mereka tidak mengenal atau meninggalkan mandi janabah sebagai syariat wajib setelah melakukan hubungan suami istri yang sah. Syariat ini dilakukan dalam rangka ketaqwaan dan keimanan seorang hamba terhadap Rabb pencipta manusia. Selain itu hikmah dengan adanya mandi janabah ini, sudah tentu kebersihan dan kesucian tubuh tetap terjaga dan terpelihara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan bahwa risiko terjadinya kanker leher rahim ini karena aktivitas sexual maupun mereka yang menikah di bawah usia 17 tahun, tentunya pernyataan yang kedua ini tidak kita ikuti sebagai seorang muslim. Namun kita kembalikan asumsi ini, bahwa kemungkinan adalah aktivitas sex mereka di bawah umur 17 tahun tanpa diikat dengan suatu pernikahan resmi secara agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah radhiyallahu’anhuma istri Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam pun menikah masih dalam usia dini, dan tentunya umat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagian telah dan akan mengikutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula kita sebagai muslim dengan aqidah yang benar akan menolak pendapat yang menyatakan bahwa penyakit ini akibat seringnya melahirkan dengan konsekwensi jumlah anak banyak, karena agama Islam melarang membatasi jumlah kelahiran kecuali ada udzur tertentu. Selain itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyukai umat Islam ini tidak sedikit pada hari Kiamat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;Kanker ganas di leher rahim kebanyakan menyerang para wanita yang cenderung tidak menjaga kesucian agamanya. Namun demikian, wanita baik-baik pun bisa saja terkena apabila terdapat imbas penyakit kelamin dari suami yang pernah kontak dengan para pekerja sek komersial. Juga tanpa ada latar belakang perbuatan maksiat, tidak menutup kemungkinan mereka kaum wanita bisa terserang kanker ganas ini, karena memang risiko terjadinya penyakit kanker leher rahim ini beragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tentu penyakit yang menimpa seseorang adalah takdir dan kehendak Allah. Musibah penyakit mempunyai manfaat terhadap manusia itu sendiri, di antaranya sebagai pelebur dosa seseorang, cobaan terhadap hamba-hambaNya, ujian kesabaran serta keimanan kepadaNya, mengembalikan para hamda kepada Rabb-nya dan mengingat kelalaiannya, serta masih banyak lagi faidah yang bisa diperoleh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbahagialah sebagai wanita dan istri shalihah mentaati Allah dan RasulNya, dan mampu menjaga agamanya. Sudah pasti Allah akan selalu menjaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ اِحْفَظِ اللهَ َتَجِدُهُ تُجَا هَكَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jagalah (agama) Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kamu dapati Dia di hadapanmu". [HR Tirmidzi, hadist hasan shahih]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;- Dunphy J, Pemeriksaan Fisik Bedah, Yayasan Essentia Medika, 1977.&lt;br /&gt;- Sarwono, Pengantar Ilmu Kandungan, Yayasan Bina Pustaka, 1991.&lt;br /&gt;- Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Doa dan Hiburan Bagi Orang Sakit dan Terkena Musibah, Pustaka Imam Syafi’i.&lt;br /&gt;- Dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun IX/1426H/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-360191356847471569?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/360191356847471569/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/kanker-leher-rahim.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/360191356847471569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/360191356847471569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/kanker-leher-rahim.html' title='KANKER LEHER RAHIM'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-8094505256552448046</id><published>2010-04-22T08:47:00.001+07:00</published><updated>2010-04-22T08:47:25.284+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ILMU'/><title type='text'>AL-QUR'AN BUKAN MAKHLUK</title><content type='html'>Makalah ini disadur dan disusun dengan rujukan utama Syarh al-'Aqidah al-Wasithiyah, yang disyarah oleh Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan –hafizhahullah-. Ditambah beberapa referensi lain yang akan dijelaskan pada catatan kaki insya Allah. Silahkan menyimak.&lt;br /&gt;_____________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AL-QUR`AN KALAM ALLAH, BUKAN MAKHLUK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan dalam kitab al-'Aqidah al-Wasithiyah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk beriman kepada Allah dan kepada kitab-kitab Allah ialah, beriman bahwa al-Qur`an Kalam Allah yang diturunkan dan bukan makhluk. Dari Allah al-Qur`an bermula dan kepada-Nya ia akan kembali. Dan sesungguhnya, Allah berbicara dengan al-Qur`an ini secara hakiki. Sesungguhnya al-Qur`an yang telah Allah turunkan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ini adalah perkataan Allah yang sebenarnya, bukan perkataan selain-Nya. Tidak boleh melepaskan kata-kata bahwa al-Qur`an adalah hikayat dari kalam Allah atau ungkapan tentang kalam Allah. Bahkan apabila manusia membacanya atau menuliskannya dalam mushaf-mushaf, al-Qur`an tetap tidak keluar dengan demikian dari keadaannya sebagai kalam Allah yang sebenarnya. Sesungguhnya suatu perkataan hanya akan disandarkan secara hakiki kepada yang sejak semula mengatakannya, dan tidak disandarkan kepada orang yang mengatakannya sebagai penyampai. Al-Qur`an adalah kalam Allah; baik huruf-hurufnya maupun makna-maknanya. Kalam Allah bukan hanya huruf-huruf saja tanpa makna, dan bukan pula makna-makna saja tanpu huruf.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah, yaitu perkataan Imam Thahawi rahimahullah. Beliau berkata: "Sesungguhnya al-Qur`an adalah kalam Allah, dari-Nya ia muncul sebagai perkataan, tanpa boleh dipertanyakan kaifiyah (bentuk)nya. Allah telah turunkannya kepada Rasul-Nya sebagai wahyu. Kaum Mukminin mempercayai al Qur`an benar-benar demikian keadaannya, dan mereka meyakini bahwa al-Qur`an kalam Allah Subhanahu wa Ta'ala yang sebenarnya; ia bukan makhluk seperti perkataan manusia. Maka barangsiapa yang mendengar al-Qur`an, lalu ia beranggapan bahwa al-Qur`an adalah perkataan manusia, maka ia kafir; Allah mencelanya, mencacatnya dan mengancamnya dengan Neraka Saqar, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(Orang kafir itu berkata): "Al-Qur`an ini tidak lain hanyalah perkataan manusia". [al-Muddatstsir/74:25]. Kita memahami dan kita meyakini bahwa, al-Qur'an itu adalah perkataan Pencipta manusia, tidak serupa dengan perkataan manusia.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pensyarah kitab al-'Aqidah ath-Thahawiyah, yaitu Imam Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi rahimahullah, terhadap apa yang dikatakan Imam Thahawi rahimahullah, ia mengatakan: "Ini merupakan kaidah dan pokok yang mulia dan agung di antara pokok-pokok agama. Banyak kelompok manusia yang tersesat dalam masalah ini. Apa yang dikatakan oleh Imam Thahawi rahimahullah ini merupakan kebenaran yang telah dibuktikan oleh dalil-dalil al-Qur`an dan as-Sunnah bagi siapa saja yang merenungkannya. Juga telah disaksikan oleh fitrah-fitrah sehat, fitrah yang belum mengalami perubahan akibat syubhat-syubhat, keragu-raguan dan pendapat-pendapat batil"[3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah madzhab Ahlu Sunnah wal jama'ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANDANGAN KELOMPOK AHLI BID'AH ENTANG AL-QUR`AN DAN KALAM ALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah ini pemaparan Syaikh Shalih al-Fauzan –hafizhahullah- secara garis besar (diterjemah secara ringkas dan bebas, Pen.) tentang beberapa perkataan kelompok ahli bid'ah mengenai al-Qur`an dan kalam Allah. Beliau menyebutkan sebagai berikut.[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Perkataan Jahmiyah.&lt;br /&gt;Mereka mengatakan, bahwa Allah tidak berbicara, tetapi Allah menciptakan perkataan pada diri selain-Nya dan menjadikan yang selain-Nya itu menjadi pengungkap perkataan Allah. Disebutkannya suatu perkataan sebagai perkataan Allah menurut mereka adalah majaz (kiasan), bukan hakiki, sebab Allah-lah yang menciptakan perkataan itu, sehingga Dia disebut sebagai Yang berkata, karena Dialah pencipta perkataan itu pada diri selain-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Jahmiyah ini batil, bertentangan dengan dalil-dalil sam'i (al-Qur`an dan as-Sunnah) maupun dalil-dalil akal. Juga bertentangan dengan perkataan para salaf dan imam-imam kaum Muslimin. Karena sesungguhnya tidaklah masuk akal seseorang disebut sebagai orang yang berkata, kecuali jika perkataan itu benar-benar ada pada dirinya. Bagaimana mungkin Allah disebut telah berkata, padahal yang berkata adalah selain Allah? Bagaimana mungkin disebut perkataan Allah, padahal ia adalah perkataan selain-Nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah di atas, bahwa "dari Allah al-Qur`an bermula dan kepada-Nya ia akan kembali. Dan sesungguhnya Allah berbicara dengan al-Qur`an ini secara hakiki. Sesungguhnya al-Qur`an yang telah Allah turunkan kepada Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ini adalah perkataan Allah yang sebenarnya, bukan perkataan selain-Nya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud Syaikhul-Islam dengan perkataannya ini adalah, untuk membantah orang-orang Jahmiyah yang mengatakan bahwa al-Qur`an bermula dari selain Allah, dan bahwa Allah tidak berbicara dengan al-Qur`an itu secara hakiki, tetapi majaz. Al-Qur`an (menurut mereka) adalah perkataan selain Allah yang disandarkan sebagai perkataan Allah karena Dialah Penciptanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Perkataan Kullabiyah, para pengikut 'Abdullah bin Sa'id bin Kullab.&lt;br /&gt;Mereka beranggapan bahwa al-Qur`an merupakan hikayat dari kalam Allah. Karena kalam Allah menurut mereka adalah ma'na yang ada pada Dzat Allah yang senantiasa tetap pada-Nya, sebagaimana tetapnya sifat hidup dan sifat ilmu pada Dzat Allah. Tidak berkaitan dengan kehendak dan iradah Allah. Makna yang ada pada Dzat Allah ini bukan makhluk. Tetapi lafazh-lafazh yang keluar yang terdiri dari huruf dan suara adalah makhluk. Lafazh-lafazh ini merupakan hikayat dari kalam Allah, dan bukan kalam Allah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga : Perkataan kaum Asy'ariyah, orang-orang yang mengaku pengikut Imam Abu al-Hasan al-Asy'ari rahimahullah.&lt;br /&gt;Mereka mengatakan bahwa al-Qur`an adalah ungkapan tentang kalam Allah. Sebab kalam Allah menurut mereka adalah: Ma'na yang ada pada dzat Allah. Ma'na ini bukan makhluk. Adapun lafazh-lafazh yang dibaca, merupakan ungkapan tentang makna yang ada pada Dzat Allah. Lafazh-lafazh ini adalah makhluk. Ia merupakan ungkapan dari kalam Allah dan tidak dikatakan hikayat dari kalam Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian ulama mengatakan, perselisihan pendapat antara Asy'ariyah dengan Kullabiyah hanyalah perselisihan secara redaksional saja. Sebenarnya tidak ada perselisihan di dalamnya. Sebab, baik Asy'ariyah maupun Kullabiyah sama-sama mengatakan bahwa al-Qur`an terdiri dari dua macam. Yaitu, terdiri dari lafazh dan makna. Lafazhnya adalah makhluk, yakni lafazh-lafazh yang ada dan dibaca ini. Sedangkan maknanya bersifat qadim (sejak dahulu); ia ada pada Dzat Allah. Ia merupakan makna yang satu, tidak dapat terbagi-bagi dan tidak dapat berbilang. Ini bukan makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti perkataan Asy'ariyah dan perkataan Kullabiyah, andaikata tidak dapat dikatakan sama, maka paling tidak saling berdekatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua pendapat itu sama-sama batil. Sebab al-Qur`an tidak dapat dikatakan hikayat dari kalam Allah seperti perkataan Kullabiyah, dan tidak dapat pula dikatakan ungkapan dari kalam Allah seperti perkataan Asy'ariyah. Bahkan al-Qur`an adalah kalam Allah itu sendiri, baik lafazh maupun maknanya, di manapun didapatkan, baik dihafal dalam dada-dada manusia maupun ditulis dalam mushaf-mushaf. Al-Qur`an tetap merupakan kalam Allah yang sebenarnya, bukan makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat : Perkataan Mu'tazilah.&lt;br /&gt;Mereka mengatakan bahwa, kalam Allah hanyalah huruf tanpa makna. Menurut mereka, apa yang disebut perkataan atau kalam, ketika dinyatakan secara mutlak hanyalah nama bagi suatu lafazh saja. Sedangkan makna bukan merupakan bagian dari apa yang disebut kalam. Makna hanyalah sesuatu yang ditunjukkan oleh apa yang disebut kalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat Mu'tazilah ini merupakan kebalikan dari pendapat Asy'ariyah dan Kullabiyah yang mengatakan, bahwa kalam Allah adalah makna saja tanpa huruf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian secara ringkas pemaparan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;Semua pernyataan kelompok di atas adalah batil. Yang benar ialah pernyataan Ahlu Sunnah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah dan Imam Thahawi di atas. Salah satu dalilnya, ialah seperti yang dikemukakan oleh Syaikh Shalih al-Fauzan, yaitu firman Allah lSubhanahu wa Ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan jika seseorang dari orang-orang musyirikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah". [at-Taubah/9:6].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud mendengar pada ayat ini, yaitu mendengar melalui bacaan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang kedudukannya sebagai penyampai. Sedangkan bacaan al-Qur`an dari Rasulullah yang didengar itu tetap disebut kalam Allah. Maka hal ini membuktikan bahwa perkataan hanyalah diakukan kepada yang sejak semula mengatakannya. Bukan diakukan kepada penyampainya.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi`i rahimahullah juga mengatakan bahwa al-Qur`an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Dan barangsiapa yang mengatakan al-Qur`an makhluk, maka ia kafir [6]. Imam Ahmad bin Hanbal pun mengatakan hal yang sama dalam Ushulus-Sunnah[7].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah madzhab Ahlu Sunnah tentang al-Qur`an dan tentang kalam Allah. Wallahu Waliyyut-Taufiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05//Tahun V/1422H/2001M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;br /&gt;_______&lt;br /&gt;Footnote&lt;br /&gt;[1]. Lihat Syarh al-'Aqidah al-Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, Maktabah al-Ma'arif, Riyadh, Cetakan VI, Tahun 1413 H/1993 M, halaman 136.&lt;br /&gt;[2]. Lihat Syarh al-'Aqidah ath-Thahawiyah, Imam Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi; Tahqiq wa Muraja'ah: Jama'ah minal-'Ulama; Takhrij: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Penerbit al-Maktab al-Islami, Beirut, Cetakan IX, Tahun 1408 H/1998 M, halaman 168.&lt;br /&gt;[3]. Lihat Lihat Syarh al-'Aqidah ath-Thahawiyah, Imam Ibnu Abi al-Izz al-Hanafi; Tahqiq wa Muraja'ah: Jama'ah minal-'Ulama; Takhrij: Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.&lt;br /&gt;[4]. Lihat Syarh al-'Aqidah al-Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, halaman 136-139.&lt;br /&gt;[5]. Lihat Syarh al-'Aqidah al-Wasithiyah, Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, halaman 138.&lt;br /&gt;[6]. Lihat catatan kaki dari kitab Ushulus-Sunnah, Imam Ahmad dari riwayat 'Abdus bin Malik al-Aththar, Syarh dan Ta'liq: al-Walid bin Muhammad Nabih bin Saif an-Nashr. Taqdim dan Ta'liq: Syaikh Muhammad bin 'Id al-Abbasi. Penerbit Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, distribusi Maktabah al-'Ilmu, Jeddah, Cetakan I, 1416 H./1996 M, halaman 50.&lt;br /&gt;[7]. Lihat kitab yang sama pada ashl yang ke 13 &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-8094505256552448046?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/8094505256552448046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/al-qur-bukan-makhluk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/8094505256552448046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/8094505256552448046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/al-qur-bukan-makhluk.html' title='AL-QUR&amp;#39;AN BUKAN MAKHLUK'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-1016584207633388499</id><published>2010-04-22T08:46:00.001+07:00</published><updated>2010-04-22T08:46:14.116+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Halal dan Haram'/><title type='text'>HARAMNYA BERJUAL BELI BARANG-BARANG YANG BURUK DAN KOTOR</title><content type='html'>Pembaca budiman,&lt;br /&gt;Rubrik Hadits pada edisi ini, kami angkat dari kitab Taisir al ‘Allam Syarhu ‘Umdati al Ahkam, Bab Tahrimi Bai’i al Khaba-its, karya asy Syaikh al ‘Allamah Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Alu Bassam, Tash-hih dan Takhrij Muhammad bin al Mijqan, Penerbit Daar al Mughni li an Nasyri wa at Tawzi’, KSA, Riyadh, Cetakan I, Tahun 1421 H/ 2000 M. Pada hadits nomor 264, halaman 671-677. (Dan pada sebagian cetakan lain, bernomor 265). Dengan beberapa tambahan penjelasan yang diperlukan. (Redaksi)&lt;br /&gt;_______________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sifat-sifat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang tercantum pada kitab-kitab terdahulu, dan lewat lisan para nabi –‘alaihimush shalatu was salam-, yaitu beliau menghalalkan yang baik, dan mengharamkan yang buruk dan kotor.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini berlaku umum pada seluruh makanan, minuman, pakaian, adat-istiadat dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian ini juga merupakan sebuah kaidah agung, memiliki fungsi memelihara segala hal yang baik, dan meniadakan yang buruk. Sebagaimana kaidah ini juga merupakan standar pengqiyasan (tolak ukur) yang benar terhadap hal lainnya. Sehingga, kaidah ini merupakan kesempurnaan syariat (Islam), sekaligus salah satu unsur abadinya syariat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah hadits di bawah berikut. Pasti akan engkau dapatkan, hal-hal yang diharamkan di dalam hadits ini terbatas jumlahnya, sebagai isyarat kepada hal-hal lainnya yang dapat merusak agama, tubuh, dan akal. Sehingga, penyebutan beberapa hal ini merupakan peringatan dan mewakili yang sejenis dan semacamnya. Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أََنَّـهُ سَمِعَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ عَامَ الْـفَتْحِ وَهُوَ بِمَـكَّةَ: ((إِنَّ اللهَ وَرَسُوْلَهُ حَرَّمَ بَـيْعَ الْـخَمْرِ وَالْـمَيْـتَةِ وَالْـخِنْـزِيْرِ وَالأَصْـنَامِ))، فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَرَأَيْتَ شُحُوْمَ الْمَـيْـتَةِ؟ فَإِنَّـهَا يُطْلَى بِهَا السُّـفُنُ وَيُدْهَنُ بِهَا الْجُـلُوْدُ وَيَسْـتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ؟ فَقَالَ: ((لاَ، هُوَ حَرَامٌ))، ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ: ((قَاتَلَ اللهُ الْـيَهُوْدَ! إِنَّ اللهَ لَمَّا حَرَّمَ شُحُوْمَهَا جَمَلُوْهُ، ثُمَّ بَاعُوْهُ فَأَكَلُوْا ثَمَنَهُ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'anhuma, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah n bersabda pada tahun Fathu (Makkah), dan ia berada di Makkah, “Sesungguhnya Allah dan RasulNya mengharamkan jual-beli khamr (minuman keras, segala sesuatu yang memabukkan), bangkai, babi, dan berhala,” lalu dikatakan (kepada beliau),"Wahai, Rasulullah. Bagaimana menurutmu tentang lemak bangkai? (Karena) sesungguhnya lemak bangkai (dapat digunakan) untuk melapisi (mengecat) perahu, menyamak kulit, dan digunakan orang-orang untuk lampu-lampu pelita (mereka)?” Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Tidak, (jual- beli) itu adalah haram,” kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ketika itu,"Semoga Allah memerangi Yahudi! Sesungguhnya Allah, tatkala mengharamkan atas mereka lemak bangkai, mereka mencairkannya, kemudian menjualnya, lalu memakan harganya.”[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENJELASAN KOSA KATA HADITS&lt;br /&gt;1. (عَامَ الْـفَتْحِ): adalah Fathu (penaklukan) Makkah, pada tahun ke-8 Hijriyah pada bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;2. (حَرَّمَ) : dengan pengembalian dhamir (kata ganti) kepada satu orang, sebagai bentuk etika kepada Allah Yang Maha Tinggi KeagunganNya dan Maha Satu KemulianNya.&lt;br /&gt;3. (الْـمَيْـتَة) : dengan harakat fat-hah di atas huruf mim, yaitu hewan yang mati begitu saja, atau hewan yang disembelih, tetapi menyembelihnya tidak sesuai syariat.&lt;br /&gt;4. (الأَصْـنَام) : bentuk tunggalnya (singular) : (صَنَمٌ), yaitu berhala yang terbuat dari batu atau pohon atau yang lainnya, dengan bentuk tertentu, untuk disembah.&lt;br /&gt;5. (أَرَأَيْتَ شُحُوْمَ الْمَـيْـتَةِ؟) : maksudnya, beritahukan kepadaku tentang hukum menjual lemak bangkai, apakah hal ini halal dengan sebab banyak manfaatnya?&lt;br /&gt;6. (يَسْـتَصْبِحُ بِهَا النَّاسُ) : yaitu, mereka menggunakan lemak bangkai untuk penerangan tatkala mereka menjadikannya pada lampu-lampu pelita.&lt;br /&gt;7. (هُوَ حَرَامٌ) : “Ia haram”, kata ganti ini kembalinya kepada “berjual-beli”.&lt;br /&gt;8. (قَاتَلَ اللهُ الْـيَهُوْدَ!) : maksudnya, semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi, disebabkan perbuatan licik dan bathil yang telah mereka lakukan. Sebagaimana pada sabdanya ini terdapat peringatan atas keharaman berjual-beli hal-hal ini.&lt;br /&gt;9. (جَمَلُوْهُ) : dengan harakat fat-hah pada huruf jim, dan mim tanpa tasydid. Yaitu, mencairkannya. Dan makna (الجَمِيْل), yaitu lemak cair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKNA GLOBAL HADITS&lt;br /&gt;Syariat Islam yang mulia ini datang dengan membawa segala kemaslahatan bagi umat manusia, serta membawa peringatan dari segala yang membahayakan akal, tubuh dan agama. Sehingga, syariat Islam membolehkan semua yang baik -yaitu sebagian besar makhluk Allah yang telah Dia ciptakan untuk manusia di bumi ini- dan mengharamkan hal-hal yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara sekian macam hal buruk yang telah diharamkan, ada empat hal yang dijelaskan dalam hadits di atas. Setiap macamnya menunjukkan dan mewakili hal buruk lainnya yang semisal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, al khamr, yaitu segala sesuatu yang dapat memabukkan dan menutup akal, merupakan sumber keburukan. Dengan mengkonsumsinya, seseorang kehilangan nikmat akal yang telah Allah muliakan dengannya. Sehingga, seorang yang sedang mabuk akan melakukan dosa-dosa besar. Ia akan menebarkan permusuhan sesama kaum Muslimin. Khamr ini pun menghalanginya dari seluruh kebaikan, dan dari berdzikir kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan hal berikutnya, yaitu al maitah (bangkai). Yaitu hewan yang biasanya tidak mati, melainkan dengan sebab penyakit atau bakteri mikroba. Atau juga dengan sebab tertahannya darah hewan tersebut, yang menyebabkan kematian. Maka, mengkonsumsinya mendatangkan resiko yang sangat besar bagi tubuh dan membinasakan kesehatan. Belum lagi, bangkai itu menjijikkan, berbau busuk dan najis. Setiap jiwa pasti tidak menyukainya [3]. Seandainya bangkai itu tetap dimakan, walaupun dengan tidak suka dan dengan berhati-hati, ia tetap penyakit (bagi yang memakannya) di atas penyakit, dan musibah di atas musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang berikutnya, Rasululah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan hewan yang paling buruk, paling tidak disukai dan paling menjijikkan, yaitu babi. Babi adalah hewan yang mengandung berbagai macam penyakit dan bakteri. Hampir-hampir panasnya api tidak dapat membunuh dan mematikannya. Maka, bahayanya sangat besar dan kerusakannya sangat banyak. Di samping itu, babi ini pun merupakan hewan yang jorok dan najis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan sesuatu yang bahayanya jauh lebih besar (dari yang sebelumnya), kerusakannya pun sangat besar, yaitu berhala. Berhala merupakan sumber kesesatan dan kesyirikan manusia. Dengannya, Allah Subhanahu wa Ta'ala dimusuhi, dipersekutukan dalam ibadah dan hak-hakNya. Maka, berhala adalah sumber kesesatan dan kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah Allah Azza wa Jalla mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab, melainkan untuk memerangi sesembahan (selain Allah) ini, serta untuk menyelamatkan manusia dari keburukannya. Betapa banyak manusia yang terfitnah (terpedaya) dengannya! Betapa banyak umat yang sesat karenanya! Dan betapa banyak manusia masuk ke dalam neraka disebabkan olehnya.&lt;br /&gt;Maka, empat hal ini adalah hal-hal buruk dan merusak akal, tubuh dan agama. Empat hal ini sebagai contoh agar manusia menjauhi semua yang buruk. Dan hal ini tidaklah diharamkan, melainkan untuk melindungi akal, tubuh, dan agama dari apa yang dapat merusaknya. Sehingga menjauhi hal-hal ini merupakan tindakan preventif dari segala yang merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAIDAH HADITS&lt;br /&gt;1. Haramnya berjual beli khamr, membuatnya, segala sesuatu yang membantu terjadinya, meminumnya dan berobat dengannya. Dan termasuk dalam makna khamr, yaitu segala sesuatu yang dapat memabukkan, baik berupa benda cair ataupun padat. Terbuat dari apapun. Sama saja, terbuat dari anggur, kurma, ataupun gandum. Termasuk pula ke dalamnya ganja, opium, rokok, marijuana, dan yang sejenisnya. Seluruhnya adalah buruk dan haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Seluruh hal-hal tadi diharamkan karena mengandung kerusakan dan bahaya yang besar terhadap akal, tubuh, harta, dan akibat-akibat buruk lainnya berupa permusuhan, tindak kriminalitas, dan mara bahaya lainnya yang tidak tersembunyi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Haramnya bangkai, baik dagingnya, lemaknya, darahnya, urat-uratnya, dan segala sesuatu yang masuk kepadanya kehidupan dari bagian-bagian tubuhnya. Semua itu diharamkan, karena keberadaan sesuatu yang membahayakan tubuh. Selain itu, bangkai itu juga buruk, menjijikkan dan najis. Bangkai itu kotor dan tidak disukai. Dengan sebab inilah, juga dengan sebab tidak ada manfaat padanya, maka diharamkan memperjual-belikannya, kecuali bangkai hewan yang dijelaskan kehalalannya oleh syari’at seperti bangkai binatang laut dan bangkai belalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jumhur ulama (mayoritas ulama) mengecualikan dari keharaman tadi, rambut dan bulunya. Karena keduanya tidak berhubungan dengannya. Maksudnya, tidak termasuk ke dalamnya kehidupan. Sehingga, keduanya tidak termasuk yang kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kulitnya, hukumnya najis jika belum disamak. Namun, jika sudah disamak dengan baik, dan sudah dihilangkan segala sisa buruk yang menempel padanya, hukumnya halal dan suci, menurut mayoritas ulama. Dan sebagian ulama (lain) membatasi penggunaannya untuk hal-hal yang kering saja. Namun, pendapat yang pertama adalah pendapat yang lebih utama (untuk dibenarkan), karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;((يُـطَـهِّـرُهَا الْـمَاءُ وَالْـقَرَظُ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kulit itu dapat disucikan oleh air dan al Qarazh".[4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Haramnya berjual-beli hewan babi. Haram pula memakannya, menyentuhnya dan mendekatinya. Karena babi adalah hewan yang buruk dan kotor, yang terdapat padanya kerusakan murni, tidak ada maslahatnya sama sekali. Bahaya darinya yang menimpa tubuh dan akal sangatlah besar. Karena babi dapat meracuni tubuh dengan segala penyakit yang terkandung padanya. Mengakibatkan orang yang mengkonsumsinya memiliki sifat buruk pula seperti babi. Ini merupakan kenyataan yang telah terjadi, dan telah kita saksikan pada orang-orang yang terbiasa mengkonsumsinya. Mereka juga dikenal dengan frigiditas (sifat dingin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Haramnya berjual-beli berhala. Dikarenakan dapat mengakibatkan kerusakan yang sangat besar bagi akal dan agama. Terlebih lagi jika berhala ini dijadikan sebagai sesembahan dan menyebarkannya dalam rangka membangkang kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan termasuk dalam kategori berhala adalah salib, yang merupakan syi’ar orang-orang Nashrani. Juga patung-patung para tokoh dan pembesar, jula gambar-gambar yang terdapat pada majalah-majalah, koran-koran dan lainnya. Terlebih lagi gambar-gambar porno yang terpampang vulgar, merupakan fitnah (besar) bagi para pemuda, dan merangsang nafsu birahi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk pula, film-film sinema. Dan terlebih lagi film-film porno yang vulgar dan menjijikkan, menunjukkan kefajiran tidak adanya rasa malu sama sekali (para pelakunya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini merupakan keburukan dan kerusakan, yang sama sekali tidak ada kebaikan dan kemaslahatannya. Namun, demikianlah, (kini) manusia sudah terbiasa dengan kemungkaran. Bahkan, seakan-akan sudah menjadi hal yang ma’ruf (baik, lumrah dan tidak bermasalah). Allahul Musta’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Meninggalkan (menolak) kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil kemaslahatan. Terlebih lagi, jika kerusakan tersebut ternyata lebih kuat daripada kemaslahatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dari kaidah ini), sesungguhnya kemaslahatan yang terdapat pada lemak bangkai tetap tidak dapat membuatnya boleh untuk diperjual-belikan dan bermu’amalah dengannya. Oleh karena itu, tatkala para sahabat menyebutkan beberapa faidahnya, dengan harapan membuatnya boleh untuk diperjual- belikan dan bermu’amalah dengannya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tetap menjawab : لاَ، هُوَ حَرَامٌ (Tidak; jual- beli itu adalah haram).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Menggunakan sesuatu yang najis dengan cara yang tidak melampaui batas (tidak menularkannya pada yang lain) adalah boleh (tidak bermasalah), karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melarang hal itu kepada para sahabat, tatkala mereka memberitahukan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan dhamir (kata ganti) pada sabdanya: (هُوَ حَرَامٌ), kembali kepada jual-beli, bukan kepada penggunaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Sesungguhnya hiilah (berusaha mencari-cari pembenaran dengan cara licik dan menipu pada sesuatu yang telah diharamkan Allah) adalah, sebab datangnya murka dan laknat Allah. Karena orang yang melakukan sesuatu, dan ia sudah mengetahui keharaman sesuatu tersebut lebih ringan (dosanya), daripada orang yang melakukan sesuatu yang haram tersebut dengan sengaja berusaha mencari-cari alasan untuk membenarkan perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena orang yang pertama, ia mengakui telah berbuat dosa dan melampaui batasan-batasan Allah, dan masih bisa diharapkan darinya untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah. Sedangkan orang yang kedua, ia berusaha menipu Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan usahanya dalam mencari-cari alasan untuk membenarkan perbuatannya akan terus membuatnya berperilaku demikian, sehingga ia sulit untuk bertaubat. Bahkan ia pun terhalangi dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Sesungguhnya mencari-cari pembenaran dengan cara yang licik dan menipu pada sesuatu yang telah diharamkan Allah adalah kebiasaan orang-orang Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Cintanya orang-orang Yahudi terhadap harta dan materi sudah lama (sejak dahulu). Hal inilah yang membuat mereka sampai melakukan hiilah, membatalkan perjanjian-perjanjian, dan terbiasa melakukan hal-hal yang haram. Mereka begitu terus-menerus bergelimang dalam kesesatan. Semoga Allah memporakporandakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan haramnya hal-hal dalam hadits ini, mereka menyebutkan beberapa manfaat lemak bangkai yang terbiasa mereka pergunakan, dengan harapan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengecualikannya dari hal-hal yang diharamkan dalam hadits. Namun Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, jangan kalian berjual-beli dengannya, karena berjual-beli dengannya haram, manfaat-manfaat (yang disebutkan) tidak membuatnya menjadi halal. Namun Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak melarang mereka untuk menggunakannya saja, sebagaimana yang telah mereka sebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, salah satu sempurnanya bentuk kasih-sayang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan nasihatnya kepada umatnya, beliau memperingatkan umatnya, agar jangan terjerumus ke dalam apa-apa yang dilakukan orang-orang Yahudi, berupa menghalalkan hal-hal yang haram dengan melakukan hiilah yang hina dan terungkap. Hal ini, agar umatnya tidak terkena laknat dan murka Allah Subhanahu wa Ta'ala . Lalu akhirnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakan agar Allah melaknat orang-orang Yahudi, agar umatnya memahami betapa besar dosa yang telah dilakukan orang-orang Yahudi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi juga menerangkan kepada umatnya, yaitu tatkala Allah Subhanahu wa Ta'ala mengaharamkan atas orang-orang Yahudi lemak bangkai, justru mereka menyengaja –dengan maksud untuk menipu Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kecintaan mereka terhadap harta dan materi- mencairkan lemak tersebut yang telah diharamkan kepada mereka untuk dimakan. Kemudian mereka pun menjualnya, dan akhirnya memakan harganya (hasil penjualannya). Mereka mengira, perbuatannya itu bukan perbuatan maksiat. Mereka mengira, bahwa mereka tidak memakan lemak bangkai itu secara langsung. Mereka mengira, yang mereka makan adalah harganya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah substansi bermain-main dengan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan inilah substansi meremehkan hukum-hukum dan batasan-batasan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan sungguh, hal ini telah menimpa kita (sebagian kaum Muslimin), berupa hiilah dan menipu Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ini sebagai bukti kebenaran sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;((لَتَرْكَبُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَـبْلَكُمْ، حَذْوَ الْـقُذَّةِ بِالْـقُذَّةِ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَدَخَلْتُمُوْهُ))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sedikit demi sedikit, sampai-sampai jika mereka masuk ke dalam lubang biawak pun, kalian akan memasukinya (pula)". [5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala perlindungan dan hidayahNya. Memperlihatkan kepada kita yang haq adalah haq, serta memberikan rizki kepada kita untuk mengikutinya. Dan memperlihatkan kepada kita yang bathil adalah bathil, serta memberikan rizki kepada kita untuk menjuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Haramnya hiilah, ia tidak merubah hakikat sesuatu, walaupun sesuatu tersebut dinamakan bukan dengan namanya, ataupun dihilangkan sebagian sifatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Sesungguhnya syariat ini datang dengan membawa seluruh kebaikan, dan memperingatkan dari segala hal yang di dalamnya terdapat keburukan, atau pun keburukannya lebih besar dari kebaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Sesungguhnya hal-hal yang diharamkan di dalam hadits ini sebagai contoh yang mewakili hal-hal lainnya yang semisal dengannya. Yang bahayanya kembali kepada agama, akal, tubuh, kebiasaan dan akhlak. Sehingga, seolah-olah hadits ini dibawakan untuk menjelaskan segala macam yang kotor dan buruk.[6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’ &amp; Mashadir :&lt;br /&gt;1. Al Quran dan terjemahnya, Cetatkan Mujamma’ Malik Fahd, Saudi Arabia.&lt;br /&gt;2. Shahih al Bukhari, al Bukhari (194-256 H), tahqiq Musthafa Dib al Bugha, Daar Ibni Katsir, al Yamamah, Beirut, Cet. III, Th. 1407 H/1987 M.&lt;br /&gt;3. Shahih Muslim, Abu al Husain Muslim bin Hajjaaj al Qusyairi an Naisaburi (204-261 H), tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi, Daar Ihya at Turats, Beirut.&lt;br /&gt;4. Sunan Abi Dawud, Abu Daud Sulaiman bin al Asy’ats as Sijistani (202-275 H), tahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Daar al Fikr.&lt;br /&gt;5. Sunan an Nasaa-i (al Mujtaba), Abu an Nasaa-i, 215-303 H, tahqiq Abdul Fattah Abu Ghuddah, Maktab al Mathbu’at, Halab, Cet. II, Th. 1406 H/1986M.&lt;br /&gt;6. Musnad al Imam Ahmad, Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy Syaibani (164-241 H), Mu’assasah Qurthubah, Mesir.&lt;br /&gt;7. An Nihayah fi Gharib al Hadits wa al Atsar, Ibnu al Atsir, 544-606 H, tahqiq Khalil Ma’mun Syiha, Daar al Ma’rifah, Beirut-Libanon, Cet. I, Th. 1422 H/ 2001 M.&lt;br /&gt;8. Shahih Sunan Abi Daud, al Albani, 1332-1420 H, Maktabah al Ma’arif, Riyadh.&lt;br /&gt;9. Shahih Sunan an Nasaa-i, al Albani, Maktabah al Ma’arif, Riyadh.&lt;br /&gt;10. Shahih al Jami’ ash Shaghir, al Albani, al Maktab al Islami.&lt;br /&gt;11.As Silsilah ash Shahihah, al Albani, Maktabah al Ma’arif, Riyadh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;br /&gt;________&lt;br /&gt;Footnote&lt;br /&gt;[1]. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوباً عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ يَأْمُرُهُم بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَآئِثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ إِصْرَهُمْ وَالأَغْلاَلَ الَّتِي كَانَتْ عَلَيْهِمْ فَالَّذِينَ آمَنُواْ بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُواْ النُّورَ الَّذِيَ أُنزِلَ مَعَهُ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (al Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung”. [al A’raaf/ 7 : 157].&lt;br /&gt;[2]. HR al Bukhari, 2/779 no. 2121; Muslim, 3/1207 no. 1581; dan lain-lain.&lt;br /&gt;[3]. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain. Dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang". [al Hujuraat/ 49 : 12].&lt;br /&gt;[4]. HR Abu Dawud, 4/66 no. 4126; an Nasaa-i, 7/174 no. 4248; Ahmad, 6/333 no. 26876; dan lain-lain dari hadits Maimunah Radhiyallahu 'anha, isteri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;Dan hadits ini dishahihkan oleh asy Syaikh al Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Abi Dawud, Shahih Sunan an Nasaa-i, Shahih al Jami’ (5234), as Sisilah ash Shahihah (5/194).&lt;br /&gt;Al Qarazh adalah daun dari sejenis pohon berduri yang biasa dipakai oleh orang-orang Arab untuk menyamak kulit. Lihat keterangan ini pada footnote kitab Taisir al ‘Allam Syarhu ‘Umdati al Ahkam, halaman 675.&lt;br /&gt;[5]. HR al Bukhari, 3/1274 no. 3269; Muslim, 4/2054 no. 2669; dan lain-lain, dari hadits Abu Sa’id al Khudri Radhiyallahu 'anhu dengan sedikit perbedaan lafazh.&lt;br /&gt;Makna (الْـقُذَّة), yaitu bulu yang biasanya diletakkan di belakang anak panah yang dipanahkan.&lt;br /&gt;Lihat keterangan ini pada footnote kitab Taisir al ‘Allam Syarhu ‘Umdati al Ahkam, halaman 677. Dan lihat pula kitab an Nihayah fii Gharib al Hadits wa al Atsar, 2/427.&lt;br /&gt;[6]. Asy Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Alu Bassam berkata,"Dari makna inilah judul bab diambil, dan telah kami jadikan pada muqaddimah penjelasan hadits ini." Lihat pada footnote kitab Taisir al ‘Allam Syarhu ‘Umdati al Ahkam, halaman 677.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-1016584207633388499?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/1016584207633388499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/haramnya-berjual-beli-barang-barang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/1016584207633388499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/1016584207633388499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/haramnya-berjual-beli-barang-barang.html' title='HARAMNYA BERJUAL BELI BARANG-BARANG YANG BURUK DAN KOTOR'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-5647781409207770841</id><published>2010-04-22T08:45:00.001+07:00</published><updated>2010-04-22T08:45:00.885+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nabi'/><title type='text'>NABI MAUPUN WALI ADALAH MANUSIA BIASA, TIDAK BERHAK DISEMBAH!</title><content type='html'>Muhammad adalah 'abduhu wa rasuluhu. Pensifatan dari Allah bagi Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ini merupakan sebutan yang paling bagus. 'Abduhu (yang hambaNya) selain menunjukkan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai hamba yang benar-benar tunduk, juga mengandung makna, beliau adalah manusia biasa seperti kita sebagai makhluk yang tidak boleh disembah. Adapun rasuluhu (utusanNya) menunjukkan, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang memiliki keistimewaan, sehingga beliau tidak boleh disepelekan.&lt;br /&gt;_______________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam mengajarkan bahwa ketaatan yang dilakukan manusia, maka kebaikannya untuk dirinya sendiri. Manusia hanya memiliki apa yang diamalkannya sewaktu di dunia. Allah Ta’ala berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang mengerjakan amal yang shalih, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) atas dirinya sendiri; dan sekali-sekali tidaklah Rabbmu menganiaya hamba-hamba(Nya)". [Fushilat/41:46].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna". [an Najm/53: 38-41]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah barangsiapa yang berbuat kebaikan, walaupun seberat debu, maka dia akan melihat balasannya. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah (debu)pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah (debu)pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya". [al Zalzalah/99 : 7-8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga pada hari kiamat, harta benda dan anak-anak tidak akan bermanfaat, kecuali bagi orang yang ketika hidupnya menggunakan hartanya untuk mentaati Allah dan membimbing anak-anaknya berbakti kepada Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pada hari (kiamat) harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih". [asy Syua'ara/26: 88-89]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengetahui hakikat ini, bahwa setiap orang akan bertanggung jawab masing-masing di hadapan Allah Ta’ala, maka janganlah seseorang bergantung kepada manusia yang lain. Karena sesungguhnya seluruh manusia itu tidak akan dapat memberikan manfaat dan madhorot, kecuali sekadar apa yang telah Allah tetapkan. Begitu pula dengan para rasul, manusia yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah Yang Maha Kuasa, mereka tidak dapat berbuat apapun terhadap kekuasaan Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut sebagian contoh kejadian para rasul yang membuktikan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Nuh Alaihissallam&lt;br /&gt;Beliau tidak dapat menolong anaknya yang diterjang banjir besar di hadapan beliau sendiri. Kemudian beliau mengadu kepada Allah tentang kejadian tersebut, namun ketetapan Allah tidak dapat dibatalkan oleh keinginan beliau. Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Nuh berseru kepada Rabb-nya sambil berkata: "Ya Rabb-ku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janjiMu itu benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya". Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnaya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan". Nuh berkata: "Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari memohon sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi". [Huud/11:45-47]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Ibrohim Alaihissallam&lt;br /&gt;Permohonan ampun untuk bapaknya ditolak, karena bapaknya mati dalam kekafiran. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun". [at Taubat/9:114].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Luth Alaihissallam&lt;br /&gt;Beliau tidak dapat menolak siksa Allah dari isterinya. Sehingga Allah menjadikan isteri beliau sebagai contoh bagi orang-orang kafir. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): "Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)". [at Tahriim/66:10].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam&lt;br /&gt;Sebagaimana para nabi lainnya, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia biasa. Beliau seorang hamba Allah. Beliau tidak memiliki hak rububiyah (berkuasa terhadap alam semesta) maupun hak uluhiyah (diibadahi, disembah) sedikitpun. Akan tetapi pada zaman ini banyak orang yang melewati batas dalam memperlakukan diri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Mereka beranggapan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bisa memberikan pertolongan jika umat berdoa kepadanya. Anggapan ini merupakan perbuatan yang menyimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sendiri telah mengumumkan, bahwa beliau sama sekali tidak dapat mendatangkan manfa'at dan tidak pula dapat menolak kemudharatan bagi diri sendiri, kecuali yang dikehendaki Allah. Maka bagaimana bagi orang lain? Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfa'atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". [al A'raaf/7:188].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengumumkan kepada para kerabatnya, bahwa beliau tidak mampu menolak siksa Allah yang menimpa mereka, maka bagaimana terhadap orang yang jauh dari beliau? Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ }وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِين{َ قَالَ يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا اشْتَرُوا أَنْفُسَكُمْ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ لَا أُغْنِي عَنْكُمْ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ لَا أُغْنِي عَنْكَ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا صَفِيَّةُ عَمَّةَ رَسُولِ اللَّهِ لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنْ اللَّهِ شَيْئًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dia berkata: “Ketika turun firman Allah {Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat} –QS asy Syua'raa/26 ayat 214- Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri dan berkata,'Wahai orang-orang Quraisy –atau kalimat semacamnya- belilah diri-diri kamu, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai Bani Abdu Manaf, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai ‘Abbas bin Abdul Muththolib, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap-mu sedikitpun. Wahai Shafiyyah bibi Rasulullah, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun. Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah dari hartaku yang engkau kehendaki, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun'.” [HR Bukhari, no. 2753; Muslim, no. 206; dan lainnya]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain penjelasan di atas, kita dapat mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang dialami oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga hilanglah berbagai syubhat (kesamaran) pada orang-orang yang menjadikan beliau sebagai sesembahan selain Allah Azza wa Jalla. Berikut kami sebutkan di antara peristiwa-peristiwa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELAJARAN DARI KEMATIAN ABU THALIB&lt;br /&gt;Dalam peristiwa kematian pamannya tersebut, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mampu memberikan petunjuk kepada Abu Thalib, walaupun beliau menginginkan hal itu. Sebagaimana disebutkan di dalam hadits di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَمَّا حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ عِنْدَهُ أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ فَقَالَ أَيْ عَمِّ قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ وَيُعِيدَانِهِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ حَتَّى قَالَ أَبُو طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَأَنْزَلَ اللَّهُ فِي أَبِي طَالِبٍ فَقَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Sa’id bin Musayyab, dari bapaknya (Musayyab bin Hazn), dia berkata: Tatkala (tanda) kematian datang kepada Abu Thalib, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendatanginya. Beliau mendapati Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Mughirah berada di dekatnya. Lalu beliau berkata: "Wahai pamanku, katakanlah Laa ilaaha illa Allah, sebuah kalimat yang aku akan berhujjah untukmu dengannya di sisi Allah!" Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah menimpali,"Apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muththalib?" Rasulullah n terus-menerus menawarkan itu kepadanya, dan keduanya juga mengulangi perkataan tersebut. Sehingga akhir perkataan yang diucapkan Abi Thalib kepada mereka, bahwa dia berada di atas agama Abdul Muththalib. Dia enggan mengatakan Laa ilaaha illa Allah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata,"Demi Allah, aku akan memohonkan ampun untukmu selama aku tidak dilarang darimu," maka Allah menurunkan (ayatNya) “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik” –QS at Taubat/9 ayat 113- Dan Allah menurunkan (ayatNya) tentang Abu Thalib “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya”. –QS al Qashash/28 ayat 56". [Hadits shahih riwayat Bukhari, no. 4772; Muslim, no. 24]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan, waktu itu Abu Thalib menjawab dengan perkataan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَوْلَا أَنْ تُعَيِّرَنِي قُرَيْشٌ يَقُولُونَ إِنَّمَا حَمَلَهُ عَلَى ذَلِكَ الْجَزَعُ لَأَقْرَرْتُ بِهَا عَيْنَكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seandainya suku Quraisy tidak akan mencelaku, yaitu mereka akan mengatakan: “Sesungguhnya yang mendorongnya (Abu Thalib) mengatakan itu hanyalah kegelisahan (menghadapi kematian),” sungguh aku telah menyenangkanmu dengan kalimat itu". [Hadits shahih riwayat Muslim, no. 25].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Dan di antara hikmah ar Rabb (Sang Penguasa, Allah) Ta’ala tidak memberi petunjuk kepada Abu Thalib menuju agama Islam, agar Dia menjelaskan kepada hamba-hambaNya bahwa (petunjuk menuju Isalm) itu hanya hak Allah, Dia-lah Yang Berkuasa, siapa saja selainNya tidak berkuasa. Jika Nabi n -yang merupakan makhlukNya yang paling utama- memiliki sesuatu (hak, kekuasaan) memberi hidayah hati, menghilangkan kesusahan-kesusahan, mengampuni dosa-dosa, menyelamatkan dari siksa, dan semacamnya, maka manusia yang paling berhak dan paling utama mendapatkannya adalah pamannya, yang dahulu melindunginya, menolongnya, dan membelanya. Maka Maha Suci (Allah) yang hikmahNya mengagumkan akal-akal (manusia), dan telah membimbing hamba-hambaNya menuju apa yang menunjukkan kepada mereka terhadap ma’rifah (pengenalan) dan tauhid (pengesaan) kepadaNya, dan mengikhlasakan serta memurnikan seluruh amal hanya untukNya”.[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELAJARAN DARI QUNUT NAZILAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ مِنْ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنْ الْفَجْرِ يَقُولُ اللَّهُمَّ الْعَنْ فُلَانًا وَفُلَانًا وَفُلَانًا بَعْدَ مَا يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ إِلَى قَوْلِهِ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, jika setelah mengangkat kepalanya dari ruku’ dari raka’at yang akhir dari shalat Subuh, beliau mengucapkan: “Wahai Allah laknatlah Si Fulan, Si Fulan, dan Si Fulan,” setelah beliau mengatakan “Sami’allahu liman hamidah Rabbanaa walakal hamdu," kemudian Allah menurunkan (ayatNya): “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim. -QS Ali Imran/3:128." [HR Bukhari, no. 4069]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain disebutkan:&lt;br /&gt;كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو عَلَى صَفْوَانَ بْنِ أُمَيَّةَ وَسُهَيْلِ بْنِ عَمْرٍو وَالْحَارِثِ بْنِ هِشَامٍ فَنَزَلَتْ لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ إِلَى قَوْلِهِ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahulu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mendoakan kecelakaan kepada Shafwan bin Umayyah, Suhail bin ‘Amr, dan al Harits bin Hisyam, lalu turun (ayat): “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim. –QS Ali Imran/3:128.” [HR Bukhari, no. 4070].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Shalih al Fauzan berkata: “Dalam hadits tersebut terdapat keterangan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mampu menolak gangguan musyrikin dari diri beliau dan dari para sahabat beliau, bahkan beliau berlindung kepada Rabb-nya, al Qadir (Yang Maha Kuasa), al Malik (Yang Memiliki). Ini termasuk perkara yang menunjukkan kebatilan terhadap apa yang diyakini oleh penyembah kubur tentang para wali dan orang-orang shalih (yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan dan menghilangkan kesusahan, Pen)”.[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELAJARAN DARI PERANG UHUD&lt;br /&gt;Tentang sifat manusia sebagai makhluk yang terdapat pada diri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, juga ditunjukkan oleh musibah yang dialami dalam kehidupan beliau, seperti di dalam peperangan Uhud. Imam Muslim meriwayatkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُسِرَتْ رَبَاعِيَتُهُ يَوْمَ أُحُدٍ وَشُجَّ فِي رَأْسِهِ فَجَعَلَ يَسْلُتُ الدَّمَ عَنْهُ وَيَقُولُ كَيْفَ يُفْلِحُ قَوْمٌ شَجُّوا نَبِيَّهُمْ وَكَسَرُوا رَبَاعِيَتَهُ وَهُوَ يَدْعُوهُمْ إِلَى اللَّهِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ لَكَ مِنْ الْأَمْرِ شَيْءٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Anas: "Sesungguhnya pada peperangan Uhud, gigi geraham Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam patah, dan kepala beliau terluka, maka beliau mengusap darah dari kepala beliau sambil mengatakan: 'Bagaimana akan mendapatkan keberuntungan, satu kaum yang melukai kepala Nabi mereka dan mematahkan gigi gerahamnya, sedangkan Nabi itu mengajak mereka menuju (peribadahan kepada) Allah?' Maka Allah menurunkan (ayatNya): “Tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu". -QS Ali Imran/3 ayat 128. [Hadits shahih riwayat Muslim, no. 1791].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Terjadinya sakit dan ujian kepada para nabi –semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada mereka- adalah agar mereka mendapatkan pahala yang besar, dan agar umat mereka mengetahui apa yang telah menimpa mereka dan umat itu meneladani mereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qadhi rahimahulllah berkata: “Dan agar diketahui, sesungguhnya mereka (para nabi itu) termasuk manusia, ujian-ujian dunia juga menimpa mereka, dan apa yang mengenai tubuh-tubuh manusia juga mengenai tubuh mereka; agar diyakini, mereka adalah makhluk, yang dikuasai (oleh Allah). Dan agar umat tidak tersesat dengan mu’jizat-mu’jizat yang muncul lewat tangan mereka, dan setan mengaburkan dari perkara para nabi sebagaimana yang telah dia kaburkan terhadap orang-orang Nashrani dan lainnya”. [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keterangan yang ringkas ini, semoga jelas bagi kita tentang kedudukan Nabi yang mulia. Sehingga kita menempatkan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana layaknya. Alhamdulillah. Dan setelah mengetahui ini semua, lalu bagaimanakah dengan keadaan orang-orang pada masa sekarang ini, yang memohon dan meminta pertolongan kepada para nabi atau wali atau orang shalih atau kubur mereka? Sungguh tidak tidak diragukan lagi, perbuatan itu hanyalah sia-sia, dan bahkan termasuk perbuatan musyrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah selalu menjaga kita dari perbuatan musyrik, dan segala perkara yang mengantarkan kepadanya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;br /&gt;________&lt;br /&gt;Footnote&lt;br /&gt;[1]. Fathul Majid, Penerbit Dar Ibni Hazm, hlm. 191-192.&lt;br /&gt;[2]. Al Mulakhas fii Syarh Kitab at Tauhid, hlm. 108.&lt;br /&gt;[3]. Dinukil dari Fathul Majid, Penerbit Dar Ibni Hazm, hlm. 166-167.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-5647781409207770841?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/5647781409207770841/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/nabi-maupun-wali-adalah-manusia-biasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/5647781409207770841'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/5647781409207770841'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/nabi-maupun-wali-adalah-manusia-biasa.html' title='NABI MAUPUN WALI ADALAH MANUSIA BIASA, TIDAK BERHAK DISEMBAH!'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-1922279849849000208</id><published>2010-04-22T08:43:00.001+07:00</published><updated>2010-04-22T08:43:24.440+07:00</updated><title type='text'>RAPOR MERAH IDEOLOGI DEMOKRASI</title><content type='html'>Isu demokrasi telah mendunia. Ideologi produk Barat ini (baca: orang-orang kafir) lantas dipaksakan atas negara-negara lain, termasuk pada komunitas kaum muslimin. Opini yang dihembuskan, bahwa kesengsaraan dan penderitaan rakyat suatu negara berpangkal pada hilangnya ruh demokratis di tengah mereka. Ketika suasana demokratis telah menaungi sebuah negara, maka rakyat akan hidup dalam kemakmuran yang merata (?!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, justru, wajah demokrasi melahirkan masalah-masalah baru yang tidak bisa dianggap sepele oleh umat Islam. Berikut ini sedikit tentang pelanggaran-pelanggaran ideologi demokrasi secara ringkas, baik ditinjau dari hukum asalnya, atau mekanisme-mekanisme penyelenggaraan negara dalam negara berdemokrasi (dimanapun) ditinjau dari sudut pandang Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PELANGGARAN TERHADAP AKIDAH ISLAM&lt;br /&gt;Pelanggaran dalam aspek akidah ini, lantaran ideologi demokrasi memutuskan hukum berdasarkan suara mayoritas. Apapun hasilnya, pilihan suara mayoritas itu akan diputuskan sebagai peraturan yang mengikat. Suara terbanyak dikultuskan, dan penetapan hukum-hukum hanya berada di tangan sekelompok orang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi yang bertumpu pada ketaatan pada suara mayoritas telah mengakibatkan terjadinya syirkuth-thâ'ah (menyekutukan sesuatu dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala pada aspek ketaatan dengan mutlak). Simaklah ayat berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أم لهم شر كؤا شرعوا لهم من الذين ما لم يأذن به الله&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? [asy-Syûra/42:21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum Allah itulah yang mestinya (wajib) diterapkan dalam seluruh bidang kehidupan sosial kemasyarakatan. Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala al-Khaaliq (Dzat Yang Maha Menciptakan) dan Maha Tahu apa yang paling bermanfaat dan mengandung maslahat sebesar-besarnya bagi makhluk-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahu" [Yûsuf/12:40].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMICU KEMUNAFIKAN&lt;br /&gt;Calon-calon legislatif atau eksekutif berusaha menampilkan citra dirinya sebagai figur yang baik. Tak kurang, misalnya dalam soal nama, disematkanlah label Haji (H) dan Hajjah (Hj). Penyematan gelar-gelar seperti ini atau yang sejenisnya, seolah menjadi "wajib". Ucapan-ucapan manis dan janji-janji menarik menghiasi bibir-bibirnya. Semuanya menjanjikan perbaikan keadaan dan meningkatkan kemakmuran rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, begitu usai dan berhasil menggenggam jabatan, ternyata kepentingan pribadi, partai atau golongan berbalik menjadi tujuan utamanya. Janji-janji yang pernah diucapkan hanyalah isapan jempol. Itulah sebuah kedustaan. Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar" [at-Taubah/9:119].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga disebutkan riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanda-tanda kemunafikan ada tiga. Jika berbicara, ia dusta. (2) Jika berjanji, ia mengingkari. (3) dan jika dipercaya, ia berkhianat" [HR al-Bukhâri, no. 32, dan Muslim, no. 89]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENYUBURKAN BUDAYA SUAP&lt;br /&gt;Politik uang tidak bisa lepas dari alam demokrasi. Misalnya dengan pembagian sembako, hadiah, atau bantuan lain. Ini dilakukan oleh calon-calon pencari kekuasaan untuk menarik simpati kalangan bawah. Apapun bentuknya, ketika materi berbicara, itulah esensi dari politik uang. Dalam terminologi fiqih sebagai risywah (suap) yang diharamkan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَعَنَ اللهُ الرَّاشِيْ وَالْمُرْتَشِيْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah melaknat penyuap dan orang yang disuap". [HR at-Tirmidzi dan Ibnu Maajah dan dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni, Shahîh at-Targhib wat-Tarhib, 2/261].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUJIAN BAGI DIRI SENDIRI&lt;br /&gt;Dalam alam demokarsi, sebagian calon-calon eksekutif maupun legislatif senang memuji diri sendiri. Saat kampanye sering menyatakan sebagai pihak yang paling pantas mengemban amanah rakyat. Pujian-pujian dan sanjungan-sanjungan juga dipaksakan oleh tim suksesnya demi kemenangan calon-calonnya. Bisa disaksikan, baliho-baliho, spanduk-spanduk maupun iklan-iklan dijejali dengan ungkapan-ungkapan pujian, gambar-gambar bagaimana orang-orang yang mencalonkan diri (atau dicalonkan) berempati kepada rakyat kecil, rela berkotor-kotor keluar masuk pasar tradisional (yang sebelumnya tidak pernah dilakukan) guna mendulang simpati lebih besar. Bila mreka tidak berhak dipuji, berarti telah terjadi penipuan dan kedustaan. Jika sepertinya pantas memperoleh pujian, ini pun tidak perlu dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini karena pada asalnya, memuji diri sendiri tidak boleh (haram). Seseorang dituntut agar rendah hati, tidak menonjolkan diri, atau membanggakan diri. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa". [an-Najm/53:32].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIAPAPUN BISA TERPILIH, MESKI ORANG PALING ZHALIM DAN TERBEJAT SEKALIPUN&lt;br /&gt;Proses pencapaian kursi kekuasaan dalam ideologi demokrasi melalui mekanisme kepartaian. Masing-masing partai mendelegasikan orang pilihannya. Lantas, masyarakat menentukan pilihan pada siapa saja yang mereka kehendaki, tanpa memandang baik buruknya individu tersebut. Dalam penghitungan suara, para wakil yang memperoleh suara terbanyak akan memperoleh tempat. Demikian pula, pemegang kekuasaan (eksekutif) berdasarkan suara terbanyak, bagaimanapun buruk sifat dan karakter mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEMOKRASI MEMECAH PERSATUAN UMAT&lt;br /&gt;Ideologi demokrasi melahirkan pembentukan partai-partai yang sangat berpotensi menimbulkan perpecahan dan fanatisme buta terhadap golongan. Secara tidak langsung juga menumbuhkan bahaya laten konflik antar simpatisan. Bahkan untuk membela golongannya rela mempertaruhkan kematinya. Sedangkan Islam mengutamakan persatuan dan mencela perpecahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADANYA UNSUR PERJUDIAN DALAM PESTA DEMOKRASI&lt;br /&gt;Terjadinya persaingan dalam meraih kekuasaan, telah menginspirasikan berbagai cara ditempuh untuk memenangkan suara. Bagi yang kalah, ia akan mengalami banyak kerugian. Inilah hasil yang akan didapat pihak pecundang. Sebaliknya, pihak yang memenangkan, ia akan memperoleh keuntungan. Meskipun pada hakikatnya, semua pihak mengalami kerugian dalam pesta yang menelan anggaran, baik negara maupun individu yang sangat besar ini. Dikatakan oleh Syaikh ‘Abdul-Muhsin –hafizhahullah- realita ini mirip dengan qimâr (perjudian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DEMOKRASI MENGAJARKAN KEBEBASAN MUTLAK&lt;br /&gt;Demokrasi terbangun di atas asas kebebasan mutlak, meskipun berupa kekufuran atau kebejatan dan degradasi moral. Setiap orang bebas melontarkan atau bertindak serta meyakini apa saja, tanpa memperhatikan norma agama maupun norma sosial, etika. Dalihnya, karena semua orang bebas menentukan pilihan pribadinya tanpa intervensi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian, sebagian pelanggaran demokrasi terhadap syariat Islam. Ketika sebuah sistem berlandaskan pada pemikiran yang rusak (kekufuran), maka tak dapat terelakkan, out putnya pun tidak jauh berbeda. Yakni membuahkan hasil yang sama-sama rusak dan berakibat buruk bagi orang banyak.&lt;br /&gt;Wallahul-Hadi ilâ Shirâthil-Mustaqîm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marâji`:&lt;br /&gt;1. Al-Adlu fi Syarî’atil Islâm wa Laisa fid-Dimaqratiyyah al-Maz’umah, 'Abdul-Muhsin al-Abbâd Darut-Tauhid, Riyadh, Cetakan I, 1428 H.&lt;br /&gt;2. Hukmu ad-Dimaqrathiyyah fil-Islâm, Munkarât wa Mukhalafât Syar'iyyah Tahshulu fil- Intikhabât, Dr. Hamd bin Muhammad al-Hâjiri, Cetakan I, Tahun 1427 H – 2006 M, tanpa penerbit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04//Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-1922279849849000208?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/1922279849849000208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/rapor-merah-ideologi-demokrasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/1922279849849000208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/1922279849849000208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/rapor-merah-ideologi-demokrasi.html' title='RAPOR MERAH IDEOLOGI DEMOKRASI'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-5548200411658164432</id><published>2010-04-16T10:22:00.001+07:00</published><updated>2010-04-16T10:22:46.819+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rumah Tangga'/><title type='text'>MEMASUKI AWAL KEHIDUPAN BERUMAH TANGGA</title><content type='html'>Menikah merupakan sunnah para nabi dan para rasul, disamping sebagai salah satu tanda-tanda kekuasaan dan karunia nikmat dari Allah Azza wa Jalla. Melalui pernikahan, manusia yang berpasangan laki dan perempuan akan memulai menjalani kehidupan baru, yaitu kehidupan rumah tangga, yang menjadi dambaan setiap manusia di muka bumi ini. Demikian ini sudah sunnatullah, yang merupakan siklus kehidupannya sebelum semuanya berakhir, yaitu mendapatkan keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan sepasang suami-istri tersebut mementang berbagai permasalahan yang harus dihadapi bersama. Permasalahan di dalam keluarga sangatlah kompleks dan saling berkaitan, antara satu dengan lainnya. Tidak hanya dari segi syari'at, dunia kesehatan pun akan dihadapinya serta akan mempengaruhi bagaimana syariat itu dijalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para calon pasangan yang akan memasuki bahtera rumah tangga, juga bagi mereka yang memulai menapaki kehidupan baru, perlu sedikit mengetahui beberapa hal berkaitan dengan celah-celah kesehatan yang akan mewarnai kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASCA MENIKAH&lt;br /&gt;Setelah prosesi pernikahan, pasangan baru yang biasa disebut pengantin baru, akan selalu mendapatkan perasaan yang penuh suka cita. Mungkin, masa inilah puncak keindahan dan dambaan setiap insan, baik laki-laki maupun wanita.&lt;br /&gt;Di balik rasa kegembiraan ini, tidak sedikit keluhan yang dialami pasangan baru. Selain harus beradaptasi dalam hal kepribadian masing-masing, masalah kesehatan hampir selalu terjadi pada awal kehidupan barunya. Secara fisik, keluhan sering terjadi pada pihak wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari, bahkan sampai beberapa bulan setelah menikah, sang istri yang sebelumnya masih perawan atau gadis, biasa akan mengeluh sakit di daerah farji, kemudian berlanjut mengeluh nyeri saat buang air kecil. Terkadang mengalami kesulitan buang air kecil. Lebih lanjut, bisa beresiko terkena infeksi saluran kencing, terutama mereka yang sebelumnya pernah mengidap penyakit ini. Tak ketinggalan nyeri pinggang dan punggung akan menyertai hai-hari baru sang istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berjalannya waktu, keluhan-keluhan tersebut bisa menghilang dengan sendirinya. Apabila sakit pada saat berkemih maupun nyeri di daerah farji terus-menerus, sangat dibutuhkan pengertian dan keikhlasan dari sang suami, yakni untuk sementara tidak melakukan sanggama, sampai rasa nyeri itu hilang. Jika kondisi istri masih sakit, namun tetap dipaksakan untuk berjima’ -meskipun semuanya ridha- justru tak akan mendapatkan kenikmatan yang sempurna, serta bisa menyebabkan sakit sang istri akan bertambah parah. Bila keluhan nyeri tidak berkurang atau hilang, sebaiknya segera diantisipasi. Obat-obat analgetik bisa meredakan nyeri tersebut. Bila perlu diberi antibiotic, bila terjadi infeksi di saluran kencing dan daerah farji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi penyakit yang tiba-tiba datang pada saat pengantin baru ini, yaitu gastritis akut. Dikenal dengan penyakit maag. Hal ini disebabkan istri sering terlambat makan, lantaran selalu menunggu sang suami tercinta datang dari mencari nafkah untuk bisa makan berdua. Untuk mencegah datangnya penyakit maag ini, sebaiknya makan tepat waktu, atau saat perut sudah merasa lapar. Kalau menghendaki makan bersama suami, makanlah dengan porsi sedikit lebih dahulu, atau makan camilan untuk mengusir rasa lapar tersebut, kemudian bisa diulangi lagi pada saat suami datang. Hati-hati bagi mereka yang sebelumnya sudah terkena penyakit ini, sebaiknya lebih dijaga supaya penyakit tersebut tidak lebih parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pihak istri, sang suami pun setelah menikah terkadang mengalami kecemasan berlebihan. Ini biasa terjadi pada mereka yang mengalami ejakulatio dini (keluar mani lebih awal). Hal ini tidaklah perlu dikhawatirkan, karena kondisi tersebut masih dalam keadaan normal sebagai pengantin baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGHADAPI KEHAMILAN&lt;br /&gt;Seorang wanita yang sudah bertekad untuk menikah, jauh-jauh sebelumnya harus mempunyai wacana bahwa pasca menikah akan ada hasil cinta kasih bersama suami, yaitu kehamilan yang merupakan takdir dan kehendak Ilahi. Dengan siap untuk hamil, maka secara psikis, kehamilan bisa dihadapi dengan hati ikhlas dan ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehamilan pertama akan selalu dinanti dan diharapkan oleh setiap pasangan baru. Namun demikian penantian dan harapan janganlah disikapi terlalu berlebihan. Berserah diri kepada sang Pencipta itu lebih baik dalam mengharap kehamilan pertama ini, karena berkaitan juga dengan masalah takdir Allah Azza wa Jalla, dengan tetap selalu melakukan ikhtiar. Sehingga pasangan yang belum diberi karunia anak tidak akan merasa cemas yang berlebihan (anxietas). Kecemasan ini, secara psikis bisa menjadi pemicu terjadinya konflik hubungan suami-istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dinyatakan istri hamil, maka kegembiraan akan terpancar dari pasangan baru ini, dan akan disambut juga oleh keluarga serta kerabat lainnya. Masa hamil muda atau masa mengidam akan dilaluinya, biasa berlangsung sampai 4 bulan. Namun tak semua wanita hamil muda mengalami masa ini. Mual dan muntah biasa mengiringi ibu hamil muda. Terkadang sampai berlebihan (hiperemesis gravidarum), sehingga istri mengalami kekurangan cairan atau dehidrasi, yang bisa berakibat lebih buruk terhadap kesehatan dan perkembangan bayinya. Hadapilah masa ini dengan banyak istirahat. Atasi mual muntah dengan obat-obat anti mual atas resep dokter. Jangan minum sembarang obat anti mual. Usahakan agar selalu minum untuk mencegah dehidrasi dan lemas di tubuh. Dianjurkan menkonsumsi multivitamin, supaya tubuh tidak terlalu lemas. Bila istri mengidam, sangat dibutuhkan kesabaran suami, dan bersikap bijaksana, misalnya dengan memberikan makanan atau minuman yang disukai istri. Namun demikian, si istri pun harus bijaksana dan mengerti, untuk tidak selalu merepotkan dan menyibukkan suami gara-gara mengidam ini; sehingga pekerjaan utama mencari nafkah terabaikan, terlebih lagi dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa mengidam, sebaiknya mengurangi frekuwensi senggama untuk menghindari bertambah lemahnya kondisi istri. Tetapi, jika memungkinkan bisa dilakukan dengan hati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kehamilan ini, perlu perhatikan beberapa penyakit yang kadang-kadang singgah. Di antaranya batuk-batuk, sakit kepala, gatal-gatal di kulit, selesma, gangguan kencing, nyeri pinggang bawah serta tulang belakang, nyeri perut bagian bawah dan lain-lain. Penyakit ini hanya ringan, kadang hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia kehamilan. Namun, apabila penyakit tersebut memperburuk kondisi, sebaiknya berkonsultasi ke bidan atau dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin tua masa kehamilan, kondisi fisik istri akan kembali pulih. Sebaiknya periksa kehamilan secara teratur untuk mengetahui kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik dan sehat. Juga perlu diperhatikan, bahwa berjima’ pada saat sang istri hamil besar dan menjelang saat melahirkan, akan kurang baik bagi kondisi ibu. Seperti halnya hamil muda, bila terpaksa berjima’, maka harus dilakukan dengan hati-hati, dan sang istri tetap tidak dalam keadaan keletihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENYAMBUT KEHADIRAN SI BUAH HATI&lt;br /&gt;Sebelum si buah hati hadir di hadapan ayah dan ibunya, sudah tentu istri harus menjalani proses persalinan. Hadapilah persalinan ini dengan tawakal dan ridha kepada Allah. Rasa sakit saat melahirkan dan ikhlas menerimanya, harus sudah dicamkan jauh-jauh sebelumnya, sehingga secara mental istri sudah siap menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah sedikit kaum ibu, setelah melahirkan kadang mengalami kebingungan atau mengalami depresi sesaat. Hal ini disebabkan proses persalinan yang menimbulkan stres dan kelelahan berkepanjangan. Apalagi kelelahan ini berlanjut, karena harus merawat si kecil atau karena menyusui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang, bayi yang baru lahir membuat sang ibu bertambah lelah, karena kelakuan bayi. Misalnya sering menangis atau rewel, sehingga kesempatan untuk beristirahat tidak ada sama sekali. Bayi rewel atau sering menangis, ada beberapa kemungkinan penyebabnya. Di antaranya, karena kencing atau pipis, buang kotoran dan ingin segera diganti popoknya, air susu yang belum lancar, kondisi tali pusat bayi karena infeksi, atau ada gigitan serangga dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan dan dukungan suami sangat penting untuk memulihkan kondisi fisik dan mental istri. Misalnya, secara bergantian menjaga sang bayi. Kita contoh teladan Nabi Muhammad n yang suka membantu istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam suka membantu pekerjaan istrinya. Dan jika tiba waktu shalat, beliau keluar untuk menjalankan shalat". [HR Bukhari, 6039].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak dari kaum istri mendapati sebuah kebahagiaan, kesenangan dan ketenangan dalam menjalankan pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya, manakala ia ditemani dan dibantu oleh sang suami tercinta. Namun demikian, istri juga harus pintar merawat dan mengasuh anak, serta mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya, sehingga tidak sering meminta bantuan suami, karena tugas suami yang utama adalah mencari nafkah untuk istri dan anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa terjadi, karena tidak ada saling pengertian dan pembagian tugas di antara suami istri, sehingga menimbulkan perselisihan dan percekcokan yang berakibat buruk, yaitu perceraian; karena istri tidak sabar merawat dan mengasuh bayi, ataupun sang suami sangat egois tidak mengerti kondisi istri yang kerepotan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang juga, karena kelelahan yang berkepanjangan dan emosi belum stabil, sang ibu akan sering marah dan jengkel melihat si kecil yang terlalu rewel. Hal ini akan berakibat kurang baik bagi bayi, juga bagi ibunya sendiri, karena ada gangguan hubungan secara psikologis antara ibu dan bayinya. Dan justru menyebabkan bayi bertambah rewel atau tidak tenang. Tentunya hal ini bisa dihindari dengan mancari penyebab kerewelan bayi tersebut, sehingga bisa segera diatasi bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang ibu sebaiknya selalu penyabar dan penyayang terhadap keluarganya, karena Allah k bersama orang-orang yang sabar. Dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan kepada para wanita untuk selalu menyayangi anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat dianjurkan, apabila ibu terlalu letih pasca melahirkan, untuk segera mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi tinggi. Bila perlu, minumlah multivitamin atau suplemen makanan ataupun minuman. Usahakan untuk bisa beristirahat, meskipun hanya sebentar. Dibolehkan juga meminta bantuan orang lain (khadimah) ataupun keluarga untuk mengurangi kerepotan keluarga. (dr. Ira).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;- Kado Pernikahan, Syaikh Hafizh Ali Syuaisyi`, terjemahan, Pustaka al Kautsar, Juli 2005.&lt;br /&gt;- Ilmu Kebidanan dan Kandungan, Sarwono P, 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun IX/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-5548200411658164432?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/5548200411658164432/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/memasuki-awal-kehidupan-berumah-tangga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/5548200411658164432'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/5548200411658164432'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/memasuki-awal-kehidupan-berumah-tangga.html' title='MEMASUKI AWAL KEHIDUPAN BERUMAH TANGGA'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-3430660473239298100</id><published>2010-04-16T09:59:00.001+07:00</published><updated>2010-04-16T09:59:34.047+07:00</updated><title type='text'>BAGAIMANA MENJADI PEGAWAI YANG AMANAH?</title><content type='html'>MUKADIMAH&lt;br /&gt;Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas penyempurna dan pelengkap agama dan penghulu para rasul serta imam orang-orang yang bertaqwa nabi kita, Muhammad dan atas keluarga serta shahabat-shahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat. Amma ba’du&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah risalah singkat berupa nasihat untuk para pegawai dan karyawan dalam menunaikan pekerjaan-pekerjaan yang diamanahkan kepada mereka. Aku menulisnya dengan harapan agar mereka mendapat manfaat darinya, dan supaya mambantu mereka untuk mengikhlaskan niat-niat mereka serta bersungguh-sungguh dalam bekerja dan menjalankan kewajiban-kewajiban mereka. Aku memohon kepada Allah agar semua mendapatkan taufik dan bimbingan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. AYAT-AYAT MENGENAI KEWAJIBAN MENUNAIKAN AMANAH&lt;br /&gt;Diantara ayat-ayat mengenai kewajiban menunaikan amanah dan larangan berkhianat adalah firman Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila kalian menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. [An-Nisa : 58]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini, “Allah Ta’ala memberitakan bahwasanya Ia memerintahkan untuk menunaikan amanah-amanah kepada ahlinya. Di dalam hadits yang hasan dari Samurah bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Tunaikan amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu menghianati orang yang mengkhianatimu” [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ahlussunnan]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini mencakup semua bentuk amanah-amanah yang wajib atas manusia mulai dari hak-hak Allah Azza wa Jalla atas hamba-hamba-Nya seperti : shalat, zakat, puasa, kaffarat, nazar-nazar dan lain sebagainya. Dimana ia diamanahkan atasnya dan tidak seorang hamba pun mengetahuinya, sampai kepada hak-hak sesama hamba, seperti ; titipan dan lain sebagainya dari apa-apa yang mereka amanahkan tanpa mengetahui adanya bukti atas itu. Maka Allah memerintahkan untuk menunaikannya, barangsiapa yang tidak menunaikannya di dunia diambil darinya pada hari Kiamat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu sedangkan kamu mengetahui” [Al-Anfal : 27]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata, “Dan khianat mencakup dosa-dosa kecil dan besar yang lazim (yang tidak terkait dengan orang lain) dan muta’addi (yang terkait dengan orang lain). Berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas mengenai tafsir ayat ini, “Dan kalian mengkhianati amanah-amanah kalian”. Amanah adalah ama-amal yang diamanahakn Allah kepada hamba-hamba-Nya, yaitu faridhah ( yang wajib), Allah berfirman : “Janganlah kamu mengkhianati” maksudnya : janganlah kamu merusaknya”. Dan dalam riwayat lain ia berkata, “(Janganlah kalian mengkhianati Allah dan Rasul) Ibnu Abbas berkata, “(Yaitu) dengan meninggalkan sunnahnya dan bermaksiat kepadanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firman-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh” [Al-Ahzab : 72]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata setelah menyebutkan pendapat-pendapat mengenai tafsir amanah, diantaranya ketaatan, kewajiban, din (agama), dan hukum-hukum had, ia berkata, “Dan semua pendapat ini tidak saling bertentangan, bahkan ia sesuai dan kembali kepada satu makna, yaitu at-taklif serta menerima perintah dan larangan dengan syaratnya. Dan jika melaksanakan ia mendapat pahala, jika meninggalkannya dihukum, maka manusia menerimanya dengan kelemahan, kejahilan, dan kezalimannya kecuali orang-orang yang diberi taufik oleh Allah, dan hanya kepada Allah tempat meminta pertolongan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Firman Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janji-janji” [Al-Mukminun : 8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir berkata, “Yaitu, apabila mereka diberi kepercayaan mereka tidak berkhianat, dan apabila berjanji mereka tidak mungkir, ini adalah sifat-sifat orang mukminin dan lawannya adalah sifat-sifat munafikin, sebagaimana tercantum dalam hadis yang shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanda munafik ada tiga : apabila berbicara berdusta, apabaila berjanji ia mungkir dan apabila diberi amanat dia berkhianat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila berbicara ia berdusta, dan apabila berjanji ia mungkir dan apabila bertengkar ia berlaku keji”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2]. HADITS-HADITS TENTANG MENUNAIKAN AMANAH&lt;br /&gt;Diantara hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kewajiban menjaga amanah dan ancaman dari meninggalkannya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Pertama.&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Ketika Nabi di suatu majelis berbicara kepada orang-orang, datanglah seorang Arab badui lantas berkata. ‘Kapan terjadinya Kiamat? Rasulullah terus berbicara, sebagian orang berkata, ‘Beliau mendengar apa yang dikatakannya dan beliau membencinya’, sebagian lain mengatakan, ‘Bahkan ia tidak mendengar’, sehingga tatkala beliau menyelesaikan pembicaraannya beliau berkata, ‘Mana orang yang bertanya tentang hari Kiamat?’ Ia berkata, ‘Ini aku wahai Rasulullah’, Rasul bersaba, ‘Apabila amanah telah disia-siakan maka tunggulah hari Kiamat’. Ia bertanya lagi, ‘Bagaimana menyia-nyiakannya?’ Beliau menjawab, ‘Apabila diserahkan urusan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah hari Kiamat” [Diriwayatkan Al-Bukhari]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Kedua&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah, ia berkata, ‘Rasulullah telah bersabda, “Tunaikanlah amanah kepada orang yang memberi amanah kepadamu, dan janganlah kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud 3535 dan At-Tirmidzi 1264, ia berkata, “ini adalah hadits hasan gharib”. Lihatlah, As-Silsilah Ash-Shahihah oleh Al-Albani 424]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Ketiga&lt;br /&gt;Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Yang pertama hilang dari urusan agama kalian adalah amanah, dan yang terakhirnya adalah shalat” [Diriwayatkan oleh Al-Khara-ithi dalam Makarimil Akhlak hal. 28. Lihat, As-Silsilah Ash-Shahihah oleh Al-Albani 1739]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits Keempat.&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda, “Tanda seorang munafik ada tiga : apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mungkir, dan apabila diberi amanah ia berkhianat” [Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[3]. PEGAWAI YANG MENUNAIKAN PEKERJAANNYA DENGAN IKHLAS MENDAPAT BALASAN DUNIA DAN AKHIRAT&lt;br /&gt;Apabila seorang pegawai menunaikan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh mengharapkan pahala dari Allah, maka ia telah menunaikan kewajibannya dan berhak mendapatkan balasan atas pekerjaannya di dunia dan beruntung dengan pahala di kampung akhirat. Telah datang nash-nash syar’iyah yang menunjukkan bahwasanya upah dan pahala atas apa yang dikerjakan oleh seorang dari pekerjaan didapat dengan ikhlas dan mengharapkan wajah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepada-Nya pahala yang besar” [An-Nisa : 114]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Bukhari (55) dan Imam Muslim (1002) telah meriwayatkan dari Abu Mas’ud bahwasanya Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Apabila seseorang menafkahkan untuk keluarganya dengan ikhlas maka itu baginya adalah sedekah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqash Radhiyallahu ‘anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan tidaklah engkau menafkahkan satu nafkah karena mengharapkan wajah Allah melainkan engkau mendapatkan pahala dengannya hingga sesuap yang engkau suapkan di mulu istrimu” [Diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nash-nash ini menunjukkan bahwasanya seorang Muslim apabila ia menunaikan kewajibannya terhadap sesama hamba lepaslah tanggung jawabnya, dan bahwasanya ia hanya akan mendapatkan balasan dan pahala dengan ikhlas dan mengharapkan wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[4]. MENJAGA JAM KERJA UNTUK KEPENTINGAN PEKERJAAN&lt;br /&gt;Wajib atas setiap pegawai dan pekerja untuk menggunakan waktu yang telah dikhususkan bekerja pada pekerjaan yang telah dikhususkan untuknya. Tidak boleh ia menggunakannya pada perkara-perkara lain selain pekerjaan yang wajib ditunaikannya pada waktu tersebut. Dan tidak boleh ia menggunakan waktu itu atau sebagian darinya untuk kepentingan pribadinya, atau kepentingan orang lain apabila tidak ada kaitannya dengan pekerjaan ; karena jam kerja bukanlah milik pegawai atau pekerja, akan tetapi untuk kepentingan pekerjaan yang ia mengambil upah dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Al-Mu’ammar bin Ali Al-Baghdadi (507H) telah menasihati Perdana Menteri Nizhamul Muluk dengan nasihat yang dalam dan berfedah. Di antara yang dikatakannya diawal nasihatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu hal yang telah maklum hai Shodrul Islam! Bahwasanya setiap individu masyarakat bebas untuk datang dan pergi, jika mereka menghendaki mereka bisa meneruskan dan memutuskan. Adapun orang yang terpilih menjabat kepemimpinan maka dia tidak bebas untuk bepergian, karena orang yang berada di atas pemerintahan adalah amir (pemimpin) dan dia pada hakikatnya orang upahan, ia telah menjual waktunya dan mengambil gajinya. Maka tidak tersisa dari siangnya yang dia gunakan sesuai keinginannya, dan dia tidak boleh shalat sunat, serta I’tikaf… karena itu adalah keutamaan sedangkan ini adalah wajib”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara nasihatnya, “Maka hiudpkanlah kuburanmu sebagaimana engkau menghidupkan istanamu” [1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagaimana seseorang ingin mengambil upahnya dengan sempurna serta tidak ingin dikurangi bagiannya sedikitpun, maka hendaklah ia tidak mengurangi sedikitpun dari jam kerjanya untuk sesuatu yang bukan kepentingan kerja. Allah telah mencela Al-Muthaffifin (orang-orang yang curang) dalam timbangan, yang menuntut hak mereka dengan sempurna dan mengurangi hak-hak orang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidaklah oran-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. Yaitu hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam” [Al-Muthaffifin : 1-6]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[5]. KRITERIA-KRITERIA MEMILIH PEKERJA DAN PEGAWAI&lt;br /&gt;Landasan dalam memilih seorang pegawai atau pekerja hendaklah ia seorang yang kuat lagi amanah. Karena dengan kekuatan ia sanggup melaksanakan pekerjaan yang diembankan kepadanya, dan dengan amanah ia menunaikan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Dengan amanah ia akan meletakkan perkara-perkara pada tempatnya. Dan dengan kekuatan ia sanggup menunaikan kewajibannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah memberitakan tentang salah seorang putri penduduk Madyan bahwasanya ia berkata kepada bapaknya tatkala Musa mengambilkan air untuk keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Ya bapakku, ambillah ia sebagai orang yang bekerja kepada kita. Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” [Al-Qashash : 26]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman tentang Ifrit dari bangsa Jin yang mengutarakan kesanggupannya kepada Sulaiman Alaihissalam untuk mendatangkan singgasana Balqis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu ; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya” [An-Naml : 39]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknanya, ia menggabungkan antara kemampuannya untuk membawa dan mendatangkannya serta menjaga apa yang dibawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah juga telah menceritakan tentang Yusuf Alaihissalam bahwasanya ia berkata kepada raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Jadikanlahlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan” [Yusuf : 55]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lawan dari kuat dan amanah adalah lemah dan khianat. Dan itu alasan untuk tidak memilih seseorang dalam bekerja dan sebab-sebab sebenarnya untuk mecopotnya dari pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘anhu menjadikan Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai gubernur Kufah, dan sebagian orang-orang jahil negeri itu mencelanya di sisi Umar, maka Umar memandang maslahah dengan mencopotnya dari jabatan untuk menjaga dari terjadinya fitnah dan agar tidak seorangpun dari mereka mengganggunya. Akan tetapi Umar ketika sakit menjelang wafatnya telah menentukan enam orang shahabat Rasulullah yang dipilih dari mereka seorang yang akan menjabat khalifah setelahnya. Di antara mereka adalah Sa’ad bin Abi Waqqash, lantas Umar khawatir bahwa pencopotannya dari jabatan gubernur Kufah disangka karena ketidaklayakannya memimpin, maka umar menepis prasangka tersebut dengan perkataannya, “Jika kepemimpinan jatuh kepada Saad, maka dia layak untuk itu. Dan jika tidak hendaklah siapa pun dari kalian yang menjadi pemimpin meminta bantuannya, karena sesungguhnya aku tidak mencopotnya karena kelemahan dan khianat” [Diriwayatkan Al-Bukhari : 3700]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan didalam Shahih Muslim : (1825)&lt;br /&gt;Dari Abu Dzar, ia berkata, “Aku berkata, ‘Hai Rasulullah! Tidaklah engkau memperkerjakan aku?’ Ia berkata, ‘Maka beliau menepuk pundakku dengan tanggannya kemudian bersabda, ‘Hai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah, dan sesungguhnya pekerjaan itu adalah amanah, dan sesungguhnya ia adalah kehinaan dan penyesalan di hari Kiamat kecuali orang yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan kewajiban padanya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam riwayat lain di Shahih Muslim (1826)&lt;br /&gt;Dari Abu Dzar bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Hai Abu Dzar sesungguhnya aku melihatmu lemah dan sesungguhnya aku mencintai untukmu apa yang kucintai untuk diriku, janganlah sekali-kali engkau memimpin dua orang dan janganlah sekali-kali engkau mengurus harta anak yatim”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[6]. ATASAN ADALAH TELADAN BAGI BAWAHANNYA DALAM BERSUNGGUH-SUNGGUH ATAU MALAS&lt;br /&gt;Apabila para atasan pegawai melaksanakan kewajiban-kewajiban mereka dengan sempurna, pegawai-pegawai yang menjadi bawahannya akan mecontoh mereka. Dan setiap pemimpin dalam suatu pekerjaan akan diminta pertanggung jawabannya terhadap dirinya dan orang-orang yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;“Artinya : Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawabannya tentang apa yang dipimpinnya. Seorang amir yang memimpin manusia, ia memimpin mereka dan akan diminta pertanggung jawabannya tentang mereka, seorang laki-laki pemimpin atas keluarganya dan ia akan diminta pertangung jawabannya tentang mereka, dan seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suami dan anaknya, dia akan diminta pertanggung jawabannya tentang mereka dan seorang budak pemimpin atas harta tuannya dan dia akan diminta pertanggung jawabannya terhadapnya, ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawaban terhadap apa yang dipimpinnya” [Diriwayatkan Al-Bukhari ; 2554 dan Muslim : 1829 dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apabila para atasan menjaga pekerjaan-pekerjaan dalam segala waktu-waktunya, mereka akan menjaga teladan yang baik bagi orang-orang yang mereka pimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyair berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan engkau selama melakukan yang engkau perintahkan&lt;br /&gt;niscaya orang yang engkau perintahkan melakukannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknanya, apabila engkau memerintahkan orang lain dari bawahanmu agar melakukan kewajibannya, dan engkau terlebih dahulu menunaikan kewajiban, maka sesungguhnya orang yang selainmu akan mematuhimu dan melaksanakan apa yang engkau perintahkan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[7]. PERLAKUAN PEGAWAI KEPADA ORANG LAIN SEPERTI APA IA INGIN DIPERLAKUKAN.&lt;br /&gt;Nasihat memiliki kedudukan yang agung di dalam Islam, oleh karenanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Agama adalah nasihat’, kami berkata, ‘Untuk siapa?’, Beliau bersabda, ‘Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya dan para pemimpin kaum muslimin serta sesama mereka” [Diriwayatkan oleh Muslim 55 dari Abu Tamim bin Aus Ad-Dari Radhiyallahu ‘anhu]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berkata Jarir bin Abdullah Al-Bajali Radhiyallahu anhu, “Aku telah berba’iat kepada Rasulullah atas mendirikan shalat, membayar zakat dan menasihati untuk setiap Muslim” [Diriwayatkan Al-Bukhari 57 dan Muslim 56]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana seorang pegawai atau karyawan apabila ia punya kebutuhan pada yang lain, orang lain itu wajib memperlakukannya dengan mu’amalah yang baik. Maka wajib pula atasnya untuk memperlakukan orang lain dengan mu’amalah hasanah (perlakuan yang baik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Maka barangsiapa yang ingin dijauhkan dari api nereka dan masuk surga, hendaklah ia meninggal sedang ia beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hendaklah ia memperlakukan manusia sebagaimana ia ingin diperlakukan” [Diriwayatkan oleh Muslim]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang panjang dari Abdullah bin Amr. Dan maknanya adalah perlakukanlah manusia sebagaimana engkau ingin diperlakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri” [Diriwayatkan Al-Bukhari 13 dan Muslim 45 dari Anas]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta’ala telah mencela orang yang memperlakukan orang lain tidak seperti ia ingin diperlakukan dalam firman-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka meminta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” [Al-Muthaffifin : 1-3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas kalian durhaka kepada para ibu, pelit dan rakus, menguburkan anak perempuan hidup-hidup, dan membenci untuk kalian tiga perkara yaitu ; kata-kata omong kosong, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta” [Diriwayatkan Al-Bukhari 2408 dan Muslim 593 dari Al-Mughirah bin Syu’bah]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadits ini terdapat celaan terhadap yang rakus lagi pelit, yang mengambil dan tidak memberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah mngingatkan wali-wali anak-anak yatim bahwasanya mereka khawatir terhadap anak keturunan mereka yang kecil-kecil kalau mereka tinggalkan. Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” [An-Nisa ; 9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknanya, sebagaimana mereka ingin anak-anak keturunan mereka nantinya diperlakukan dengan baik, maka wajib atas mereka untuk berlaku baik terhadap anak-anak yatim yang mereka menjadi wali atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari kitab Kaifa Yuaddi Al-Muwazhzhaf Al-Amanah, Penulis Syaikh Abdul Muhsin bin Hamad Al-Abad, Penerjemah Agustimar Putra, Penerbit Darul Falah, Jakarta 2006]&lt;br /&gt;_________&lt;br /&gt;Foote Note&lt;br /&gt;[1]. Dzailul Thabaqat Al-Hanabilah oleh Ibnu Rajab (1/107) &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-3430660473239298100?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/3430660473239298100/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/bagaimana-menjadi-pegawai-yang-amanah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/3430660473239298100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/3430660473239298100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/bagaimana-menjadi-pegawai-yang-amanah.html' title='BAGAIMANA MENJADI PEGAWAI YANG AMANAH?'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-3315636135520081880</id><published>2010-04-14T15:56:00.001+07:00</published><updated>2010-04-14T15:56:29.867+07:00</updated><title type='text'>UKHUWAH ISLAMIYAH</title><content type='html'>&lt;br /&gt;عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ :&lt;br /&gt;((لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ [مِنَ الْخَيْرِ]))&lt;br /&gt;رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hamzah, Anas bin Mâlik Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya segala apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri berupa kebaikan”. [HR al-Bukhâri dan Muslim].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAKHRIJ HADITS&lt;br /&gt;Hadits ini shahîh, diriwayatkan oleh:&lt;br /&gt;1. Al-Bukhâri (no. 13).&lt;br /&gt;2. Muslim (no. 45).&lt;br /&gt;3. Ahmad (III/176, 206, 251, 272, 289).&lt;br /&gt;4. Abu ‘Awanah (I/33).&lt;br /&gt;5. At-Tirmidzi (no. 2515).&lt;br /&gt;6. Ibnu Majah (no. 66).&lt;br /&gt;7. An-Nasa`i (VIII/115).&lt;br /&gt;8. Darimi (II/307).&lt;br /&gt;9. Abu Ya’la (no. 2880, 3171, 3069, 3245).&lt;br /&gt;10. Ibnu Hibban (no. 234, 235).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas dikeluarkan oleh al-Bukhâri dan Muslim dalam kitab Shahîh keduanya, dari hadits Qatadah, dari Anas; sedangkan lafazh milik Muslim berbunyi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حَتَّى يُحِبَّ ِلأَخِيْهِ ، أَوْ قَالَ : لِجَارِهِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hingga ia mencintai untuk saudaranya; atau beliau bersabda: Untuk tetangganya "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ahmad, Ibnu Hibban, dan Abu Ya’la mengeluarkan pula hadits yang semakna dengan lafazh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يَبْلُغُ عَبْدٌ حَقِيْقَةَ اْلإِيْمَانِ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنَ الْخَيْرِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seorang hamba tidak dapat mencapai hakikat iman, hingga ia mencintai kebaikan untuk manusia seperti yang ia cintai untuk dirinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYARAH HADITS&lt;br /&gt;Syaikh al-Albâni rahimahulllah berkata, “Ketahuilah bahwa tambahan ini مِنَ الْخَيْرِ (berupa kebaikan), adalah tambahan yang sangat penting yang dapat menentukan makna yang dimaksud dalam hadits ini, karena kata “kebaikan” adalah satu kata yang mencakup berbagai amal ketaatan dan perbuatan mubah, baik dalam masalah dunia maupun akhirat -selain yang dilarang karena kata “kebaikan” tidak mencakupnya- sebagaimana sudah jelas. Salah satu kesempurnaan akhlak seorang muslim, ialah ia mencintai kebaikan untuk saudaranya sesama muslim, seperti yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Demikian pula ia membenci kejelekan untuk saudaranya, seperti kebenciannya untuk dirinya sendiri. Meskipun hal ini tidak disebutkan dalam hadits, namun ini termasuk dalam kandungannya karena mencintai sesuatu mengharuskan membenci sesuatu yang menjadi lawannya.”[1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan [2]: “Riwayat Imam Ahmad rahimahullah di atas menjelaskan hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhâri dan Muslim, dan bahwa yang dimaksud dengan tidak beriman ialah tidak mencapai hakikat dan puncak iman karena iman seringkali dianggap tidak ada karena ketiadaan rukun-rukun dan kewajiban-kewajibannya, seperti sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يِزْنِي الزَّانِي حِيْنَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلاَ يَسْرِقُ السَّارِقُ حِيْنَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ ، وَلاَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِيْنَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمَنٌ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pezina tidak berzina ketika ia berzina sedang ia dalam keadaan mukmin; pencuri tidak mencuri ketika ia mencuri sedang ia dalam keadaan mukmin; dan orang tidak minum minuman keras ketika ia meminumnya sedang ia dalam keadaan beriman" [3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga seperti sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ يُؤْمِنُ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak beriman orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan-gangguannya" [4]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam an-Nawawi rahimahullah berkata,“Para ulama mengatakan bahwa maknanya ialah tidak beriman dengan iman yang sempurna, karena pokok iman itu ada pada orang yang tidak memiliki sifat ini”.[5]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani t berkata, “Yang dimaksud ialah dinafikannya kesempurnaan iman. Penafian nama sesuatu dengan makna menafikan kesempurnaannya telah masyhur dalam dialek bangsa Arab, seperti perkataan mereka, ‘Si fulan itu bukan manusia’.” [6] Maksudnya, dinafikan salah satu sifatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hafizh ‘Amr bin Shalah rahimahullah mengatakan, “Maknanya, tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai untuk saudara semuslim seperti ia mencintai untuk dirinya sendiri”.[7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berbeda pendapat tentang pelaku dosa besar; apakah dia dinamakan mukmin yang kurang imannya atau tidak dikatakan mukmin? Sesungguhnya yang benar dikatakan: dia muslim dan bukan mukmin menurut salah satu dari dua pendapat, dan kedua pendapat tersebut diriwayatkan dari Imam Ahmad, atau ia mukmin dengan imannya dan fasik dengan dosa besarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang yang mengerjakan dosa-dosa kecil, iman tidak hilang dari dirinya secara total, namun ia orang mukmin yang kurang beriman dan imannya berkurang sesuai dengan kadar dosa kecil yang ia kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa pelaku dosa besar dinamakan seorang mukmin yang kurang imannya diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu 'anhu, dan merupakan pendapat Ibnul-Mubarak, Ishaq, Ibnu ‘Ubaid, dan selain mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud hadits di atas ialah di antara sifat iman yang wajib, adalah seseorang mencintai untuk saudaranya yang mukmin apa yang ia cintai untuk dirinya dan membenci untuknya apa yang ia benci untuk dirinya sendiri. Jika sifat tersebut hilang darinya, maka imannya berkurang.[8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ اْلإِيْمَانُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan (tidak memberi) karena Allah, maka sungguh, telah sempurna imannya".[9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ، وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِيْ يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barang siapa ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka hendaklah ia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari Akhir, dan hendaklah ia menunaikan dan berbuat (kebaikan) kepada orang lain apa yang ia senang bila orang lain (berbuat baik) kepadanya".[10]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahîh Muslim juga disebutkan dari hadits Abu Dzarr Radhiyallahu 'anhu ia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَبَا ذَرٍّ! إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيْفًا، وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِيْ، لاَ تَتَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ، وَلاَ تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيْمٍ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai, Abu Dzarr! Sungguh, aku melihat engkau sebagai orang yang lemah dan aku mencintai untuk dirimu apa yang aku cintai untuk diriku. Janganlah engkau memimpin dua orang, dan jangan pula memegang harta anak yatim”.[11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari an-Nu’man bin Basyir dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam".[12]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menunjukkan, bahwa orang mukmin terganggu dengan apa saja yang mengganggu saudaranya yang mukmin dan sedih oleh apa saja yang membuat saudaranya sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hadits Anas Radhiyallahu 'anhu yang sedang kita bicarakan ini menunjukkan, bahwa orang mukmin dibuat gembira oleh sesuatu yang membuat gembira saudaranya yang mukmin dan menginginkan kebaikan untuk saudaranya yang mukmin seperti yang ia inginkan untuk dirinya sendiri. Ini semua terjadi karena seorang mukmin hatinya harus bersih dari dengki, penipuan, dan hasad. Hasad membuat pelakunya tidak mau diungguli siapa pun dalam kebaikan atau diimbangi di dalamnya, karena orang yang hasad senang lebih unggul atas seluruh kelebihannya dan ia sendiri yang memilikinya tanpa siapa pun dari manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan iman menghendaki kebalikannya yaitu agar ia diikuti seluruh kaum mukminin dalam kebaikan yang diberikan Allah kepadanya tanpa mengurangi sedikit pun kebaikannya.[13]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur`ân Allah Ta’ala memuji orang-orang yang tidak ingin sombong dan tidak membuat kerusakan di bumi. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak membuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu bagi orang-orang yang bertakwa".[al-Qashshash/28:83].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai ayat ini, ‘Ikrimah dan selainnya dari para ahli tafsir mengatakan: “Maksud dari kata al-‘uluwwu fil ardhi, ialah sombong, mencari kehormatan, dan kedudukan pada pemiliknya. Sedangkan maksud al-fasâd, ialah mengerjakan berbagai kemaksiatan”.[14]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tidak ingin disaingi orang lain dalam ketampanan itu tidak berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ahmad dan al-Hakim dalam Shahîh-nya dari hadits Ibnu Mas’ud, ia berkata: “Aku datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan ketika itu Malik bin Mirarah ar-Rahawi berada di tempat beliau. Aku dapati Malik bin Murarah ar-Rahawi berkata, ‘Wahai Rasulullah! Aku telah diberi ketampanan seperti yang telah engkau lihat; oleh karena itu, aku tidak ingin salah seorang manusia mengungguliku dengan tali sandal dan selebihnya, apakah itu termasuk kezhaliman?’ Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak. Itu tidak termasuk kezhaliman, namun kezhaliman ialah orang yang sombong.’ Atau beliau bersabda, ‘Namun kezhaliman ialah orang yang menolak kebenaran dan menghina manusia”.[15]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan hadits semakna dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Di haditsnya disebutkan kata al-kibru (sombong) sebagai ganti dari kata al-baghyu (kezhaliman). Pada hadits di atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengatakan ketidaksukaan Malik bin Murarah untuk disaingi siapa pun dalam ketampanan sebagai bentuk kezhaliman atau kesombongan. Beliau juga menafsirkan kesombongan dan kezhaliman dengan arti merendahkan kebenaran, yang tidak lain adalah sombong terhadapnya dan menolak menerima kebenaran karena sombong jika kebenaran tersebut bertentangan dengan hawa nafsunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah salah seorang ulama Salaf mengatakan: “Tawadhu`, ialah engkau menerima kebenaran dari siapa pun yang membawanya kendati yang membawanya adalah anak kecil. Barang siapa menerima kebenaran dari siapa pun yang membawanya: anak kecil, atau orang dewasa, orang yang dicintainya, atau orang yang dibencinya, maka ia orang yang tawadhu`. Dan barang siapa menolak menerima kebenaran karena sombong terhadapnya, maka ia orang yang sombong”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan menghina manusia dan merendahkan mereka bisa terjadi dengan cara seseorang melihat pribadinya sebagai orang yang sempurna dan melihat orang lain sebagai orang yang tidak sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, seorang mukmin harus mencintai untuk kaum mukminin apa yang ia cintai untuk dirinya dan tidak menyukai untuk mereka apa yang tidak ia sukai untuk dirinya. Jika ia melihat kekurangan dalam hal agama pada saudaranya, ia berusaha untuk memperbaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang yang shâlih dari ulama Salaf berkata: “Orang-orang yang mencintai Allah melihat dengan cahaya Allah, merasa kasihan dengan orang yang bermaksiat kepada Allah, membenci perbuatan-perbuatan mereka, merasa kasihan kepada mereka dengan cara menasihati mereka untuk melepaskan mereka dari perbuatannya, dan menyayangkan badan mereka sendiri jika sampai terkena neraka”.[17]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقْرَؤُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang: orang yang diberi harta oleh Allah kemudian ia menginfakkannya di pertengahan malam dan pertengahan siang dan orang yang diberikan Al-Qur`ân oleh Allah kemudian ia membacanya di pertengahan malam dan pertengahan siang" [18]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan beliau bersabda mengenai orang yang melihat orang lain menginfakkan hartanya dalam ketaatan kepada Allah, kemudian ia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَوْ أَنَّ لِيْ مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ . فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seandainya aku memiliki harta, aku pasti mengerjakan seperti apa yang dikerjakan si fulan. Ia dengan niatnya itu, maka pahala keduanya sama".[19]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalam hal kelebihan dunia, maka tidak boleh mengharapkan kelebihan seperti itu karena Allah Ta’ala berfirman, yang artinya: Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata: "Mudah-mudahan kita memiliki harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu berkata: "Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar”. [al-Qashshash/28:79-80].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang firman Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(Dan janganlah kalian iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain….) -Qs. an-Nisâ`/4 ayat 32- yang dimaksud ayat di atas adalah hasad, yaitu seseorang menginginkan keluarga atau harta seperti yang diberikan kepada saudaranya, dan berharap semua itu berpindah tangan kepadanya. Ayat di atas juga ditafsirkan dengan keinginan yang dilarang syari’at dan melawan takdir, misalnya seorang wanita ingin menjadi laki-laki, atau kaum wanita menginginkan kelebihan-kelebihan agama seperti yang diberikan kepada kaum laki-laki misalnya jihad, atau kaum wanita menginginkan kelebihan-kelebihan duniawi seperti yang dimiliki kaum laki-laki seperti warisan, akal, kesaksian, dan lain sebagainya. Ada juga yang menyatakan bahwa ayat di atas merangkum itu semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati demikian, seorang mukmin harus bersedih karena tidak memiliki kelebihan-kelebihan agama. Oleh karena itu, dalam agama, seorang muslim diperintahkan melihat kepada orang yang berada di atasnya dan berlomba-lomba di dalamnya dengan mengerahkan segenap tenaga dan kemampuannya, seperti difirmankan Allah Ta’ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"…Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba". [al-Muthaffifîn/83:26].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim tidak boleh benci diikuti orang lain dalam masalah agama. Justru, ia menyukai seluruh manusia terlibat dalam persaingan dalam kelebihan-kelebihan agama dan menganjurkannya. Dan ingat, semua ini harus dilakukan semata-mata karena Allah Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengisyaratkan bahwa pemberian nasihat kepada manusia ialah hendaklah seorang mukmin suka kalau manusia berada di atas kedudukannya. Ini kedudukan dan derajat tertinggi dalam nasihat, namun tidak diwajibkan. Namun yang diperintahkan dalam syari’at ialah hendaklah seorang mukmin suka kalau manusia seperti dirinya dalam berbuat kebajikan. Kendati demikian, jika ada orang yang mengungguli dirinya dalam kelebihan agama, ia berusaha keras mengejarnya, sedih atas kelalaian dirinya, dan gundah atas ketertinggalannya dari menyusul orang-orang yang lebih dahulu dalam kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mukmin harus terus melihat dirinya lalai dari kedudukan tinggi karena sikap seperti itu membuahkan dua hal yang berharga: (1) berusaha keras dalam mencari keutamaan-keutamaan dan meningkatkannya, dan (2) ia melihat dirinya sebagai orang yang kurang sempurna. [20]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang mengetahui bahwa Allah memberikan kelebihan khusus kepada dirinya dan kelebihan itu tidak diberikan Allah kepada orang lain kemudian ia menceritakannya kepada orang lain untuk kemaslahatan agama, ia menceritakannya dalam konteks menceritakan nikmat, dan melihat dirinya lalai dalam bersyukur, maka hal ini diperbolehkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu 'anhuma berkata, “Aku membaca salah satu ayat Al-Qur`ân kemudian aku ingin seluruh manusia mengetahuinya seperti yang aku ketahui.”[21]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FAWA`ID HADITS&lt;br /&gt;1. Diperbolehkan menafikan sesuatu karena tidak adanya kesempurnaan padanya, seperti sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada shalat ketika makanan telah disajikan".[22]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, shalatnya tidak sempurna, karena hati orang yang shalat tersebut akan menjadi sibuk oleh makanan yang telah tersaji itu, dan contoh-contoh seperti ini sangat banyak.&lt;br /&gt;2. Seseorang wajib mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Sebab, dinafikannya iman dari orang yang tidak mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri menunjukkan wajibnya perbuatan tersebut, karena keimanan tidak boleh dinafikan kecuali karena hilangnya sesuatu yang wajib padanya atau adanya sesuatu yang menafikan keimanan tersebut.&lt;br /&gt;3. Termasuk keimanan pula membenci untuk saudaranya apa yang dibenci untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;4. Di dalam hadits ini terdapat celaan terhadap sikap egois, membenci orang lain, hasad dan balas dendam, karena orang yang di dalam hatinya terdapat semua sifat ini berarti tidak mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, bahkan ia berharap nikmat yang Allah berikan pada saudaranya yang beriman itu hilang darinya. Nas-alullâhas-salâmah wal-‘âfiyah.&lt;br /&gt;5. Setipa mukmin dan mukminah wajib menjauhi sifat hasad (dengki, iri) dan sifat buruk lainnya karena dapat mengurangi imannya.&lt;br /&gt;6. Hadits ini menunjukkan bahwa iman itu bisa bertambah dan berkurang; bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan sebab melakukan maksiat.&lt;br /&gt;7. Mengamalkan kandungan hadits ini menjadikan menyebarnya rasa cinta diantara pribadi-pribadi dalam satu masyarakat Islami dan akan saling tolong-menolong dan bahu-membahu sehingga bagaikan satu tubuh.&lt;br /&gt;8. Mencintai kebaikan untuk seorang muslim merupakan salah satu cabang keimanan.&lt;br /&gt;9. Berlomba-lomba dalam kebajikan merupakan kesempurnaan iman.&lt;br /&gt;10. Anjuran untuk mempersatukan hati manusia dan memperkuat hubungan antara kaum mukminin.&lt;br /&gt;11. Islam bertujuan menciptakan masyarakat yang harmonis dan penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;12. Umat Islam hendaknya menjadi laksana satu bangunan dan satu tubuh. Ini diambil dari bentuk keimanan yang sempurna yaitu mencintai untuk saudaranya apa yang dicintai untuk dirinya sendiri. Wallâhu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maraji’:&lt;br /&gt;1. Al-Qur`ân dan terjemahnya.&lt;br /&gt;2. Al-Mu’jamul Kabîr.&lt;br /&gt;3. Al-Wâfi fî Syarhil Arba’în an-Nawawiyyah, karya Dr. Musthafa al-Bugha dan Muhyidin Mustha.&lt;br /&gt;4. Jâmi’ul ‘Ulum wal Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqîq: Syu’aib al-Arnauth dan Ibrahim Bâjis.&lt;br /&gt;5. Kutubus-Sab’ah.&lt;br /&gt;6. Musnad Abi ‘Awanah.&lt;br /&gt;7. Musnad Abu Ya’la.&lt;br /&gt;8. Qawâ’id wa Fawâ`id minal-‘Arba’în an-Nawawiyyah, karya Nazhim Muhammad Sulthan.&lt;br /&gt;9. Shahîh Ibni Hibban dengan at-Ta’liqâtul-Hisân ‘ala Shahîh Ibni Hibban.&lt;br /&gt;10. Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah.&lt;br /&gt;11. Syarhul Arba’în an-Nawawiyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shâlih al-‘Utsaimin.&lt;br /&gt;12. Syarhus-Sunnah lil-Baghawi.&lt;br /&gt;13. Tafsîr Ibni Jarir ath-Thabari.&lt;br /&gt;14. Dan kitab-kitab lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03//Tahun XII/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;br /&gt;_______&lt;br /&gt;Footnote&lt;br /&gt;[1]. Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (I/1/155-156).&lt;br /&gt;[2]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam (I/302).&lt;br /&gt;[3]. Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 2475), Muslim (no. Muslim no. 57), Ahmad (II/376), dan Ibnu Hibban (no. 186-At-Ta’lîqâtul-Hisân), dari Sahabat Abu Hurairah.&lt;br /&gt;[4]. Shahîh. HR. Al-Bukhâri (no. 6016), Muslim (no. 46), dan Ahmad (II/288) dari Sahabat Abu Hurairah.&lt;br /&gt;[5]. Syarah Shahîh Muslim (II/16).&lt;br /&gt;[6]. Fat-hul Bâri (I/57).&lt;br /&gt;[7]. Syarah Shahîh Muslim (II/17).&lt;br /&gt;[8]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikâm (I/303).&lt;br /&gt;[9]. Hasan. HR Abu Dawud (no. 4681) dan al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah (no. 3469) dari Abu Umamah al-Bahili Radhiyallahu 'anhu . Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albâni dalam Silsilah al-Ahâdîts ash- Shahîhah (no. 380), dan hadits ini memiliki beberapa syawahid.&lt;br /&gt;[10]. Shahîh. HR Muslim (no. 1844), Ahmad (II/161), Abu Dawud (no. 4248), an-Nasâ`i (VII/153), dan Ibnu Majah (no. 3956) dari Sahahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash c .&lt;br /&gt;[11]. Shahîh. HR Muslim (no. 1826), Abu Dawud (no. 2868), an-Nasâ`i (VI/255), dan Ibnu Hibban (no. 5538-at-Ta’lîqâtul-Hisân).&lt;br /&gt;[12]. Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 6011), Muslim (no. 2586) dan Ahmad (IV/270), dari Sahabat an-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu 'anhu , lafazh ini milik Muslim.&lt;br /&gt;[13]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam (I/306).&lt;br /&gt;[14]. Lihat Tafsîr ath-Thabari (X/114-115).&lt;br /&gt;[15]. Shahîh. HR Ahmad (I/385) dan al-Hakim (IV/182).&lt;br /&gt;[16]. Sunan Abi Dawud (no. 4092) dengan sanad yang shahîh.&lt;br /&gt;[17]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam (I/308).&lt;br /&gt;[18]. Shahîh. HR Ahmad (I/385, 432), al-Bukhâri (no. 73), Muslim (no. 816), Ibnu Majah (no. 4208), dan Ibnu Hibban (no. 90-at-Ta’lîqâtul-Hisân) dari Sahabat Ibnu Mas’ud.&lt;br /&gt;[19]. Shahîh. Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/230-231), at-Tirmidzi (no. 2325), Ibnu Majah (no. 4228), al-Baihaqi (IV/ 189), al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah (XIV/289), dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul- Kabir (XXII/ 345-346, no. 868-870), dari Sahabat Abu Kabsyah al-Anmari Radhiyallahu 'anhu.&lt;br /&gt;[20]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam (I/308-309).&lt;br /&gt;[21]. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/310).&lt;br /&gt;[22]. Shahîh. HR Muslim (no. 560). &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-3315636135520081880?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/3315636135520081880/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/ukhuwah-islamiyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/3315636135520081880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/3315636135520081880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/ukhuwah-islamiyah.html' title='UKHUWAH ISLAMIYAH'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-7277325100985682399</id><published>2010-04-14T11:26:00.003+07:00</published><updated>2010-04-14T11:28:28.685+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pergaulan'/><title type='text'>ETIKA BERGAUL</title><content type='html'>SIKAP-SIKAP YANG DISUKAI MANUSIA&lt;br /&gt;[a]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Perhatian Kepada Orang Lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara bentuk perhatian kepada orang lain, ialah mengucapkan salam, menanyakan kabarnya, menengoknya ketika sakit, memberi hadiah dan sebagainya. Manusia itu membutuhkan perhatian orang lain. Maka, selama tidak melewati batas-batas syar’i, hendaknya kita menampakkan perhatian kepada orang lain. seorang anak kecil bisa berprilaku nakal, karena mau mendapat perhatian orang dewasa. orang tua kadang lupa bahwa anak itu tidak cukup hanya diberi materi saja. Merekapun membutuhkan untuk diperhatikan, ditanya dan mendapat kasih sayang dari orang tuanya. Apabila kasih sayang tidak didapatkan dari orang tuanya, maka anak akan mencarinya dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[b]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Mau Mendengar Ucapan Mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita jangan ingin hanya ucapan kita saja yang didengar tanpa bersedia mendengar ucapan orang lain. kita harus memberi waktu kepada orang lain untuk berbicara. Seorang suami –misalnya-ketika pulang ke rumah dan bertemu istrinya, walaupun masih terasa lelah, harus mencoba menyediakan waktu untuk mendengar istrinya bercerita. Istrinya yang ditinggal sendiri di rumah tentu tak bisa berbicara dengan orang lain. Sehingga ketika sang suami pulang, ia merasa senang karena ada teman untuk berbincang-bincang. Oleh karena itu, suami harus mendengarkan dahulu perkataan istri. Jika belum siap untuk mendengarkannya, jelaskanlah dengan baik kepadanya, bahwa dia perlu istirahat dulu dan nanti ceritanya dilanjutkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, yaitu ketika teman kita berbicara dan salah dalam bicaranya itu, maka seharusnya kita tidak memotong langsung, apalagi membantahnya dengan kasar. kita dengarkan dulu pembicaraannya hingga selesai, kemudian kita jelaskan kesalahannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[c]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Menjauhi Debat Kusir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman. "Artinya: “Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah, dan nasehat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara yang baik,” Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah dalam kasetnya, menerangkan tentang ayat : "Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah". Beliau berkata, “manusia tidak suka kepada orang yang berdiskusi dengan hararah (dengan panas). Karena umumnya orang hidup dengan latar belakang……..dan pemahaman yang berbeda dengan kita dan itu sudah mendarah daging……..sehinnga para penuntut ilmu, jika akan berdiskusi dengan orang yang fanatik terhadap madzhabnya, (maka) sebelum berdiskusi dia harus mengadakan pendahuluan untuk menciptakan suasana kondusif antara dia dengan dirinya. target pertama yang kita inginkan ialah agar orang itu mengikuti apa yang kita yakini kebenarannya, tetapi hal itu tidaklah mudah. Umumnya disebabkan fanatik madzhab, mereka tidak siap mengikuti kebenaran. target kedua, minimalnya dia tidak menjadi musuh bagi kita. Karena sebelumnya tercipta suasana yang kondusif antara kita dengan dirinya. Sehingga ketika kita menyampaikan yang haq, dia tidak akan memusuhi kita disebabkan ucapan yang haq tersebut. Sedangkan apabila ada orang lain yang ada yang berdiskusi dalam permasalahan yang sama, namun belum tercipta suasana kondusif antara dia dengan dirinya, tentu akan berbeda tanggapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[d]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberikan Penghargaan Dan Penghormatan Kepada Orang Lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi mengatakan, bahwa orang yang lebih muda harus menghormati orang yang lebih tua, dan yang lebih tua harus menyayangi yang lebih muda. Permasalahan ini kelihatannya sepele. Ketika kita shalat di masjid……namun menjadikan seseorang tersinggung karena dibelakangi. Hal ini kadang tidak sengaja kita lakukan. Oleh karena itu, dari pengalaman kita dan orang lain, kita harus belajar dan mengambil faidah. Sehingga bisa memperbaiki diri dalam hal menghormati orang lain. Hal-hal yang membuat diri kita tersinggung, jangan kita lakukan kepada orang lain. Bentuk-bentuk sikap tidak hormat dan pelecehan, harus kita kenali dan hindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, ketika berjabat tangan tanpa melihat wajah yang diajaknya. Hal seperti itu jarang kita lakukan kepada orang lain. Apabila kita diperlakukan kurang hormat, maka kita sebisa mungkin memakluminya. Karena-mungkin-orang lain belum mengerti atau tidak menyadarinya. Ketika kita memberi salam kepada orang lain, namun orang tersebut tidak menjawab, maka kita jangan langsung menuduh orang itu menganggap kita ahli bid’ah atau kafir. Bisa jadi, ketika itu dia sedang menghadapi banyak persoalan sehingga tidak sadar ada yang memberi salam kepadanya, dan ada kemungkinan-kemungkinan lainnya. Kalau perlu didatangi dengan baik dan ditanyakan,agar persoalannya jelas. Dalam hal ini kita dianjurkan untuk banyak memaafkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman.&lt;br /&gt;"Artinya: “Terimalah apa yang mudah dari akhlaq mereka dan perintahkanlah orang lain mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” [Al-A’raaf : 199]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[e]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memberi Kesempatan Kepada Orang Lain Untuk Maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang muslim, seharusnya senang jika saudara kita maju, berhasil atau mendapatkan kenikmatan, walaupun secara naluri manusia itu tidak suka, jika ada orang lain yang melebihi dirinya. Naluri seperti ini harus kita kekang dan dikikis sedikit demi sedikit. Misalnya, bagi mahasiswa. Jika di kampus ada teman muslim yang lebih pandai daripada kita. Maka kita harus senang. Jika kita ingin seperti dia, maka harus berikhtiar dengan rajin belajar dan tidak bermalas-malasan. Berbeda dengan orang yang dengki, tidak suka jika temannya lebih pandai dari dirinya. Malahan karena dengkinya itu dia bisa-bisa memboikot temannya dengan mencuri catatan pelajarannya dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[f]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Tahu Berterima Kasih Atau Suka Membalas Kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bukan berarti dibolehkan mengharapkan ucapan terima kasih atau balasan dari manusia jika kita berbuat kebaikan terhadap mereka. Akan tetapi hendaklah tidak segan-segan untuk mengucapkan terima kasih dan membalas kebaikan yang diberikan orang lain kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[g]. Manusia Suka Kepada Orang Yang Memperbaiki Kesalahan Orang Lain Tanpa Melukai Perasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu melatih diri untuk menyampaikan ungkapan kata-kata yamg tidak menyakiti perasaan orang lain dan tetapSampai kepada tujuan yang diinginkan. Dalam sebuah buku diceritakan, ada seorang suami yang memberikan ceramah dalam suatu majelis dengan bahasa yang cukup tinggi, sehingga tidak bisa dipahami oleh yang mengikuti majelis tersebut. Ketika pulang, dia menanyakan pendapat istrinya tentang ceramahnya. Istrinya menjawab dengan mengatakan, bahwa jika ceramah tersebut disampaikan di hadapan para dosen, maka tentunya akan tepat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan itu merupakan sindiran halus, bahwa ceramah itu tidak tepat disampaikan di hadapan hadirin saat itu, dengan tanpa mengucapkan perkataan demikian. Hal ini bukan berarti kita harus banyak berbasa-basi atau bahkan membohongi orang lain. Namun hal ini agar tidak melukai perasaan orang, tanpa kehilangan maksud untuk memperbaikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIKAP-SIKAP YANG TIDAK DISUKAI MANUSIA&lt;br /&gt;Kita mempelajari sikap-sikap yang tidak disukai manusia agar terhindar dari sikap seperti itu. Maksud dari sikap yang tidak disukai manusia, ialah sikap yang menyelisihi syariat. berkaitan dengan sikap-sikap yang tidak disukai manusia, tetapi Allah ridho, maka harus kita utamakan. Dan sebaliknya, terhadap sikap-sikap yang dibenci oleh Allah, maka harus kita jauhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun perbuatan-perbuatan yang tidak disukai manusia ialah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama.&lt;br /&gt;Memberi Nasehat Kepadanya Di Hadapan Orang Lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Imam Asy Syafii berkata dalam syairnya yang berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengajalah engkau memberi nasehat kepadaku ketika aku sendirian&lt;br /&gt;Jauhkanlah memberi nasehat kepadaku dihadapan orang banyak&lt;br /&gt;Karena sesungguhnya nasehat yang dilakukan dihadapan manusia&lt;br /&gt;Adalah salah satu bentuk menjelek – jelekkan&lt;br /&gt;Aku tidak ridho mendengarnya&lt;br /&gt;Apabila engkau menyelisihiku dan tidak mengikuti ucapanku&lt;br /&gt;Maka janganlah jengkel apabila nasehatmu tidak ditaati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata nasehat itu sendiri berasal dari kata nashala, yang memiliki arti khalasa, yaitu murni. Maksudnya, hendaklah jika ingin memberikan nasehat itu memurnikan niatnya semata –mata karena Allah. Selain itu, kata nasehat juga bermakna khaththa, yang artinya menjahit. Maksudnya, ingin memperbaiki kekurangan orang lain. maka secara istilah, nasehat itu artinya keinginan seseorang yang memberi nasehat agar orang yang diberi nasehat itu menjadi baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua.&lt;br /&gt;Manusia Tidak Suka Diberi Nasehat Secara Langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dijelaskan Al Imam Ibn Hazm dalam kitab Al Akhlaq Was Siyar Fi Mudawatin Nufus, hendaklah nasehat yang kita berikan itu disampaikan secara tidak langsung. Tetapi, jika orang yang diberi nasehat itu tidak mengerti juga, maka dapatlah diberikan secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada suatu metoda dalam pendidikan, yang dinamakan metoda bimbingan secara tidak langsung. Misalnya sebuah buku yang ditulis oleh Syaikh Shalih bin Humaid, imam masjidil Haram, berjudul At Taujihu Ghairul Mubasyir (bimbingan secara tidak langsung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metoda ini perlu dipraktekkan, walaupun tidak mutlak. Misalnya, ketika melihat banyak kebid’ahan yang dilakukan oleh seorang ustadz di suatu pengajian, maka kita tanyakan pendapatnya dengan menyodorkan buku yang menerangkan kebid’ahan-kebid’ahan yang dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga.&lt;br /&gt;Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Selalu Memojokkannya Dengan Kesalahan – Kesalahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan kesalahan-kesalahan disini, yaitu kesalahan yang tidak fatal; bukan kesalahan yang besar semisal penyimpangan dalam aqidah. Karena manusia adalah makhluk yang banyak memiliki kekurangan-kekurangan pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alus Syaikh menjelaskan dalam ceramahnya, bahwa ada empat fenomena yang mengotori dakwah Ahlu Sunnah Wal Jamaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Memandang sesuatu hanya dari satu sisi, yaitu hanya dalam masalah-masalah ijtihadiyah.&lt;br /&gt;[2]. Isti’jal atau terburu-buru.&lt;br /&gt;[3]. Ta’ashub atau fanatik.&lt;br /&gt;[4]. Thalabul kamal atau menuntut kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Shalih menjelaskan, selama seseorang berada di atas aqidah yang benar, maka kita seharusnya saling nasehat-menasehati, saling mengingati antara satu dengan yang lain. bukan saling memusuhi. Rasulullah bersabda yang artinya, “janganlah seorang mukmin membenci istrinya, karena jika dia tidak suka dengan satu akhlaknya yang buruk, dia akan suka dengan akhlaqnya yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibn Qudamah menjelaskan dalam kitabMukhtasar Minhajul Qashidin, bahwa ada empat kriteria yang patut menjadi pedoman dalam memilih teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Aqidahnya benar.&lt;br /&gt;[2]. Akhlaqnya baik.&lt;br /&gt;[3]. Bukan dengan orang yang tolol atau bodoh dalam hal berprilaku. Karena dapat menimbulkan mudharat.&lt;br /&gt;[4]. Bukan dengan orang yang ambisius terhadap dunia atau bukan orang yang materialistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat.&lt;br /&gt;Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Tidak Pernah Melupakan Kesalahan Orang Lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang muslim, kita harus bisa memafkan dan melupakan kesalahan orang lain atas diri kita. tidak secara terus-menerus mengungkit-ungkit, apalagi menyebut-nyebutnya di depan orang lain. terkadang pada kondisi tertentu, membalas kejahatan itu bisa menjadi suatu keharusan atau lebih utama. Syaikh Utsaimin dalam kitab Syarh Riyadush Shalihin menjelaskan, bahwa memaafkan dilakukan bila terjadi perbaikan atau ishlah dengan pemberian maaf itu. Jika tidak demikian, maka tidak memberi maaf lalu membalas kejahatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima.&lt;br /&gt;Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga, barang siapa yang di dalam hatinya ada sifat sombong, walau sedikit saja…….. " sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan manusia menjadi sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1]. Harta atau uang .&lt;br /&gt;[2]. Ilmu.&lt;br /&gt;[3]. Nasab atau keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam&lt;br /&gt;Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Terburu-Buru Memvonis Orang Lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Abdullah Al Khatir rahimahullah menjelaskan, bahwa di masyarakat ada fenomena yang tidak baik. Yaitu sebagian manusia menyangka, jika menemukan orang yang melakukan kesalahan, mereka menganggap, bahwa cara yang benar untuk memperbaikinya, ialah dengan mencela atau menegur dengan keras. Padahal para ulama memilik kaedah, bahwa hukum seseorang atas sesuatu, merupakan cabang persepsinya atas sesuatu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh.&lt;br /&gt;Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Mempertahankan Kesalahannya, Atau Orang Yang Berat Untuk Rujuk Kepada Kebenaran Setelah Dia Meyakini Kebenaran Tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al Mu’allimi rahimahullah berkata, “pintu hawa nafsu itu tidak terhitung banyaknya”. oleh karena itu, kita harus berusaha menahan hawa nafsu dan menundukkannya kepada kebenaran. Sehingga lebih mencintai kebenaran daripada hawa nafsu kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedelapan.&lt;br /&gt;Manusia Tidak Suka Kepada Orang Yang Menisbatkan Kebaikan Kepada Dirinya Dan Menisbatkan Kejelekan Kepada Orang Lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Utsaimin rahimahullah dalam kasetnya yang menjelaskan syarh Hilyatul ‘ilm, tentang adab ilmu. Beliau menjelaskan, bahwa jika kita mendapati atsar dari salaf yang menisbatkan kebaikan kepada dirinya, maka kita harus husnudzan. Bahwa hal itu diungkapkan bukan karena kesombongan, tetapi untuk memberikan nasehat kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Ighasatul Lahfan, Al Imam Ibn Qayyim menjelaskan, bahwa manusia diberi naluri untuk mencintai dirinya sendiri. Sehingga apabila terjadi perselisihan dengan orang lain, maka akan menganggap dirinya yang berada di pihak yang benar, tidak punya kesalahan sama sekali. sedangkan lawannya, berada di pihak yang salah. Dia merasa dirinya yang didhalimi dan lawannyalah yang berbuat dhalim kepadanya. Tetapi, jika dia memperhatikan secara mendalam, kenyataannya tidaklah demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kita harus terus introspeksi diri dan hati-hati dalam berbuat. Agar bisa menilai apakah langkah kita sudah benar. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Sumber : Majalah As-Sunnah edisi 03 – 04/ V11/ 1424/ 2003 M. Diterbitkan oleh Yayasan Lajnah Istiqomah, Jl Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-7277325100985682399?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/7277325100985682399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/etika-bergaul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/7277325100985682399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/7277325100985682399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/04/etika-bergaul.html' title='ETIKA BERGAUL'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-8478225351230652281</id><published>2010-02-16T11:41:00.001+07:00</published><updated>2010-02-16T11:42:56.592+07:00</updated><title type='text'>MENJAGA KEBAIKAN</title><content type='html'>Allah berfirman.&lt;br /&gt;“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” [Ar-Ra’du : 11]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman.&lt;br /&gt;“Artinya : Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali” [An-Nahl : 92]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman.&lt;br /&gt;“Artinya : Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras” [Al-Hadid : 16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah berfirman.&lt;br /&gt;“Artinya : Lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya” [Al-Hadid : 27]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Ya Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan, dahulu ia shalat malam lalu ia tidak mengerjakannya lagi” [Muttafaqun Alaihi]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan&lt;br /&gt;Berkata Imam Nawawi (semoga Allah merahmati beliau) : “Bab menjaga kebaikan”. Yaitu bahwasanya seseorang jika terbiasa mengerjakan kebaikan maka sepatutnya mengekalkannya (menjaganya). Misalnya jika ia sudah terbiasa tidak meninggalkan hal-hal yang sunnah, yaitu shalat-shalat sunnah yang mengiringi shalat-shalat wajib, maka hendaknya ia menjaga hal itu, Dan jika ia terbiasa melaksanakan shalat malam maka hendaknya ia menjaganya. Dan jika terbiasa shalat dhuha dua rakaat maka hendaknya menjaga hal itu, segala kebaikan yang ia terbiasa mengerjakannya hendaknya ia jaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya amalan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus. Adalah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengerjakan suatu amalan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kontinyukan dan tidak merubahnya, yang demikian itu dikarenakan jika manusia sudah terbiasa berbuat dan mengamalkan kebaikan lalu meninggalkannya, sesungguhnya hal ini membuatnya membenci kebaikan, karena mundur sesudah maju adalah lebih jelek daripada tidak maju, maka kalau seandainya engkau belum mulai melakukan kebaikan, tentulah hal iti lebih ringan daripada engkau telah melakukannya lalu engkau tinggalkan, dan hal ini adalah sesuatu yang telah terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Nawawi (semoga Allah merahmatinya) mengutip dalam bab ini beberapa ayat Al-Qur’an, yang kesemuanya menunjukkan bahwasanya manusia sepatutnya menjaga kebiasaan amal baiknya, diantaranya firman Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali” [An-Nahl : 92]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maknanya adalah : “Janganlah kalian seperti wanita pemintal yang memintal kain wol, lalu tatkala ia sudah memintal dan membaguskannya ia robek-robek dan menguraikannya, (janganlah seperti ini) tetapi hendaknya kalian tetap dan kontinyu terhadap apa yang telah kalian lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantaranya firman Allah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras” [Al-Hadid : 16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya : Bahwasanya mereka beramal dengan amal shalih tetapi berlalulah masa yang panjang maka keraslah hati-hati mereka lalu mereka tinggalkan amal-amal shalih itu, maka janganlah kalian seperti mereka..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits-hadits yang disebutkan oleh Imam Nawawi (diantaranya : hadits Abdullah bin Amru bin Al-Ash bawasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti fulan, dahulu ia shalat malam lalu ia tidak mengerjakan lagi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata fulan adalah kata “kinayah” tentang seorang manusia (seorang lelaki). Sedangkan perempuan dikatakan “fulanah”, dan kata fulan dalam hadits ini bisa terjadi adalah perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan namanya kepada Abdullah bin Umar untuk menutupi keadaannya, karena maksud dari perkara itu tanpa pelakunya, dan mungkin juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan nama lelaki itu tetapi disamarkan namanya oleh Abdullah bin Amru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua kemungkinan diatas, inti dan pokoknya adalah amal. Dan perkaranya adalah seorang lelaki, dahulunya mengerjakan shalat malam, lalu setelah itu tidak menjaganya (mengekalkannya), padahal mengerjakan shalat malam hukum pokoknya adalah sunnah, kalaulah manusia tidak melakukannya maka tidaklah ia dicela, dan tidak dikatakan kepadanya : “Mengapa kamu tidak mengerjakan shalat malam?”. Karena shalat malam adalah sunnah, akan tetapi keadaannya yang mana ia mengerjakan shalat malam lalu tidak mengerjakannya, inilah keadaan yang menyebabkan ia dicela. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaa : “Janganlah kamu seperti si fulan, dahulu ia shalat malam lalu ia tidak mengerjakannya lagi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang lain, dan ini merupakan yang terpenting, hendaknya seseorang memulai untuk menuntut ilmu syar’i, tatkala Allah membukakan baginya kenikmatan ia tinggalkan amalnya (menuntut ilmu syar’i), maka sesungguhnya hal ini adalah kufur terhadap nikmat yang Allah berikan padanya. Maka jika engkau memulai menuntut ilmu teruslah menuntut ilmu kecuali sesuatu yang sangat darurat menyibukanmu, dan kalau tidak ada penghalang maka teruslah menuntut ilmu karena menuntut ilmu hukumnya fardu kifayah, setiap orang yang menuntut ilmu sesungguhnya Allah akan membalas amalnya itu dengan pahala fardu (wajib).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pahala fardhu adalah lebih besar dari pahala nafilah (sunnah), sebagaimana tersebut dalam hadits shahih bahwasanya Allah berfirman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Tiadalah hambaku mendekatkan kepadaku dengan sesuatu yang lebih aku sukai dari apa yang aku wajibkan kepadanya” [Hadits Riwayat Bukhari 6502]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuntut ilmu adalah fardhu kifayah jika seseorang menegakkannya maka berarti ia mewakili umat dalam melaksanakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terkadang menuntut ilmu itu hukumnya fardhu ain jika seorang manusia membutuhkan ilmu itu untuk dirinya, sebagaimana ia berkeinginan untuk shalat ia harus belajar hal-hal yang berhubungan dengan hukum shalat. Dan barangsiapa yang mempunyai harta ia harus mempelajari hukum-hukum zakat, penjual dan pembeli harus memperlajari hukum-hukum jual beli, dan barangsiapa yang ingin menunaikan haji maka harus mempelajari hukum-hukum haji, ini hukumnya fardhu ain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun ilmu-ilmu yang lain, mempelajarinya adalah fardhu kifayah, jika seseorang memulai menuntut ilmu maka jangalah ia kembali (mundur), tetapi hendaknya ia terus menuntut ilmu kecuali jika ada suatu hal penting menghalanginya dari menuntut ilmu, hal ini lain lagi keadaannya. Oleh karena itu orang-orang munafik adalah mereka yang jika memulai suatu amal, mereka tinggalkan amal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perang Uhud sekitar seribu orang keluar untuk berperang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sepertiganya adalah orang-orang munafik. Mereka tidak meneruskan perjalanan dan berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Sekiranya kami mengetahui terjadi peperangan tentulah kami mengikuti kamu” [Ali-Imran : 167]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman.&lt;br /&gt;“Artinya : Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari keimanan” [Ali-Imran 167]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepatutnya bagi seorang muslim jika Allah memberikan karunia kepadanya dengan sesuatu yang mana ia beribadah kepada Allah dengannya dengan ibadah yang khusus seperti shalat, atau ibadah-ibadah mutaadiyah (yang bermanfaat kepada selainnya) seperti menuntut ilmu hendaknya ia tidak mundur dan tidak terlambat, hendaknya ia terus menerus untuk hal itu, karena sesungguhnya yang demikian itu adalah petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dari sebagian petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sabdanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artinya : Janganlah kamu seperti fulan, dahulu ia shalat malam lalu ia tidak kerjakan lagi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah-lah Maha Pemberi Petunjuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 9 Th. II 2004M/1425H. Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya Jl. Sultan Iskandar Muda 46 Surabaya]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-8478225351230652281?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/8478225351230652281/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/02/menjaga-kebaikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/8478225351230652281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/8478225351230652281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/02/menjaga-kebaikan.html' title='MENJAGA KEBAIKAN'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-6545913139550687390</id><published>2010-02-16T11:39:00.001+07:00</published><updated>2010-02-16T11:41:07.396+07:00</updated><title type='text'>PANDANGAN ISLAM TERHADAP KEBUDAYAAN</title><content type='html'>ASAL USUL BUDAYA&lt;br /&gt;Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah. Merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal), diartikan sebagai hal-hal berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture. Berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa juga diartikan mengolah tanah atau bertani. Kata culture, juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Islam, istilah ini disebut dengan adab. Islam telah menggariskan adab-adab Islami yang mengatur etika dan norma-norma pemeluknya. Adab-adab Islami ini meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Tuntunannya turun langsung dari Allah l melalui wahyu kepada Rasul-Nya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai teladan terbaik dalam hal etika dan adab ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kedatangan Islam, yang berkembang di tengah-tengah masyarakat Arab ketika itu ialah budaya jahiliyah. Di antara budaya jahiliyah yang dilarang oleh Islam, misalnya tathayyur, menisbatkan hujan kepada bintang-bintang, dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinul-Islam sangat menitik beratkan pengarahan para pemeluknya menuju prinsip kemanusiaan yang universal, menoreh sejarah yang mulia dan memecah tradisi dan budaya yang membelenggu manusia, serta mengambil intisari dari peradaban dunia modern untuk kemaslahatan masyarakat Islami. Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, 'Isa dan para nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri". Barang siapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi" [‘Ali ‘Imran/3:84-85]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENETRASI BUDAYA&lt;br /&gt;Proses penetrasi budaya merupakan suatu hal yang tak bisa dihindari. Karena kehidupan manusia yang saling berhubungan satu sama lain. Interaksi sosial di antara manusia menyebabkan terjadinya proses penetrasi budaya ini. Yang dimaksud dengan penetrasi kebudayaan, ialah masuknya pengaruh suatu kebudayaan ke dalam kebudayaan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penetrasi budaya dapat terjadi dengan dua cara.&lt;br /&gt;1. Penetrasi Damai (Penetration Pasifique).&lt;br /&gt;Yaitu masuknya sebuah kebudayaan dengan jalan damai. Misalnya, masuknya pengaruh kebudayaan Hindu ke Indonesia. Penerimaan kedua macam kebudayaan tersebut tidak mengakibatkan konflik, tetapi memperkaya khasanah budaya masyarakat setempat. Pengaruh kedua kebudayaan inipun tidak mengakibatkan hilangnya unsur-unsur asli budaya masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebaran kebudayaan secara damai akan menghasilkan akulturasi, asimilasi atau sintesis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akulturasi, ialah bersatunya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan unsur kebudayaan asli. Contohnya, bentuk bangunan Candi Borobudur yang merupakan perpaduan antara kebudayaan asli Indonesia dengan India. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asimilasi, adalah bercampurnya dua kebudayaan sehingga membentuk kebudayaan baru. Sedangkan Sintesis, yaitu bercampurnya dua kebudayaan yang berakibat pada terbentuknya sebuah kebudayaan baru yang sangat berbeda dengan kebudayaan asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sesudah tersebarnya agama Islam di Nusantara, pengaruh-pengaruh kebudayaan yang telah berasimilasi itu masih tersisa dan dipertahankan oleh sebagian orang. Oleh karena itu, kita melihat unsur-unsur budaya India ini pada sebagian ritual keagamaan yang dilakukan oleh sebagian orang Islam, misalnya dalam upacara-upacara selamatan, seperti halnya upah-upah di Mandailing, peusijeuk di Aceh, dan tepung tawar di Melayu, serta upacara-upacara perkawinan dan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Penetrasi Kekerasan (Penetration Violante).&lt;br /&gt;Yaitu masuknya sebuah kebudayaan dengan cara memaksa dan merusak. Sebagai contoh, masuknya kebudayaan Barat ke Indonesia pada zaman penjajahan disertai dengan kekerasan, sehingga menimbulkan goncangan-goncangan yang merusak keseimbangan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEBUDAYAAN DI INDONESIA &lt;br /&gt;Kebudayaan Indonesia dapat didefinisikan sebagai seluruh kebudayaan lokal yang telah ada sebelum terbentuknya negara Indonesia pada tahun 1945. Seluruh kebudayaan lokal yang berasal dari berbagai budaya suku-suku di Indonesia merupakan bagian integral dari kebudayaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan Indonesia walau beraneka ragam, namun pada dasarnya terbentuk dan dipengaruhi oleh kebudayaan besar lainnya, seperti kebudayaan Tionghoa dan kebudayaan India. Kebudayaan India terutama masuk dari penyebaran agama Hindu dan Buddha di Nusantara jauh sebelum Indonesia terbentuk. Kerajaan-kerajaan yang bernafaskan agama Hindu dan Budha sempat mendominasi Nusantara pada abad ke-5 Masehi, ditandai dengan berdirinya kerajaan tertua di Nusantara, yakni kerajaan Kutai, sampai pada penghujung abad ke-15 Masehi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebudayaan Tionghoa masuk dan mempengaruhi kebudayaan Indonesia karena interaksi perdagangan yang intensif antara pedagang-pedagang Tionghoa dan Nusantara (Sriwijaya). Selain itu, banyak pula yang masuk bersama perantau-perantau Tionghoa yang datang dari daerah selatan Tiongkok dan menetap di Nusantara. Mereka menetap dan menikah dengan penduduk local, hingga akhirnya menghasilkan perpaduan kebudayaan Tionghoa dan lokal yang unik. Kebudayaan seperti inilah yang kemudian menjadi salah satu akar daripada kebudayaan lokal modern di Indonesia, semisal kebudayaan Jawa dan Betawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun adab-adab Islam masuk ke Indonesia seiring dengan perkembangannya di Nusantara, yang dibawa oleh dai-dai dari Timur Tengah dan Asia Selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANDANGAN ISLAM TERHADAP KEBUDAYAAN MANUSIA&lt;br /&gt;'Aisyah Radhiyalahu 'anha menceritakan: "Sesungguhnya pernikahan pada masa jahiliyah ada empat macam. Pernikahan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang sekarang. Yaitu seseorang datang meminang wanita atau anak gadis kepada walinya, lalu ia memberi mahar kepadanya kemudian menikahinya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis pernikahan lainnya, seorang lelaki berkata kepada istrinya apabila telah suci dari haidhnya, “pergilah menemui si Fulan lalu ambillah benih darinya,” kemudian suaminya menjauhi dan tidak menyentuhnya lagi hingga jelas kehamilannya dari benih si fulan tadi. Jika ternyata hamil, maka si suami boleh menyetubuhinya bila ia mau. Ia melakukan itu untuk mendapatkan anak. Pernikahan jenis ini disebut nikah istibdhâ`.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan jenis lain, yaitu berkumpullah beberapa orang lelaki yang berjumlah sekitar sepuluh orang. Mereka semua menyetubuhi seorang wanita. Apabila wanita itu hamil atau mengandung, dan telah lewat beberapa hari setelah melahirkan kandungannya, maka iapun mengirim bayinya kepada salah seorang dari laki-laki itu. Maka mereka pun tidak bisa mengelak. Kemudian mereka semua berkumpul dengan wanita itu, lalu si wanita berkata kepada mereka: “Tentunya kalian telah mengetahui urusan kalian. Aku telah melahirkan seorang anak, dan anak ini adalah anakmu hai Fulan”. Si wanita menyebutkan nama salah seorang dari mereka yang ia sukai, dan anak tersebut dinisbatkan kepada lelaki itu tanpa bisa menolaknya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan jenis lain, yaitu sejumlah lelaki menyetubuhi seorang wanita tanpa menolak siapapun lelaki yang datang kepadanya. Dia ini ialah perempuan pelacur. Mereka menancapkan bendera pada pintu-pintu rumah sebagai tanda. Siapa saja lelaki yang ingin menyetubuhinya, ia bebas mendatanginya. Jika perempuan ini hamil dan melahirkan anak, maka para lelaki itupun dikumpulkan. Lalu dipanggilah qâfah [1] kemudian anak tersebut dinisbatkan kepada salah seorang dari mereka yang telah ditunjuk oleh qâfah tersebut. Maka anak itupun dinisbatkan kepadanya tanpa bisa menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus menjadi rasul dengan membawa kebenaran, dihapuslah seluruh jenis pernikahan jahiliyah kecuali penikahan yang dilakukan oleh orang-orang sekarang ini.[2] &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari riwayat ini, kita dapat mengetahui bahwa Islam membiarkan beberapa adat kebiasaan manusia yang tidak bertentangan dengan syariat dan adab-adab Islam atau sejalan dengannya. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak menghapus seluruh adat dan budaya masyarakat Arab yang ada sebelum datangnya Islam. Akan tetapi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang budaya-budaya yang mengandung unsur syirik, seperti pemujaan terhadap leluhur dan nenek moyang, dan budaya-budaya yang bertentangan dengan adab-adab Islami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, selama adat dan budaya itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam, silakan melakukannya. Namun jika bertentangan dengan ajaran Islam, seperti memamerkan aurat pada sebagian pakaian adat daerah, atau budaya itu berbau syirik atau memiliki asal-usul ritual syirik dan pemujaan atau penyembahan kepada dewa-dewa atau tuhan-tuhan selain Allah, maka budaya seperti itu hukumnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA CONTOH KEBUDAYAAN MASYARAKAT INDONESIA&lt;br /&gt;A. Budaya Tumpeng. &lt;br /&gt;Tumpeng adalah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk kerucut. Itulah sebabnya disebut “nasi tumpeng”. Olahan nasi yang dipakai, umumnya berupa nasi kuning, meskipun kerap juga digunakan nasi putih biasa atau nasi uduk. Cara penyajian nasi ini khas Jawa atau masyarakat Betawi keturunan Jawa, dan biasanya dibuat pada saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia mengenal kegiatan ini secara umum. Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah tradisional) dan dialasi daun pisang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang melibatkan nasi tumpeng disebut secara awam sebagai “tumpengan”. Di Yogyakarta misalnya, berkembang tradisi “tumpengan” pada malam sebelum tanggal 17 Agustus, Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, untuk mendoakan keselamatan negara. Ada tradisi tidak tertulis yang menganjurkan bahwa pucuk dari kerucut tumpeng dihidangkan bagi orang yang profesinya tertinggi dari orang-orang yang hadir. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa macam tumpeng ini, di antaranya sebagai berikut. &lt;br /&gt;1. Tumpeng Robyong. Tumpeng ini biasa disajikan pada upacara siraman dalam pernikahan adat Jawa. Tumpeng ini diletakkan di dalam bakul dengan berbagai sayuran. Di bagian puncak tumpeng ini diletakkan telur ayam, terasi, bawang merah dan cabai. &lt;br /&gt;2. Tumpeng Nujuh Bulan. Tumpeng ini digunakan pada syukuran kehamilan tujuh bulan, dan terbuat dari nasi putih. Selain satu kerucut besar di tengah, tumpeng ini juga dikelilingi enam buah tumpeng kecil lainnya. Biasa disajikan di atas tampah yang dialasi daun pisang. &lt;br /&gt;3. Tumpeng Pungkur. Digunakan pada saat kematian seorang wanita atau pria yang masih lajang. Dibuat dari nasi putih yang disajikan dengan lauk-pauk sayuran. Tumpeng ini kemudian dipotong vertikal dan diletakkan saling membelakangi. &lt;br /&gt;4. Tumpeng Putih. Warna putih pada nasi putih menggambarkan kesucian dalam adat Jawa. Digunakkan untuk acara sakral. &lt;br /&gt;5. Tumpeng Nasi Kuning. Warna kuning menggambarkan kekayaan dan moral yang luhur. Digunakan untuk syukuran acara-acara gembira, seperti kelahiran, pernikahan, tunangan, dan sebagainya. &lt;br /&gt;6. Tumpeng Nasi Uduk. Disebut juga tumpeng tasyakuran. Digunakan untuk peringatan Maulud Nabi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari situ dapat kita ketahui bila tumpeng dibuat dalam rangka acara-acara atau ritual-ritual di atas, maka Islam tidak membenarkannya. Namun kalau sekedar membuat tumpeng sebagai seni memasak tanpa disertai acara dan ritual tersebut, maka tidaklah mengapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Peusijeuk, upah-upah (manyonggot), tepung tawar dan selamatan. &lt;br /&gt;Adat istiadat ini biasa diadakan apabila seseorang memiliki hajatan atau hendak pergi jauh untuk menghilangkan kesialan. Di daerah Aceh, acara ini disebut peusijeuk. Di pesisir Melayu disebut tepung tawar, dan di Jawa dikenal dengan sebutan selamatan. Di daerah Tapanuli Utara dan Asahan dikenal dengan sebutan upah-upah atau manyonggot. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepung tawar biasa dilakukan dengan menghambur-hambur beras kepada orang yang ditepung tawari. Adapun upah-upah, juga merupakan upacara menolak kesialan. Biasanya dilakukan terhadap orang yang sakit agar spiritualnya (roh) kembali ke jasadnya. Yaitu dengan memasak ayam kemudian diletakkan di piring lalu dibawa mengitari orang yang akan diupah-upahi, kemudian disuapkan kepada orang tersebut. Tujuannya ialah mengembalikan semangat pada orang sakit itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara-acara seperti tersebut di atas, tidak lepas dari unsur-unsur kepercayaan animisme, dan konon asal-usulnya berasal dari ritual-ritual nenek moyang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Sungkeman. &lt;br /&gt;Biasanya, kebiasaan ini berasal dari pulau Jawa yang umumnya dilakukan pada saat Hari Raya dan pada upacara pernikahan, tetapi kadang kala dilakukan juga setiap kali bertemu. Dilakukan dengan cara sujud kepada orang tua atau orang yang dianggap sepuh (Jawa, tua atau dituakan). Adat ini mengandung unsur sujud dan rukuk kepada selain Allah, yang tentunya dilarang dalam Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Beberapa adat-istiadat dalam upacara perkawinan adat Jawa yang bertentangan dengan syariat Islam, karena mengandung unsur syirik atau maksiat atau lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tarub atau janur kuning. Sehari sebelum pernikahan, biasanya gerbang rumah pengantin perempuan akan dihiasi tarub atau janur kuning yang terdiri dari bermacam tumbuhan dan daun-daunan, dua pohon pisang dengan setandan pisang masak pada masing-masing pohon, melambangkan suami yang akan menjadi kepala rumah tangga yang baik dan pasangan yang akan hidup baik dan bahagia dimanapun mereka berada (seperti pohon pisang yang mudah tumbuh di manapun). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebu Wulung atau tebu merah, yang berarti keluarga yang mengutamakan pikiran sehat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cengkir Gading atau buah kelapa muda, yang berarti pasangan suami istri akan saling mencintai dan saling menjagai dan merawat satu sama lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai macam daun seperti daun beringin, mojo-koro, alang-alang, dadap serep, sebagai simbol kedua pengantin akan hidup aman dan keluarga mereka terlindung dari mara bahaya. Selain itu di atas gerbang rumah juga dipasang belketepe, yaitu hiasan dari daun kelapa untuk mengusir roh-roh jahat dan sebagai tanda bahwa ada acara pernikahan sedang berlangsung di tempat tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum tarub dan janur kuning tersebut dipasang, sesajen atau persembahan sesajian biasanya dipersiapkan terlebih dahulu. Sesajian tersebut antara lain terdiri dari pisang, kelapa, beras, daging sapi, tempe, buah-buahan, roti, bunga, bermacam-macam minuman termasuk jamu, lampu, dan lainnya. Arti simbolis dari sesajian ini ialah agar diberkati leluhur dan dilindungi dari roh-roh jahat. Sesajian ini diletakkan di tempat-tempat dimana upacara pernikahan akan dilangsungkan, seperti kamar mandi, dapur, pintu gerbang, di bawah tarub, di jalanan di dekat rumah, dan sebagainya. Dekorasi lain yang dipersiapkan adalah Kembar Mayang yang akan digunakan dalam upacara panggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Upacara Siraman. Acara yang dilakukan pada siang hari sebelum ijab atau upacara pernikahan ini, bertujuan untuk membersihkan jiwa dan raga. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau taman keluarga masing-masing dan dilakukan oleh orang tua atau wakil mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada tujuh Pitulungan atau penolong (Pitu artinya tujuh) -biasanya tujuh orang yang dianggap baik atau penting- yang membantu acara ini. Airnya merupakan campuran dari kembang setaman yang disebut Banyu Perwitosari, yang jika memungkinkan diambil dari tujuh mata air dan melambangkan kehidupan. Keluarga pengantin perempuan akan mengirim utusan dengan membawa Banyu Perwitosari ke kediaman keluarga pengantin pria dan menuangkannya di dalam rumah pengantin pria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pecah Kendi. Yaitu ibu pengantin perempuan atau Pameas (untuk siraman pengantin pria) atau orang yang terakhir akan memecahkan kendi dan mengatakan "wis pecah pamore", artinya sekarang sang pengantin siap untuk menikah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pangkas Rikmo lan Tanam Rikmo. Acara memotong sedikit rambut pengantin perempuan dan potongan rambut tersebut ditanam di rumah belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ngerik, Yaitu pengantin perempuan duduk di dalam kamarnya. Pameas lalu mengeringkan rambutnya dan memberi pewangi di rambutnya. Rambutnya lalu disisir dan digelung atau dibentuk konde. Setelah Pameas mengeringkan wajah dan leher sang pengantin, lalu ia mulai mendandani wajah sang pengantin. Lalu sang pengantin akan dipakaikan baju kebaya dan kain batik. Sesajian untuk upacara Ngerik pada dasarnya sama untuk acara siraman. Biasanya supaya lebih mudah sesajian untuk siraman digunakan / dimasukkan ke kamar pengantin dan dipakai untuk sesajian upacara Ngerik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Gendhongan. Kedua orangtua pengantin perempuan menggendong anak mereka yang melambangkan ngentaske, artinya mengentaskan seorang anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Dodol Dhawet. Kedua orangtua pengantin wanita berjualan minuman dawet, yaitu minuman manis khas Solo, tujuannya agar banyak tamu yang datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Temu Panggih. Penyerahan pisang sanggan berupa gedung ayu suruh ayu sebagai tebusan atau syarat untuk pengantin perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Penyerahan Cikal. Sebagai tanda agar kehidupan mendatang menjadi orang berguna dan tak kurang suatu apapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Penyerahan Jago Kisoh. Sebagai tanda melepaskan anak dengan penuh ikhlas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Tukar Manuk Cengkir Gading. Acara tukar menukar kembang mayang diawali tukar menukar manuk cengkir gading, sebagai simbol agar kedua pengantin menjadi pasangan yang berguna bagi keluarga dan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Upacara Midodaren. Acara ini dilakukan pada malam hari sesudah siraman. Midodaren berarti menjadikan sang pengantin perempuan secantik dewi Widodari. Pengantin perempuan akan tinggal di kamarnya mulai dari jam enam sore sampai tengah malam dan ditemani oleh kerabat-kerabatnya yang perempuan. Mereka akan bercakap-cakap dan memberikan nasihat kepada pengantin perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua pengantin perempuan akan memberinya makan untuk terakhir kalinya, karena mulai besok ia akan menjadi tanggung jawab suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Peningsetan. Peningsetan yang berasal dari kata “singset” atau langsing, memiliki arti untuk mempersatukan. Kedua keluarga mempelai setuju untuk kedua anak mereka disatukan dalam tali pernikahan. Keluarga pengantin pria datang berkunjung ke kediaman keluarga pengantin perempuan membawa berbagai macam hantaran sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu set Suruh Ayu (semacam daun yang wangi), mendoakan keselamatan. Pakaian batik dengan motif yang berbeda-beda, mendoakan kebahagiaan. Kain kebaya, mendoakan kebahagiaan. Ikat pinggang kain (setagen) bewarna putih, melambangkan kemauan yang kuat dari mempelai perempuan. Buah-buahan, mendoakan kesehatan. Beras, gula, garam, minyak, dll, melambangkan kebutuhan hidup sehari-hari. Sepasang cincin untuk kedua mempelai. Sejumlah uang untuk digunakan di acara pernikahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara ini disebut juga acara serah-serahan. Bisa diartikan bahwa sang calon mempelai perempuan “diserahkan” kepada keluarga calon mempelai pria sebagai menantu mereka atau calon mempelai pria nyantri di kediaman keluarga calon mempelai perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kini, demi alasan kepraktisan, kedua belah pihak kadang-kadang dapat berbicara langsung tanpa upacara apapun. Selain menghemat waktu dan uang, juga langsung pada pokok persoalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Nyantri. Selama acara midodaren berlangsung, calon mempelai pria tidak boleh masuk menemui keluarga calon mempelai perempuan. Selama keluarganya berada di dalam rumah, ia hanya boleh duduk di depan rumah ditemani oleh beberapa teman atau anggota keluarga. Dalam kurun waktu itu, ia hanya boleh diberi segelas air, dan tidak diperbolehkan merokok. Sang calon mempelai pria baru boleh makan setelah tengah malam. Hal itu merupakan pelajaran bahwa ia harus dapat menahan lapar dan godaan. Sebelum keluarganya meninggalkan rumah tersebut, kedua orangtuanya akan menitipkan anak mereka kepada keluarga calon mempelai perempuan, dan malam itu sang calon mempelai pria tidak akan pulang ke rumah. Setelah mereka keluar dari rumah dan pulang, calon mempelai pria diijinkan masuk ke rumah namun tidak diijinkan masuk ke kamar pengantin. Calon mertuanya akan mengatur tempat tinggalnya malam itu. Ini disebut dengan Nyantri. Nyantri dilakukan untuk alasan keamanan dan praktis, mengingat bahwa besok paginya calon pengantin akan didandani dan dipersiapkan untuk acara Ijab dan acara-acara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Upacara panggih/temu (mengawali acara resepsi). Pada upacara ini kembar mayang dibawa keluar rumah dan diletakan di persimpangan dekat rumah yang tujuannya untuk mengusir roh jahat. Kembar mayang adalah karangan bunga yang terdiri dari daun-daun pohon kelapa yang ditancapkan ke sebatang tanggul kelapa. Dekorasi ini memiliki makna: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbentuk seperti gunung, tinggi dan luas, melambangkan seorang laki-laki harus berpengetahuan luas, berpengalaman, dan sabar. Hiasan menyerupai keris, pasangan harus berhati-hati di dalam hidup mereka. Hiasan menyerupai cemeti, pasangan harus selalu berpikir positif dengan harapan untuk hidup bahagia. Hiasan menyerupai payung, pasangan harus melindungi keluarga mereka. Hiasan menyerupai belalang, pasangan harus tangkas, berpikir cepat dan mengambil keputusan untuk keselamatan keluarga mereka. Hiasan menyerupai burung, pasangan harus memiliki tujuan hidup yang tinggi. Daun beringin, pasangan harus selalu melindungi keluarga mereka dan orang lain. Daun kruton, melindungi pasangan pengantin dari roh-roh jahat. Daun dadap serep, daun ini dapat menjadi obat turun panas, menandakan pasangan harus selalu berpikiran jernih dan tenang dalam menghadapi segala permasalahan (menenangkan perasaan dan mendinginkan kepala). Bunga Patra Manggala, digunakan untuk mempercantik hiasan kembar mayang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hiasan, sepasang kembar mayang diletakkan di samping kanan dan kiri tempat duduk pengantin selama resepsi pernikahan. Kembar mayang hanya digunakan jika pasangan pengantin belum pernah menikah sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian melanjutkan upacara dengan melakukan beberapa ritual: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Balangan Suruh. Setelah pengantin laki-laki (dengan ditemani kerabat dekatnya, dan orang tuanya tidak boleh menemaninya dalam acara ini) tiba di depan gerbang rumah pengantin perempuan dan pengantin perempuan keluar dari kamar pengantin dengan diapit oleh dua orang tetua perempuan dan diikuti dengan orangtua dan keluarganya. Di depannya dua anak perempuan (yang disebut Patah) berjalan dan dua remaja laki-laki berjalan membawa kembar mayang. Pada saat jarak mereka sekitar tiga meter, mereka saling melempar tujuh bungusan yang berisi daun sirih, jeruk, yang ditali dengan benang putih. Mereka melempar dengan penuh semangat dan tertawa. Dengan melempar daun sirih satu sama lain, menandakan bahwa mereka adalah manusia, bukan makhluk jadi-jadian yang menyamar jadi pengantin. Selain itu ritual ini juga melambangkan cinta kasih dan kesetiaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Wiji Dadi. Mempelai laki-laki menginjak telur ayam hingga pecah dengan kaki kanan, kemudian pengantin perempuan akan membasuh kaki sang suami dengan air bunga. Proses ini melambangkan seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab terhadap keluarganya dan istri yang taat melayani suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18. Pupuk. Ibu pengantin perempuan yang mengusap pengantin laki-laki sebagai tanda ikhlas menerimanya sebagai bagian dari keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19. Sindur Binayang. Di dalam ritual ini ayah pengantin perempuan menuntun pasangan pengantin ke kursi pelaminan, ibu pengantin perempuan menyampirkan kain sindur sebagai tanda bahwa sang ayah menunjukkan jalan menuju kebahagiaan dan sang ibu memberikan dukungan moral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20. Timbang/Pangkon. Di dalam ritual ini pasangan pengantin duduk di pangkuan ayah pengantin perempuan, dan sang ayah akan berkata bahwa berat mereka sama, berarti bahwa cinta mereka sama-sama kuat dan juga sebagai tanda kasih sayang orang tua terhadap anak dan menantu sama besarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21. Tanem. Di dalam ritual ini ayah pengantin perempuan mendudukkan pasangan pengantin di kursi pengantin sebagai tanda merestui pernikahan mereka dan memberikan berkat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22. Tukar Kalpika. Mula-mula pengantin pria meninggalkan kamarnya dengan diapit oleh anggota laki-laki keluarga (saudara laki-laki dan paman-paman). Seorang anggota keluarga yang dihormati terpilih untuk berperan sebagai kepala rombongan. Pada waktu yang sama, pengantin perempuan juga meninggalkan kamar sambil diapit oleh bibi-bibinya untuk menemui pengantin pria. Sekarang kedua pengantin duduk di meja dengan wakil-wakil dari masing-masing keluarga, dan kemudian saling menukarkan cincin sebagai tanda cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23. Kacar-Kucur/Tampa Kaya/Tandur. Dengan bantuan Pemaes, pasangan pengantin berjalan dengan memegang jari kelingking pasangannya, ke tempat ritual kacar-kucur atau tampa kaya. Pengantin pria akan menuangkan kacang kedelai, kacang tanah, beras, jagung, beras ketan, bunga dan uang logam (jumlahnya harus genap) ke pangkuan perempuan sebagai simbol pemberian nafkah. Pengantin perempuan menerima hadiah ini dengan dibungkus kain putih yang ada di pangkuannya sebagai simbol istri yang baik dan peduli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24. Dahar Kembul/Dahar Walimah. Kedua pengantin saling menyuapi nasi satu sama lain yang melambangkan kedua mempelai akan hidup bersama dalam susah dan senang dan saling menikmati milik mereka bersama. Pemaes akan memberikan sebuah piring kepada pengantin perempuan (berisi nasi kuning, telur goreng, kedelai, tempe, abon, dan hati ayam). Pertama-tama, pengantin pria membuat tiga bulatan nasi dengan tangan kanannya dan menyuapkannya ke mulut pengantin perempuan. Setelah itu ganti pengantin perempuan yang menyuapi pengantin pria. Setelah makan, mereka lalu minum teh manis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25. Rujak Degan. Acara pembuka untuk anak pertama, memohon supaya segera memiliki anak. Rujak degan artinya agar dalam pernikahan selalu sehat sejahtera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26. Bubak Kawah. Acara perebutan alat-alat dapur untuk anak pertama. Artinya agar pernikahan keduanya sehat dan sejahtera. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27. Tumplak Punjen. Acara awal untuk anak bungsu. Artinya segala kekayaan ditumpahkan karena menantu yang terakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28. Mertui. Orang tua pengantin perempuan menjemput orang tua pengantin laki-laki di depan rumah untuk berjalan bersama menuju tempat upacara. Kedua ibu berjalan di muka, kedua ayah di belakang. Orangtua pengantin pria duduk di sebelah kiri pasangan pengantin, dan sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29. Sungkeman. Kedua pengantin bersujud memohon restu dari masing-masing orangtua. Pertama-tama ayah dan ibu pengantin perempuan, kemudian baru ayah dan ibu pengantin pria. Selama sungkeman, Pemaes mengambil keris dari pengantin pria, dan setelah sungkeman baru dikembalikan lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah beberapa adat istiadat dan kebudayaan di kalangan masyarakat Jawa yang bertentangan dengan ajaran Islam. Di antaranya ada yang berupa syirik, dan di antaranya ada yang berupa maksiat dan penghambur-hamburan harta dan pemberatan atas manusia. Maha Benar Allah yang mengatakan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami tidak menurunkan Al-Qur`ân ini kepadamu agar kamu menjadi susah" [Thaha 20:2]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja yang berpaling dari pedoman dan syariatnya pasti sempit dan susah hidupnya, Allah berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". [Thaha/20:124]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Tabot atau Tabuik. &lt;br /&gt;Tabot atau Tabuik, adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad, Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perayaan di Bengkulu pertama kali dilaksanakan oleh Syaikh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo pada tahun 1685. Syaih Burhanuddin (Imam Senggolo) menikah dengan wanita Bengkulu kemudian anak mereka, cucu mereka dan keturunan mereka disebut sebagai keluarga Tabot. Upacara ini dilaksanakan dari 1 sampai 10 Muharram (berdasar kalendar islam) setiap tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya, inti upacara Tabot ialah untuk mengenang upaya pemimpin Syi'ah dan kaumnya mengumpulkan potongan tubuh Husein, mengarak dan memakamkannya di Padang Karbala. Istilah Tabot berasal dari kata Arab, “tabut”, yang secara harfiah berarti kotak kayu atau peti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur`ân, kata Tabot dikenal sebagai sebuah peti yang berisikan kitab Taurat. Bani Israil pada masa itu percaya bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan bila Tabot ini muncul dan berada di tangan pemimpin mereka. Sebaliknya mereka akan mendapatkan malapetaka bila benda itu hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada catatan tertulis sejak kapan upacara Tabot mulai dikenal di Bengkulu. Namun, diduga kuat tradisi yang berangkat dari upacara berkabung para penganut paham Syi'ah ini dibawa oleh para tukang yang membangun Benteng Marlborought (1718-1719) di Bengkulu. Para tukang bangunan tersebut, didatangkan oleh Inggris dari Madras dan Bengali di bagian selatan India yang kebetulan merupakan penganut Islam Syi‘ah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pekerja yang merasa cocok dengan tata kehidupan masyarakat Bengkulu, dipimpin oleh Imam Senggolo alias Syaikh Burhanuddin, memutuskan tinggal dan mendirikan pemukiman baru yang disebut Berkas, sekarang dikenal dengan nama Kelurahan Tengah Padang. Tradisi yang dibawa dari Madras dan Bengali diwariskan kepada keturunan mereka yang telah berasimilasi dengan masyarakat Bengkulu asli dan menghasilkan keturunan yang dikenal dengan sebutan orang-orang Sipai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi berkabung yang dibawa dari negara asalnya tersebut mengalami asimilasi dan akulturasi dengan budaya setempat, dan kemudian diwariskan dan dilembagakan menjadi apa yang kemudian dikenal dengan sebutan upacara Tabot. Upacara Tabot ini semakin meluas dari Bengkulu ke Painan, Padang, Pariaman, Maninjau, Pidie, Banda Aceh, Meuleboh dan Singkil. Namun dalam perkembangannya, kegiatan Tabot menghilang di banyak tempat. Hingga pada akhirnya hanya terdapat di dua tempat, yaitu di Bengkulu dengan nama Tabot dan di Pariaman Sumbar (masuk sekitar tahun 1831) dengan sebutan Tabuik. Keduanya sama, namun cara pelaksanaannya agak berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pada awalnya upacara Tabot (Tabuik) digunakan oleh orang-orang Syi‘ah untuk mengenang gugurnya Husain bin Ali bin Abi Thalib, maka sejak orang-orang Sipai lepas dari pengaruh ajaran Syi‘ah, upacara ini dilakukan hanya sebagai kewajiban keluarga untuk memenuhi wasiat leluhur mereka. Belakangan, sejak satu dekade terakhir, selain melaksanakan wasiat leluhur, upacara ini juga dimaksudkan sebagai wujud partisipasi orang-orang Sipai dalam pembinaan dan pengembangan budaya daerah Bengkulu setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan melestarikan budaya itulah, banyak kaum muslimin melakukannya. Padahal tidak diragukan lagi bahwa adat dan budaya seperti itu sangat jelas bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan mengandung unsur syirik dan bid’ah. Sehingga wajib bagi kaum muslimin untuk menjauhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Tingkepan, babaran, pitonan dan pacangan. &lt;br /&gt;Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tingkepan, yaitu upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama. &lt;br /&gt;2. Babaran, yaitu upacara menjelang lahirnya bayi. &lt;br /&gt;3. Sepasaran, yaitu upacara setelah bayi berusia lima hari. &lt;br /&gt;4. Pitonan, yaitu upacara setelah bayi berusia tujuh bulan. &lt;br /&gt;5. Sunatan yaitu acara khinatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat di Jawa Timur umumnya menganut perkawinan monogami. Sebelum dilakukan lamaran, pihak laki-laki melakukan acara nako'ake (menanyakan apakah si gadis sudah memiliki calon suami), setelah itu dilakukan peningsetan (lamaran). Upacara perkawinan didahului dengan acara temu atau kepanggih. Untuk mendoakan orang yang telah meninggal, biasanya pihak keluarga melakukan acara kirim donga (kirim doa) pada hari ke-1, ke-3 (telung dino), ke-7 (pitung dino), ke-40 (patang puluh dino), ke-100 (satus dino), 1 tahun (pendak pisan), 2 tahun (pendak pindo) dan 3 tahun atau 1000 hari setelah kematian (nyewu). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara-acara seperti ini berbau budaya Hindu yang masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya : Sebenarnya masih banyak lagi adat dan budaya yang menyebar di tengah-tengah masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang benar. Adapun yang kami sebutkan itu hanyalah sebagai contoh, dan bentuknya bisa berubah-ubah dan bervariasi sesuai dengan perkembangan budaya itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, hendaklah kaum muslimin secara cermat meneliti asal usulnya, apakah budaya itu mengandung unsur yang dilarang dalam agama atau tidak? Sebab, kita harus menjadikan syariat Islam sebagai barometernya, bukan sebaliknya. Karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah, dan sebenar-benar pedoman adalah pedoman para salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marâji`:&lt;br /&gt;1. Âdâbul-Khithbah wa Zifâf Minal-Kitâb wa Shahîhis-Sunnah, ‘Amru Abdul-Mun'im Salim.&lt;br /&gt;2. Âdâbusy-Syar'iyyah, Ibnu Muflih.&lt;br /&gt;3. Fathul-Bâri, Ibnu Hajar al-Asqalâni.&lt;br /&gt;4. Kamus Besar Bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;5. Mausu’ah Adab Islami, Abu ‘Umar ‘Abdul-‘Aziz bin Fathi bin as-Sayyid Nidâ`. &lt;br /&gt;6. Ritual Budaya Tabot Sebagai Media Penyiaran Dakwah Islam di Bengkulu, Bambang Indarto, Skripsi Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2006.&lt;br /&gt;7. Wikipedia Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XI/1428H/2008. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-6545913139550687390?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/6545913139550687390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/02/pandangan-islam-terhadap-kebudayaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/6545913139550687390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/6545913139550687390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/02/pandangan-islam-terhadap-kebudayaan.html' title='PANDANGAN ISLAM TERHADAP KEBUDAYAAN'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-4371310701959522498</id><published>2010-02-16T11:37:00.001+07:00</published><updated>2010-02-16T11:38:56.158+07:00</updated><title type='text'>KEWAJIBAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA</title><content type='html'>Marilah kita bertakwa kepada Allah. Kita laksanakan kewajiban yang telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu berupa hak-hak-Nya dan hak para hamba-Nya. Dan ketahuilah, hak manusia yang paling besar atas diri kalian ialah hak kedua orang tua dan karib kerabat. Allah menyebutkan hak tersebut berada pada tingkatan setelah hak-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وا عبدوا الله ولأ تشر كوا به شيئا وبااولدين احسنا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa ... " [an-Nisâ`/4:36]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman dalam surat Luqmân/31 ayat 14: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وو صينا الأنسن بو لد يه&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya, ...)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Allah menyebutkan alasan perintah ini, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;حملته أمه وهنا على وهن&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah)".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni keadaan lemah dan berat ketika mengandung, melahirkan, mengasuh dan menyusuinya sebelum kemudian menyapihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وفصله فى عا مين أن اشكر لى ولو لد يك الى المصير&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu)". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi telah menjadikan bakti kepada orang tua lebih diutamakan daripada berjihad di jalan Allah. Disebutkan dalam shahîhaian dari 'Abdullâh bin Mas'ûd, ia berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku bertanya kepada Nabi; "Amalan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab,"Shalat pada waktunya." Aku bertanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau menjawab,”Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi: ”Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab,”Berjihad di jalan Allah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan dalam kitab Shahîh Muslim, bahwa ada seseorang datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata: "Aku berbaiat kepadamu untuk berhijrah dan berjihad di jalan Allah. Aku mengharap pahala dari Allah.” Beliau bertanya,”Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup?” Ia menjawab,"Ya, bahkan keduanya masih hidup,” beliau bersabda,”Engkau mencari pahala dari Allah?” Ia menjawab,”Ya." beliau bersabda,"Pulanglah kepada kedua orang tuamu, kemudian perbaikilah pergaulanmu dengan mereka." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam sebuah hadits dengan sanad jayyid (bagus), ada seseorang berkata kepada Nabi : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad namun aku tidak mampu melakukannya". Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih ada?" Ia menjawab,"Ya, ibuku," beliau bersabda: "Temuilah Allah dalam keadaan berbakti kepada kedua orang tuamu. Apabila engkau melakukannya, maka berarti engkau telah berhaji, berumrah dan berjihad". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanhu wa Ta'ala juga telah berwasiat supaya berbuat baik kepada kedua orang tua di dunia walaupun keduanya kafir. Akan tetapi, apabila keduanya menyuruh untuk berbuat kufur maka sang anak tidak boleh menaati perintah kufur ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".[Luqmân/31:15].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam kitab shahîhain, dari Asmâ' binti Abu Bakar Radhiyallahu 'anha, ia menceritakan ketika ibunya datang menyambung silaturrahmi dengannya padahal si ibu masih dalam keadaan musyrik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asmâ' Radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي قَالَ نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku ingin (menyambung hubungan dengan putrinya, Asmâ'), apakah aku boleh menyambung hubungan kembali dengan ibuku". Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,"Ya, sambunglah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara berbakti kepada kedua orang tua, ialah dengan mencurahkan kebaikan, baik dengan perkataan, perbuatan, ataupun harta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat baik dengan perkataan, yaitu kita bertutur kata kepada keduanya dengan lemah lembut, menggunakan kata-kata yang baik dan menunjukan kelembutan serta penghormatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat baik dengan perbuatan, yaitu melayani keduanya dengan tenaga yang mampu kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, membantu dan mempermudah urusan-urusan keduanya. Tentu, tanpa membahayakan agama ataupun dunia kita. Allah Mahamengetahui segala hal yang sekiranya membahayakan. Sehingga kita jangan berpura-pura mengatakan sesuatu itu berbahaya bagi diri kita padahal tidak, sehingga kitapun berbuat durhaka kepada keduanya dalam hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat baik dengan harta, yaitu dengan memberikan setiap yang kita miliki untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh keduanya, berbuat baik, berlapang dada dan tidak mengungkit-ungkit pemberian sehingga menyakiti perasaan ibu bapak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketahuilah, para jama'ah Jum'at rahimakumullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbakti kepada kedua orang tua tidak hanya dilakukan tatkala keduanya masih hidup. Namun tetap dilakukan manakala keduanya telah meninggal dunia. Ada sebuah kisah, yaitu seseorang dari Bani Salamah mendatangi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia bertanya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai Rasulullah, apakah masih ada cara berbakti kepada kedua orang tuaku setelah keduanya meninggal?" Beliau menjawab,"Ya, dengan mendoakannya, memintakan ampun untuknya, melaksanakan janjinya (wasiat), menyambung silaturahmi yang tidak bisa disambung kecuali melalui jalan mereka berdua, dan memuliakan teman-temannya". [HR Abu Dawud]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allâhu Akbar! Demikianlah jama'ah Jum'at, betapa luas cakupan berbakti kepada kedua orang tua, bahkan termasuk di dalamnya keharusan memuliakan dan menyambung silaturahmi kepada teman kerabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam kitab Shahîh Muslim, dari 'Abdullâh bin 'Umar bin Khatthâb Radhiyallahu 'anhu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suatu hari beliau Radhiyallahu 'anhu berjalan di kota Makkah dengan mengendarai keledai yang biasa beliau Radhiyallahu 'anhu gunakan bersantai jika bosan mengendarai unta. Lalu di dekat beliau lewatlah seorang Arab Badui. Lantas 'Abdullah bin 'Umar pun bertanya kepadanya:”Benarkah engkau Fulan bin Fulan?” Ia menjawab,”Ya,” kemudian 'Abdullah bin 'Umar memberikan keledainya kepada orang itu sambil berkata,”Naikilah keledai ini.” Beliau juga memberikan sorban yang mengikat di kepalanya seraya berkata,”Ikatlah kepalamu dengan sorban ini,” maka sebagian sahabatnya berkata,”Semoga Allah mengampunimu. Mengapa engkau memberikan keledai kendaraan santaimu dan sorban ikat kepalamu kepada orang itu?” Maka 'Ibnu 'Umar menjawab: ”Orang ini, dahulu adalah teman 'Umar (bapakku), dan aku pernah mendengar Rasulullah berkata,'Sesungguhnya bakti yang terbaik, ialah tetap menyambung hubungan keluarga ayahnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada khutbah pertama, telah kami sampaikan penjelasan mengenai kedudukan berbakti kepada orang tua dan keagungan martabatnya. Adapun balasan berbakti ini ialah pahala yang besar saat di dunia maupun akhirat. Barang siapa yang berbakti kepada orangtuanya, maka kelak anak-anaknya juga akan berbakti kepadanya, serta memberikan jalan keluar dari kesusahannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari hadits Ibnu 'Umar Radhiyallahu 'anhu disebutkan tentang kisah tiga orang yang ingin bermalam di gua, lalu merekapun masuk ke dalamnya. Begitu sampai di dalam gua, tiba-tiba sebongkah batu besar jatuh dan menutup mulut gua tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merekapun kemudian bertawasul kepada Allah dengan amal-amal shalih yang pernah dikerjakan supaya mereka bisa keluar. Salah seorang dari mereka berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai bapak dan ibu yang sudah sangat tua. Aku tidak pernah memberikan susu kepada keluarga maupun budakku sebelum mereka berdua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, aku pergi jauh untuk mencari pohon dan belum kembali kepada mereka hingga mereka pun tertidur. Akupun memerah susu untuk mereka. Setelah selesai, ternyata aku mendapatkan mereka berdua telah tertidur. Aku tidak ingin membangunkannya dan tidak memberikan susu kepada keluarga maupun untukku sendiri. Aku terus menunggu mereka sambil membawa mangkuk susu di tanganku hingga terbit fajar. Mereka pun bangun dan meminum susu perahanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, sekiranya aku melakukan itu semua karena-Mu, maka bukakanlah batu yang telah menutupi kami ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka batu itupun bergeser sedikit. Kemudian demikian pula yang lainnya berdoa, bertawasul dengan amalan shalih yang pernah mereka kerjakan. Akhirnya, batu itupun bergeser sehingga gua terbuka dan mereka dapat keluar, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, berbakti kepada orang tua juga akan mendatangkan keluasan rizki, panjang umur dan khusnul khatimah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan dari Sahabat 'Ali bin Abi Thâlib bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang senang apabila dipanjangkan umurnya, diluaskan rizkinya dan dihindarkan dari sû`ul khatimah, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi." Dan sesungguhnya, berbakti kepada orang tua merupakan wujud silaturahmi yang paling mulia, karena orang tua memiliki hubungan kekerabatan yang paling dekat dengan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mukmin yang berakal, sungguh sangat tidak pantas berbuat durhaka dan memutuskan hubungan dengan kedua orang tua, padahal ia mengetahui keutamaan berbakti kepadanya, dan balasannya yang mulia di dunia maupun di akhirat. Larangan ini sangat besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila telah mencapai usia lanjut, kedua orang tua akan mengalami kelemahan badan maupun pikiran. Bahkan keduanya bisa mengalami kondisi yang serba menyusahkan, sehingga menyebabkan seseorang mudah menggertak atau bersikap malas untuk melayaninya. Dalam keadaan demikian, Allah melarang setiap anak membentak, meskipun dengan ungkapan yang paling ringan. Tetapi Allah memerintahkan si anak supaya bertutur kata yang baik, merendahkan diri dalam perkataan maupun perbuatan di hadapan keduanya. Sebagaimana sikap seorang pembantu di hadapan majikannya. Demikian pula, Allah memerintahkan si anak supaya mendoakan keduanya, semoga Allah mengasihi keduanya sebagaimana keduanya telah mengasihi dan merawat si anak tatkala masih kecil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang ibu rela berjaga saat malam hari demi menidurkan anaknya. Iapun rela menahan rasa letih supaya si anak bisa beristirahat dengan cukup. Adapun bapaknya, ia berusaha sekuat tenaga mencari nafkah. Letih pikirannya, letih pula badannya. Semua itu, tidak lain ialah untuk memberi makan dan mencukupi kebutuhan si anak. Sehingga sepantasnya bagi si anak untuk berbakti kepada keduanya sebagai balasan atas kebaikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab shahîhain disebutkan dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi: "Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia yang paling berhak aku pergauli dengan baik?" Rasulullah menjawab,"Ibumu." Orang itu bertanya lagi: "Kemudian siapa lagi?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Ibumu." Orang itu mengulangi pertanyaannya: "Kemudian siapa lagi?" Nabi pun kembali mengulangi jawabanya: "Ibumu." Iapun kemudian mengulangi pertanyaanya untuk yang ke empat kalinya: "Kemudian siapa?" Rasulullah menjawab: "Bapakmu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberikan taufik-Nya, sehingga memudahkan kita untuk berbakti kepada ibu bapak. Dan semoga Allah memberi karunia kepada kita keikhlasan dalam melaksanakannya. Sesunggunya Dia-lah Dzat yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diringkas oleh Ustadz Abu Sauda` Eko Mas`uri, dari ad-Dhiyâ-ul Lâmi', Syaikh Muhammad bin Shâlih al-'Utsaimîn, hlm. 501-504]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 109/Tahun XI/1428H/2008 (Rubrik Khutbah Jum'at). Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-4371310701959522498?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/4371310701959522498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/02/kewajiban-berbakti-kepada-orang-tua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/4371310701959522498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/4371310701959522498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/02/kewajiban-berbakti-kepada-orang-tua.html' title='KEWAJIBAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-753497915525259159</id><published>2010-02-16T11:31:00.001+07:00</published><updated>2010-02-16T11:34:34.743+07:00</updated><title type='text'>MUSUH-MUSUH MANUSIA</title><content type='html'>Kita memahami, bahwa Allah Azza wa Jalla menciptakan fitrah atas diri manusia, yaitu bisa mengetahui dan mengenal kebenaran, serta menjauhi dan menghindari kebathilan. Akan tetapi, meskipun fithrah manusia itu sudah disiapkan dan memiliki kemampuan untuk mengetahui yang haq dan yang bathil, namun bukan berarti untuk mengamalkan al haq ataupun menghindari yang bathil itu mudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rintangan dan hambatan yang menjadi ujian. Ada musuh yang selalu menghalangi dari jalan al haq. Dan sebaliknya ada musuh yang selalu berusaha membimbing ke arah yang bathil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh-musuh ini memberikan gambaran tentang kebenaran dan kebathilan. Al haq, yang semestinya indah, menjanjikan kebaikan dan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, digambarkan oleh musuh manusia sebagai sesuatu yang menakutkan dan menyusahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya yang bathil, yang mestinya menjijikkan dan berujung pada penderitaan, digambarkan oleh musuh manusia sebagai keindahan nan menyenangkan. Akhirnya banyak orang yang terpedaya, meninggalkan jalan yang benar dan mengikuti jalan yang bathil, iyadzan billah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, wahai saudara-saudaraku, rahimanillahu wa iyyakum ajma’in, kita perlu mengetahui musuh-musuh itu, agar dapat bersikap. Musuh tetaplah musuh, bukan sebagai teman, apalagi sebagai pembimbing. Siapakah musuh-musuh yang selalu berusaha mengajak manusia kepada perbuatan batil dan keliru? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh yang pertama adalah setan. Berbagai macam cara ditempuh oleh setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam kebathilan dan menghalangi manusia dari al haq (kebenaran). Dan setan ini sering berhasil menjadikan manusia sebagai pengikutnya. Hanya orang-orang ikhlas dalam ibadahnya yang selamat dari makar dan tipu daya setan. Hanya orang-orang beriman yang bisa menjadikan setan sebagai musuhnya. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang beriman yang iikhlas dalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal kitab Madarijus Salikin dan al Bada-i, pada akhir pembahasan tafsir surat al Mu’awwidzatain (surat an Nas dan al Falaq), Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan cara-cara dan tahapan setan dalam menghembuskan kejahatan dan tipuan kepada manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan Pertama : Setan mengajak manusia melakukan perbuatan kufur dan syirik, menentang Allah dan RasulNya. Inilah yang paling diinginkan oleh setan. Dengan cara ini, setan telah berhasil menyesatkan banyak orang. Dengan cara ini, manusia dijadikan sebagai tentara dan para abdinya. Jika setan putus asa dan tidak mampu menyeret manusia ke dalam perbuatan kufur, maka setan akan menggodanya dengan tahapan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahapan Kedua : Setan mengajak manusia untuk mengamalkan perbuatan bid’ah dalam agama, baik bid’ah dalam masalah aqidah maupun amal perbuatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bid’ah merupakan perbuatan dosa, yang pelakunya sulit diharapkan bertaubat. Setan memberi gambaran yang indah dalam benak manusia, bahwa apa yang dilakukan itu merupakan kebenaran, dan ahli bid’ah mempercayai bisikan setan ini. Karena anggapan yang baik atas perbuatan bid’ah, membuat pelakunya susah melepaskan diri dan bertaubat dari perbuatan yang dianggap baik ini, padahal sebenarnya menyesatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berhasil menyeret seseorang ke dalam tahapan ini, maka setan akan merasa lega. Karena perbuatan bid’ah merupakan gerbang menuju kekufuran. Dan para pembuat bid’ah menjadi salah satu corong di antara propaganda iblis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika setan tidak mampu menyeretnya ke dalam perbuatan bid’ah, maka dia akan menjebak dan menggiring manusia kepada Tahapan Ketiga : Yaitu perbuatan dosa besar dengan berbagai macam variasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dosa-dosa besar ini juga merupakan gerbang menuju kekufuran. Setan berhasil menjerumuskan banyak orang dalam dosa besar. Manusia tenggelam dalam perbuatan maksiat, sehingga hatinya menjadi membatu, terhalang dari kebenaran. Kemudian setan menyebarkan berita tentang mereka ini di tengah masyarakat. Setan memanfaatkan tentara dan para abdinya untuk menyebarkan perbuatan dosa ini, terutama jika perbuatan dosa ini dilakukan oleh penguasa atau orang yang diidolakan. Tujuannya, supaya perbuatan-perbuatan mereka dijadikan argumen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai misal, yaitu makan riba, mendengarkan musik, menikmati alat-alat musik dan permainan, menyetujui perbuatan bersolek, membuka wajah dan ikhtilath (campur baur) laki-laki dan perempuan, loyal dan suka kepada orang-orang kafir, homoseks, meminum khamr, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahapan ini, setan berhasil menyesatkan banyak orang. Banyak manusia berkubang dalam kemungkaran-kemungkaran. Setan menghiasi amal-amal para idola ini, sehingga mereka menjadi pioner yang mengajak ke perbuatan maksiat secara nyata, atau mungkin dengan ucapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang yang tidak mampu digoda setan dan dijaga oleh Allah dari perbuatan dosa-dosa besar, maka setan berusaha menyeretnya ke Tahap Keempat : Yaitu melakukan dosa-dosa kecil, sebagai gerbang memasuki dosa-dosa besar. Dosa-dosa kecil ini terkadang dianggap remeh oleh manusia dan tidak peduli dengan pelakunya. Padahal, dosa-dosa kecil itu menyeret untuk melakukan dosa berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan dalam sebuah hadits dari Sahl bin Sa’d, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jauhilah dosa-dosa kecil, karena jika dosa-dosa itu berkumpul pada diri seseorangو akhirnya akan membuatnya binasa (celaka)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, tidak diragukan lagi, meremehkan perbuatan dosa kecil, bisa merubah dosa kecil menjadi besar. Sebagaimana perkataan ulama Salaf, tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus, dan tidak dosa besar bila diiringi dengan istighfar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian yang lain mengatakan, janganlah kalian memandang kecil sebuah dosa, akan tetapi pandanglah keagungan Dzat yang kalian durhakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika setan merasa lemah dan tidak mampu menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan-pebuatan dosa ini, maka setan menggoda manusia dengan tahapan kelima. Yaitu menyibukkan manusia dengan perkara-perkara mubah yang tidak mendatangkan pahala, dan juga tidak mengakibatkan dosa. Menyibukkan perkara-perkara mubah, berarti menyia-nyiakan waktu dan usia, tidak memanfaatkankanya dengan kebaikan dan perbuatan shalih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak manusia tertipu dengan perkara-perkara mubah, berlebih-lebihan dalam makanan, minum, rumah, pakaian. Demi keperluan ini, manusia telah menyia-nyiakan sejumlah harta, usia dan waktu, lalai dengan kebaikan, tidak berlomba-lomba dalam kebaikan. Sehingga, perbuatan mubah ini bisa menjadi penyebab seseorang lupa kepada akhirat, dan lupa melakukan persiapan untuk menyongsongnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan manusia yang tidak bisa dijerumuskan dengan tahapan ini, maka setan akan mengganggunya dengan Tahapan Keenam, yaitu mengalihkan perhatian manusia dari amalan-amalan yang lebih baik kepada amalan yang di bawahnya. Sebagai misal, seseorang akan menggunakan harta untuk hal-hal yang bernilai baik tetapi kurang. Disibukkan dengan amalan-amalan marjuh (bernilai baik tetapi kurang), sehingga (salah satu wujudnya) mempelajari ilmu-ilmu yang tidak memiliki urgensitas dan kehilangan ilmu yang bermanfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau seseorang itu lebih memilih melakukan usaha-usaha yang masih memiliki syubhat daripada usaha yang jelas-jelas halal. Lebih mengutamakan ibadah-ibadah qashirah (yaitu manfaat ibadahnya hanya sebatas untuk si pelaku saja, seperti shalat sunnah) daripada ibadah muta’addiyah (ibadah yang manfaatnya juga akan dirasakan oleh orang lain) seperti jihad, mengajarkan ilmu, memerintahkan kepada yang ma’ruf, mencegah dari kemungkaran. Akibatnya, dia akan kehilangan kebaikan yang banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah tipu daya musuh setan. Saat setan merasa lemah dan tidak mampu menjerat sebagian manusia dalam perangkap-perangkap ini, maka setan memberikan kuasa kepada wali-walinya dan para abdinya dari kalangan jin dan manusia, serta orang yang tertipu dengan bisikannya. Lalu mereka menghina orang-orang baik ini dengan tujuan menyakiti wali dan para kekasih Allah Azza wa Jalla. Mereka menyiksanya dengan siksa yang buruk, seperti pembunuhan, pengusiran, penahanan, penyiksaan, penghinaan, pelecehan terhadap amalan-amalan orang-orang baik ini, sebagaimana kejadian yang dialami oleh para nabi Allah dan pengikutnya pada setiap waktu dan di semua tempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah melindungi kita dari semua makar dan tipu daya setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh manusia yang kedua, adalah nafsu yang senantiasa mengajak kepada keburukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hawa nafsu ini cendrung kepada kebathilan, menghalangi manusia agar tidak menerima kebenaran dan tidak mengamalkannya. Jika jiwa ini muthmainnah (tenang dalam kebenaran), lebih mengutamakan yang hak, maka dia akan membimbing manusia ke arah yang benar dan berjalan di atas jalan keselamatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musuh manusia yang ketiga, adalah menjadikan hawa nafsu ini sebagai ilah, yaitu menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan selain Allah. Disebutkan dalam firman Allah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilahnya (sesembahannya). Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?" [al Furqon : 43].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang selalu memperturutkan segala keinginannya, ia tidak akan peduli dengan akibat buruknya. Dalam sebuah atsar diriwayatkan, di bawah kolong langit ini, tidak ada yang lebih jelek dibandingkan hawa nafsu yang diperturutkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun musuh manusia yang keempat adalah gemerlap dunia, kenikmatan dan hiasannya. Keindahan dunia dan berbagai kenikmatan semunya, telah menipu banyak orang, membuat manusia lupa kepada tujuan hidupnya yang hakiki. Padahal kehidupan akhirat dan segala isinya jauh lebih baik dibandingkan dengan kehidupan dunia yang fana. Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah, adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?" [al Qashash : 60]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla juga berfirman :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetapi kamu (orang-orang) kafir lebih memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal". [al A’la : 16-17].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian beberapa musuh yang sering menghalangi manusia dari berbuat amal shalih. Semoga Allah melindungi kita dari semua makar dan tipu daya yang menyesatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika musuh-musuh bisa menguasai diri seorang manusia, maka dampak yang terlihat adalah tidak semangat dalam melakukan ketaatan. Dan sebaliknya, ia justru semangat dan tidak takut melakukan perbuatan maksiat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, Allah Azza wa Jalla yang Maha Rahim tidak membiarkan para hambaNya untuk menghadapi musuhnya seorang diri. Allah Azza wa Jalla berjanji akan menolong manusia dalam menghadapi musuh-musuhnya ini. Allah memerintahkan kepada kita agar memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, serta memerintahkan manusia agar memohon pertolongan kepada Allah k dalam melakukan amalan yang susah ataupun berat baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla juga memerintahkan kepada para hambaNya agar ikhlas dalam melakukan ketaatan. Dengan demikian, dia akan termasuk hamba-hamba pilihan. Hamba-hamba yang ikhlas akan dibentengi Allah Azza wa Jalla dari kekuasaan musuh. Allah Azza wa Jalla berfirman : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya hamba-hambaku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabb-mu sebagai Penjaga" [al Israa` : 65].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah senantiasa menolong kita dalam menghadapi godaan musuh-musuh, yang senantiasa menghalangi manusia dari jalan ketaatan. Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hambaNya yang ikhlas, dan senantiasa mengikuti petunjuk Raslullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diangkat dari Minhajul Muslim Bainal ‘Ilmi wal ‘Amal, karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al Jibrin, hlm. 175-180]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 02/Tahun X/1427H/2006M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-753497915525259159?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/753497915525259159/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/02/musuh-musuh-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/753497915525259159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/753497915525259159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/02/musuh-musuh-manusia.html' title='MUSUH-MUSUH MANUSIA'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-2490993139409280286</id><published>2010-02-16T11:24:00.001+07:00</published><updated>2010-02-16T11:28:55.312+07:00</updated><title type='text'>BETAPA PENTING MENYAMBUNG SILATURAHMI</title><content type='html'>Marilah kita bertakwa kepada Allah Ta'ala. Takwa yang juga dapat mengantarkan kita pada kebaikan hubungan dengan sesama manusia. Lebih khusus lagi, yaitu sambunglah tali silaturahmi dengan keluarga yang masih ada hubungan nasab (anshab). Yang dimaksud, yaitu keluarga itu sendiri, seperti ibu, bapak, anak lelaki, anak perempuan ataupun orang-orang yang mempunyai hubungan darah dari orang-orang sebelum bapaknya atau ibunya. Inilah yang disebut arham atau ansab. Adapun kerabat dari suami atau istri, mereka adalah para ipar, tidak memiliki hubungan rahim ataupun nasab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara untuk menyambung tali silaturahmi. Misalnya dengan cara saling berziarah (berkunjung), saling memberi hadiah, atau dengan pemberian yang lain. Sambunglah silaturahmi itu dengan berlemah lembut, berkasih sayang, wajah berseri, memuliakan, dan dengan segala hal yang sudah dikenal manusia dalam membangun silaturahmi. Dengan silaturahmi, pahala yang besar akan diproleh dari Allah Azza wa Jalla. Silaturahim menyebabkan seseorang bisa masuk ke dalam surga. Silaturahim juga menyebabkan seorang hamba tidak akan putus hubungan dengan Allah di dunia dan akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebutkan dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari Abu Ayyûb al-Anshârî: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ فَقَالَ النَّبِيُّ : لَقَدْ وُفِّقَ أَوْ قَالَ لَقَدْ هُدِيَ كَيْفَ قُلْتَ ؟ فَأَعَادَ الرَّجُلُ فَقَالَ النَّبِيُّ : تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ النَّبِيُّ : إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka," maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh dia telah diberi taufik," atau "Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?" Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi". Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silaturahmi juga merupakan faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan banyak rizki. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi". [Muttafaqun 'alaihi]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: "Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya". [Muttafaqun 'alaihi].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa menyambung silaturahmi lebih besar pahalanya daripada memerdekakan seorang budak. Dalam Shahîh al-Bukhâri, dari Maimûnah Ummul-Mukminîn, dia berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا رَسُولَ اللَّهِ أَشَعَرْتَ أَنِّي أَعْتَقْتُ وَلِيدَتِي قَالَ أَوَفَعَلْتِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لِأَجْرِكِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan budakku?" Nabi bertanya, "Apakah engkau telah melaksanakannya?" Ia menjawab, "Ya". Nabi bersabda, "Seandainya engkau berikan budak itu kepada paman-pamanmu, maka itu akan lebih besar pahalanya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang amat disayangkan, ternyata ada sebagian orang yang tidak mau menyambung silaturahmi dengan kerabatnya, kecuali apabila kerabat itu mau menyambungnya. Jika demikian, maka sebenarnya yang dilakukan orang ini bukanlah silaturahmi, tetapi hanya sebagai balasan. Karena setiap orang yang berakal tentu berkeinginan untuk membalas setiap kebaikan yang telah diberikan kepadanya, meskipun dari orang jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus". [Muttafaqun 'alaihi]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, sambunglah hubungan silaturahmi dengan kerabat-kerabat kita, meskipun mereka memutuskannya. Sungguh kita akan mendapatkan balasan yang baik atas mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriwayatkan, telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ فَقَالَ لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku," maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan." [Muttafaq 'alaihi]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula firman Allah Ta'ala:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)". [ar-Ra’d/13:25]. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jubair bin Mut’im bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)". [Mutafaqun 'alaihi].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memutus tali silaturahmi yang paling besar, yaitu memutus hubungan dengan orang tua, kemudian dengan kerabat terdekat, dan kerabat terdekat selanjutnya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Maukah kalian aku beritahu tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” Beliau mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Maka para sahabat menjawab: ”Mau, ya Rasulullah,” Nabi n bersabda: ”Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, betapa besar dosa seseorang yang durhaka kepada orang tua. Dosa itu disebutkan setelah dosa syirik kepada Allah Ta'ala. Termasuk perbuatan durhaka kepada kedua orang tua, yaitu tidak mau berbuat baik kepada keduanya. Lebih parah lagi jika disertai dengan menyakiti dan memusuhi keduanya, baik secara langsung maupun tidak langsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam shahîhain, dari 'Abdullah bin 'Amr, sesungguhnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Termasuk perbuatan dosa besar, yaitu seseorang yang menghina orang tuanya,” maka para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, adakah orang yang menghina kedua orang tuanya sendiri?” Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ”Ya, seseorang menghina bapak orang lain, lalu orang lain ini membalas menghina bapaknya. Dan seseorang menghina ibu orang lain, lalu orang lain ini membalas dengan menghina ibunya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla. Dan marilah kita melihat diri kita masing-masing, sanak keluarga kita! Sudahkah kita menunaikan kewajiban atas mereka dengan menyambung tali silaturahmi? Sudahkah kita berlemah lembut terhadap mereka? Sudahkah kita tersenyum tatkala bertemu dengan mereka? Sudahkah kita mengunjungi mereka? Sudahkah kita mencintai, memuliakan, menghormati, saling menunjungi saat sehat, saling menjenguk ketika sakit? Sudahkah kita membantu memenuhi atau sekedar meringankan yang mereka butuhkan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian orang tidak suka melihat kedua orang tuanya yang dulu pernah merawatnya kecuali dengan pandangan yang menghinakan. Dia memuliakan istrinya, tetapi melecehkan ibunya. Dia berusaha mendekati teman-temannya, akan tetapi menjahui bapaknya. Apabila duduk dengan kedua orang tuanya, maka seolah-olah ia sedang duduk di atas bara api. Dia berat apabila harus bersama kedua orang tuanya. Meski hanya sesaat bersama orang tua, tetapi ia merasa begitu lama. Dia bertutur kata dengan keduanya, kecuali dengan rasa berat dan malas. Sungguh jika perbuatannya demikian, berarti ia telah mengharamkan bagi dirinya kenikmatan berbakti kepada kedua orang tua dan balasannya yang terpuji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula manusia yang tidak mau memandang dan menganggap sanak kerabatanya sebagai keluarga. Dia tidak mau bergaul dengan karib kerabat dengan sikap yang sepantasnya diberikan sebagai keluarga. Dia tidak mau bertegus sapa dan melakukan perbuatan yang bisa menjalin hubungan silaturahmi. Begitu pula, ia tidak mau menggunakan hartanya untuk hal itu. Sehingga ia dalam keadaan serba kecukupan, sedangkan sanak keluarganya dalam keadaan kekurangan. Dia tidak mau menyambung hubungan dengan mereka. Padahal, terkadang sanak keluarga itu termasuk orang-orang yang wajib ia nafkahi karena ketidakmampuannya dalam berusaha, sedangkan ia mampu untuk menafkahinya. Akan tetapi, tetap saja ia tidak mau menafkahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ahlul-'ilmi telah berkata, setiap orang yang mempunyai hubungan waris dengan orang lain, maka ia wajib untuk memberi nafkah kepada mereka apabila orang lain itu membutuhkan atau lemah dalam mencari penghasilan, sedangkan ia dalam keadaan mampu. Yaitu sebagaimana yang dilakukan seorang ayah untuk memberikan nafkah. Maka barang siapa yang bakhil maka ia berdosa dan akan dihisab pada hari Kiamat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, tetap sambungkanlah tali silaturahmi. Berhati-hatilah dari memutuskannya. Masing-masing kita akan datang menghadap Allah dengan membawa pahala bagi orang yang menyambung tali silaturahmi. Atau ia menghadap dengan membawa dosa bagi orang yang memutus tali silaturahmi. Marilah kita memohon ampun kepada Allah Ta'ala, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Diadaptasi oleh Ustadz Abu Sauda` Eko Mas`uri, dari ad-Dhiyâ-ul Lâmi', Syaikh Muhammad bin Shâlih al-'Utsaimîn, hlm. 505-508]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XI/1429H/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-2490993139409280286?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/2490993139409280286/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/02/betapa-penting-menyambung-silaturahmi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/2490993139409280286'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/2490993139409280286'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2010/02/betapa-penting-menyambung-silaturahmi.html' title='BETAPA PENTING MENYAMBUNG SILATURAHMI'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-9066076692820692355</id><published>2009-06-05T15:39:00.003+07:00</published><updated>2009-06-05T15:49:35.246+07:00</updated><title type='text'>YANG PENTING NIAT! CUKUPKAH ITU?</title><content type='html'>&lt;p&gt;Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Al Ustadz Abu Khaulah Zainal Abidin&lt;/p&gt;&lt;p&gt;(Dari Amir l’Mu’minin Abi Hafsh Umar ibn Al Khaththaab Radhiyallahu ‘Anhu, berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya amal-amal itu bergantung kepada niatnya. Dan setiap orang memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada ALLAH dan Rasul-NYA, maka hijrahnya kepada ALLAH dan Rasul-NYA. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dikejarnya atau wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia (niatkan) hijrah kepada nya.”) (HR: Bukhari-Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas begitu popular di kalangan kaum muslimin. Sering sekali kita mendengar ucapan: “Yang penting niat. Bukankah niat kita baik” Dan sangat boleh jadi pengucapnya hanya tahu sedikit atau sebagian dari kaedah ini. Mungkin dia mendengar hanya potongan dari hadits ini yang diucapkan seseorang, mungkin juga lengkap tetapi telah disimpangkan pengertiannya oleh orang yang ia dengar dari nya hadits ini. Akhirnya semakin jauhlah apa yang sering diucapkan kebanyakan kaum muslimin dengan maksud sesungguhnya dari hadits di atas, bahkan bertentangan sama sekali.&lt;br /&gt;Sesungguhnya hadits ini sangat mulia dan keluar dari lisan manusia yang paling mulia. Oleh karena nya wajib bagi kita untuk mengetahui dan mempelajari nya, sebagaimana para ulama kita memberikan perhatiannya yang khusus terhadap hadits ini.&lt;br /&gt;Beberapa komentar para ulama di bawah ini menunjukkan betapa agung dan pentingnya hadits ini di dalam Islam.&lt;br /&gt;1. Imam Asy-Syafi’i, “Hadits Niat masuk di dalam tujuh puluh bab masalah-masalah fiqh.”&lt;br /&gt;2. Imam Ahmad ibn Hanbal,”Pokok ajaran Islam terdapat pada tiga buah hadits. Hadits Umar (hadits yang kita bicarakan sekarang), Hadits Aisyah, dan Hadits Nu’man ibn Basyir.”&lt;br /&gt;3. Imam Syaukaani,” Hadits Niat merupakan sepertiga ilmu (-di dalam Islam-).&lt;br /&gt;4. Imam Ibn Rajab,”Hadits Niat merupakan timbangan bagi amalan bathin, sedangkan Hadits Aisyah  merupakan timbangan bagi amalah dzahir.”&lt;br /&gt;5. Imam Abu Sa’id Abdurrahman ibn Mahdi,” Siapa saja yang hendak menulis sebuah kitab, hendaknya ia membuka dan memulainya dengan membawakan hadits Niat.”&lt;br /&gt;Demikianlah di antara beberapa ucapan para ulama berkaitan dengan hadits Niat yang menunjukkan betapa mereka memberikan perhatian khusus terhadap hadits ini. Bahkan tidak sedikit yang menjadikan hadits ini sebagai perkara yang pertama dibahas di dalam tulisan mereka, yang antara lain dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap hadits ini, agar para pencari ilmu membenarkan dan meluruskan niat mereka ketika mereka hendak mempelajari agama ini (Islam), dan juga tentunya masih banyak lagi faedahnya. Mereka -yang memulai kitabnya dengan hadits ini- adalah Imam Al Bukhari (dalam Shahih-nya), Imam An-Nawawi (Riyadlush-Sholihin dan Al Arba’in-nya), Taqiyuddin Al Maqdisi (Umdatul Ahkam), dan Imam Asy-Syuyuthiy (Jami’ush-Shaghir)&lt;br /&gt;Di antara faedah, fiqh, atau hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini -sebagaimana kita dapati dari keterangan para ulama- adalah:&lt;br /&gt;1. Niat merupakan bagian dari Iman.&lt;br /&gt;Niat merupakan amalan hati. Sedangkan ta’rif (difinisi) Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah : Diyakini di dalam hati, diucapkan melalui lisan, dan dibuktikan dengan anggota badan dan perbuatan....Oleh karena nya pula Imam Bukhari meletakkan hadits ini di dalam Kitab Al Iman. Bukankah ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala mencatat niat-niat baik kita dengan pahala yang sempurna meskipun amalan tersebut belum kita wujudkan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Maka barangsiapa yang bercita-cita hendak mengerjakan kebaikan tetapi belum mengamalkannya, ALLAH mencatat -bagi orang tersebut- di sisi-NYA dengan kebaikan yang sempurna) (Muttafqun alaih)&lt;br /&gt;2. Wajib mengetahui hukum dari sebuah amalan sebelum mengerjakannya.&lt;br /&gt;Setiap muslim wajib mengilmui sesuatu sebelum mengamalkannya. Apakah amalan tersebut disyari’atkan atau tidak, apakah itu wajib atau semata mustahab (disukai)? Dan telah masyhur bagi kita (kaum muslimin) sebuah kaedah yang berbunyi : (Ilmu sebelum berkata dan bertindak). Bahkan Imam Bukhari menulis demikian pada salah satu judul babnya. Dalilnya diambil dari Firman-ALLAH :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Maka ilmuilah bahwasanya tak ada yang berhak diibadahi kecuali ALLAH dan istighfarlah atas dosamu) (Muhammad:19)&lt;br /&gt;Maka tidak layak bagi kita berkata, “Oh...jadi perbuatan saya itu salah, ya. Saya khan belum tahu hukumnya.” Terlebih lagi kalau itu perkara agama atau ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Disyaratkannya niat pada amalan-amalan keta’atan.&lt;br /&gt;Amalan ta’at yang tidak disertai dengan niat tidaklah dikatakan keta’atan. Begitu pula kebaikan-kebaikan tidaklah menjadi ibadah jika tidak disertai niat untuk beribadah. Karena nya pertama-tama perlu kita mengetahui apa fungsi niat bagi amal.&lt;br /&gt;Sesungguhnya niatlah yang membedakan sebuah amalan. Pertama; dibedakannya amalan ibadah dengan kebiasaan atau yang bukan bersifat ibadah. Seseorang yang mandi keramas untuk kebersihan tak perlu berniat sebagaimana orang yang mandi keramas karena junub. Ke-dua; dibedakannya antara ibadah yang sama satu sama lain. Jika kita dapati seseorang berpuasa di bulan Syawal, misalnya. Maka boleh jadi orang tersebut sedang membayar hutang puasanya, boleh jadi ia sedang puasa Syawal, atau boleh jadi ia sedang puasa sunnat lainnya. Yang membedakan dan menentukan untuk apa amalan tersebut adalah niatnya. Ke-tiga; dibedakannya maksud dan tujuan sebuah amalan. Seseorang mengerjakan keta’atan bahkan perbuatan yang bersifat ibadah. Maka apakah perbuatan tersebut diniatkan untuk mendapatkan keridloan ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala atau mengharapkan selain dari itu ditentukan oleh niatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pentingnya ikhlas di dalam beramal.&lt;br /&gt;Ada sebagian ulama yang menafsirkan ma’na Niat ini dengan Ikhlas. Yang demikian juga benar, karena artinya: Sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung kepada keikhlasan pelakunya. Sebuah amal -betapapun baik atau bermanfa’atnya itu- jika tidak dilandasi keikhlasan tidak akan diterima oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar beribadah kepada ALLAH dengan mengikhlaskan agama ini semata-mata bagi NYA...) (Al Bayyinah: 5)&lt;br /&gt;Sungguh ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala tidak membutuhkan keringat atau harta kita. Dan mengikhlaskan amalan semata-mata karena ALLAH merupakan wujud mentauhidkan ALLAH. Artinya, ikhlas juga merupakan sebuah tuntutan dan konsekuensi dari diciptakannya kita oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala.&lt;br /&gt;Sayangnya, masih banyak orang yang salah mengerti tentang ma’na ikhlas. Menurut mereka, ikhlas itu artinya tidak menuntut apa-apa dari ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala. Bahkan mereka beranggapan bahwa, barangsiapa beribadah untuk mengharapkan surga maka itu ibadahnya pedagang. Dan barangsiapa beribadah karena takut akan neraka maka itu ibadahnya budak. Ada lagi yang berkata, “Hendaknya kita malu untuk meminta-minta kepada ALLAH, karena IA telah banyak memberikan segala sesuatu kepada kita. Apalagi, ALLAH Maha Mengetahui apa yang kita butuhkan tanpa harus kita meminta.” Ada lagi yang lebih lancang -semoga ALLAH memberi nya hidayah- dengan memperumpamakan ikhlas itu keadaannya seperti kita buang air besar, di mana kita tidak memperdulikan apa yang keluar dari perut kita dan bahkan kita merasa lega setelah membuang nya.&lt;br /&gt;Alangkah berbahayanya ucapan ini dan alangkah buruknya perumpamaan yang mereka berikan. Pertama; mereka telah mendustakan janji-janji dan ancaman-ancaman ALLAH. Lantas buat apa ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala menjanjikan kita sorga dan menakut-nakuti kita dengan neraka, jika ibadah kita bukan karena itu ? Ke-dua: mereka menantang kemurkaan ALLAH dan menolak keridloan-NYA. Dan jika orang tersebut tidak bertobat dari keyakinannya, sangat boleh jadi ia tak akan masuk sorga karena memang ia tak mengharapkannya, dan ia akan dimasukkan ke neraka karena mengatakan tidak takutnya kepada neraka. ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala menggambarkan ikhlas dengan perumpamaan yang baik, sedang mereka menggambarkannya dengan perumpamaan yang buruk. Ke-tiga: menyelisihi Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan merasa lebih baik dari beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Bukankah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam saja berdo’a ,” Ya, ALLAH. Aku mengharapkan ridlo-MU dan Surga. Dan aku berlindung dari murka-MU dan Neraka.” Ke-empat; melecehkan perintah ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala. Bukankah ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala telah memerintahkan hamba-NYA agar berdo’a:&lt;br /&gt;)Dan berkata Rabb kalian: “Berdo’alah kalian kepada KU, niscaya KU penuhi untuk kalian...”) (Al Mu’min: 60)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya kita senantiasa memperhatikan gerak hati kita, karena keikhlasan kita senantiasa diuji. Pertama; sebelum beramal, yakni berupa niat. Kepada siapa dan karena apa kita niatkan amalan kita ? Ke-dua; ketika tengah beramal. Boleh jadi amalan yang semula lhklas terganggu disebabkan ada kejadian-kejadian khusus dan tak terduga. Sebagai contoh, kita marah ketika ucapan salam kita tidak dijawab, atau sedekah kita ditolak mentah-mentah, atau kita tambah bersemangat ketika tahu amalan kita ada yang memperhatikan. Ke-tiga; ketika amal telah berlalu. Tanpa sadar setelah mungkin bertahun-tahun kita sembunyikan, tiba-tiba dalam sebuah obrolan kita bangkit-bangkitkan jasa kita dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Baik buruknya amal bergantung kepada niat pelakunya.&lt;br /&gt;Sebuah amal kebaikan akan menjadi ibadah yang diterima manakala diniatkan dengan niat yang baik, berupa keikhlasan, Dan akan menjadi buruk manakala diniatkan dengan niat buruk, berupa ksyirikan -baik kecil apalagi besar-. Akan tetapi seseorang tidak boleh menghalalkan yang haram semata-mata dengan alasan baiknya niat. Dan berangkat dari perkara inilah sesungguhnya judul tulisan di atas dibuat.&lt;br /&gt;Di dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah memberikan pembatasan pada kata Amal, di mana yang dimaksudkan adalah amalan-amalan keta’atan. Apalagi kemudian beliau tegaskan dengan contoh Hijrah. Maka tidak boleh kita meng-qiyas-kan amalan yang baik ini dengan amalan yang buruk, seperti mencuri misalnya.&lt;br /&gt;Namun akhir-akhir ini manusia bermudah-mudahan mengatakan, “Yang penting niat.” Atau ,”Niat kita khan baik.” Maka kemudian ditempuhlah segala cara, dihidupkanlah segala macam yang tidak disyari’atkan, dan ditempuhlah segala jalan yang tidak ada sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada nya. Semua atas nama baiknya niat. Cukupkah itu? Cukupkah segala sesuatu hanya dengan alasan baiknya niat? Sungguh tak ada satupun manusia di muka bumi ini yang mengaku punya niat buruk. Bukankah para penjahat juga jika ditanya kenapa ia melakukan kejahatan itu, niscaya mereka mengatakan bahwa niat mereka baik -untuk menafkahi anak dan isteri-.&lt;br /&gt;Seandainya memang amalan yang buruk atau jahat itu bisa menjadi baik karena niat dan yang haram bisa menjadi halal (bukan dalam hal darurat) juga karena niat, maka apa bedanya ajaran yang suci ini (Islam) dengan Machiavalisme, sebuah falsafah -Tujuan Menghalalkan Cara- yang digagas oleh si kafir Nicolo Machiavale ?.&lt;br /&gt;Maka hendaknya berhati-hati dalam mengatakan (“Yang penting niat.”) atau (“Niat kita khan baik.”). Boleh jadi yang mengucapkan mengira dia mengutip hadits yang mulia dan menganggap dirinya sedang mengagungkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, padahal tanpa ia sadari ia sedang mengutip filsafat hina dan sedang mengagungkan si kafir tadi. (Na’uzubillah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Masih banyak faedah, fiqh, atau hikmah yang dapat kita petik selain yang telah disebutkan di atas seperti, keutamaan hijrah, balasan sesuai amalan, atau syarat diterimanya ibadah. Namun kami cukupkan pembahasan di dalam perkara yang berkaitan langsung dengan judul di atas dan dengan permasalahan yang hendak kami bahas.&lt;br /&gt;Dengan melihat bagaimana para ulama berkomentar tentang hadits ini, tidak sedikitnya kitab-kitab yang diawali dengan hadits ini -bahkan itu semua adalah kitab-kitab yang terkenal-, dan begitu banyaknya ulama belakangan yang menguraikan nya, cukuplah ketidakhafalan dan ketidakpahaman kita akan hadits ini sebagai bukti ketidakseriusan kita dalam beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Buletin Jum'at Risalah Tauhid Edisi 32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-9066076692820692355?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/9066076692820692355/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2009/06/yang-penting-niat-cukupkah-itu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/9066076692820692355'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/9066076692820692355'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2009/06/yang-penting-niat-cukupkah-itu.html' title='YANG PENTING NIAT! CUKUPKAH ITU?'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-2977628237475657304</id><published>2009-06-05T13:43:00.000+07:00</published><updated>2009-06-05T13:44:55.168+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buletin Jum&apos;at'/><title type='text'>MENCELA MAKHLUK, MENCELA ALLAH</title><content type='html'>&lt;p&gt;Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ucapan terkadang ringan dimulut, seakan-akan angin yang berhembus tanpa ada yang menghalanginya, sehingga ada sebagian orang yang membuat hamba Allah tersakiti, dan murka, bahkan "menyakiti" Allah ketika mencela makhluk-Nya. Sebab, mencela makhluk sama dengan mencela Allah. Karenanya, Allah -Ta’ala- mengajarkan kepada kita melalui lisan Nabi-Nya -Shollallahu ‘alaihi wasallam- cara menjaga lisan dari "hobi mencela", karena ini akan mendatangkan dosa .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jangan Mencela Masa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa adalah salahsatu makhluk ciptaan Allah -Ta’ala-. Seorang ketika mencela makhluk ibaratnya mencela Pembuat, dan Penciptanya. Si pencela ini seakan tak menghormati, dan menghargai si Pencipta; seakan makhluk yang dicelanya, tak ada gunanya. Padahal Allah menciptakannya berdasarkan hikmah yang amat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melarang kita mencela masa dalam sabdanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Janganlah kamu mencela masa, karena Allah adalah masa!" [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2246), dan Ahmad dalam Al-Musnad (9126)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencela masa dan mengembalikan kesialan kepada masa berarti menyakiti Allah -Ta’ala- . Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah Azza wa Jalla berfirman: " Anak adam manyakiti-Ku; anak Adam berkata, "Wah, Celaka karena masa". Janganlah seorang diantara kalian berkata, "Wah, Celaka karena masa", karena Aku dalah masa, Aku membolak-balikkan malam dan siang". [HR. Bukhariy dalam Shohih-nya (4826), Muslim dalam Shohih-nya (2246)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Baghowiy-rahimahullah- berkata, "Sabda Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, " janganlah seseorang mangatakan : "Wah, celaka karena masa!", maknanya bahwa diantara kebiasaan orang Arab adalah mencela masa, yaitu pada waktu kejadian-kejadian (musibah), karena menisbatkan musibah-musibah dan perkara-perkara yang tidak disukai kepada masa. Mereka biasa mengatakan (tentang orang yang tertimpa musibah), "Masa-masa sial telah menimpa mereka; mereka telah dibinasakan oleh masa". Allah -Subhanahu wa -Ta’ala-’ telah menyebutkan tentang mereka di dalam kitab-Nya seraya berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka berkata, "Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja; kita mati dan kita hidup. Tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa". ((QS.Al-Jatsiyah :24 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mereka menisbatkan kesusahan yang menimpa mereka kepada masa, berarti mereka mencela pelaku yang membuat kesusahan-kesusahan itu, sehingga celaan mereka tertuju kepada Allah -Ta’ala, karena Dia adalah Pelaku sebenarnya terhadap perkara-perkara yang mereka nisbatkan kepada masa. Oleh karena inilah, mereka dilarang mencela masa". [Lihat Syarhus Sunnah 12/357, cet. Al-Maktab Al-Islamiy, dengan tahqiq Syu’aib Al-Arna’uth1398 H]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah-rahimahullah- berkata, "Pencela masa akan berkisar dalam dua perkara; ia harus terkena oleh salahsatunya: entah ia mencela Allah, ataukah ia musyrik (memperserikatkan Allah), karena jika ia meyakini bahwa masa adalah pelaku bersama Allah, maka ia adalah musyrik. Jika ia meyakini bahwa Allah saja yang melakukan hal itu, sedang ia mencela yang melakukannya, maka sungguh ia telah mencela Allah". [Lihat Zaadul Ma’ad (2/323), dengan tahqiq Al-Arna’uth, cet. Mu’assasah Ar-Risalah, 1407 H]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faedah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan dipahami dari hadits ini bahwa Allah adalah masa, sebab masa adalah makhluk. Abu Sulaiman Al-Khoththobiy-rahimahullah- berkata ketika me-syarah hadits di atas, "Maknanya: Aku adalah pemilik masa, dan pengatur segala urusan yang kalian nisbahkan kepada masa. Barangsiapa yang mencela masa, karena dia adalah pelaku bagi urusan-urusan ini, maka celaannya kembali kepada-Ku, karena Aku adalah Pelakunya. Masa itu hanyalah waktu dan zaman yang aku jadikan sebagai wadah waktu terjadinya urusan-urusan". [Lihat Al-Qowa’id Al-Mutsla (hal.27), dengan Ta’liq Asyrof bin Abdil Maqshud, cet. Adhwa’ As-Salaf ]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jangan Mencela Demam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang diuji dengan penyakit, seringkali dia tidak bersabar, bahkan berkeluh kesah atau mencela penyakit yang dia derita. Padahal semua yang dialami seorang mukmin itu baik baginya. Jika dia menyikapinya seperti yang dituntunkan oleh Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam-, ini akan membersihkan seorang mukmin dari dosa-dosanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir bin abdullah -radhiyallahu ‘anhu- berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- menemui Ummu Saib atau Ummu Musayyab, lalu beliau bersabda: "kenapa engkau wahai ummu saib", atau " Wahai Ummul Musayyab engkau gemetar". Dia menjawab: "Demam, semoga Allah tidak memberkahinya". Maka beliau bersabda: "janganlah engkau mencela demam, sesungguhnya demam itu akan menghilangkan dosa-dosa anak Adam sebagaiman tungku api pandai besi membersihkan kotoran besi". [HR.Muslim (2575)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beginilah terapi Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam mengobati hati dan lisan seseorang sehingga seorang mukmin bersih dari segala perkara yang merusak citra dirinya di hadapan Allah dan para hamba-hamba-Nya. Inilah keistimewaan Islam; ia mengajarkan akhlaq yang mulia dalam segala perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jangan Mencela Binatang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Binatang –walaupun rendah dalam pandangan kita- juga tak boleh dicela, karena ia adalah nikmat ciptaan Allah yang membantu, dan memudahkan urusan dunia, dan akhirat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Barzah Al-Aslamiy -radhiyallahu ‘anhu- berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ketika seorang budak wanita berada diatas seekor onta tunggangan, dan di atas onta itu terdapat barang milik orang-orang lain. Ketika onta itu melihat nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sedangkan (jalan) gunung menjadi sempit dengan mereka. Maka budak wanita itu berkata: "yak cepatlah hai onta, wahai Allah laknatlah onta ini! " maka Nabi bersabda: "onta yang dilakanat itu tidak boleh menemani kami". [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2596)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Husain Al-Awayisyah-hafizhahullah- berkata, "Alangkah agung dan indahnya agama ini, yang melarang celaan terhadap binatang. Sebuah agama yang berusaha membersihkan hati; agama yang berusaha membersihkan lidah. Sesungguhnya manusia yang terbiasa mencela binatang, akan mudah baginya mencela manusia. Sesungguhnya manusia yang terbiasa menjaga lidahnya dari mencela binatang, akan mudah baginya menjaga lidahnya di dalam segala yang diridhoi oleh Allah -Ta’ala-, InsyaAllah". [Lihat Hasho’id Al-Alsun (hal.157), cet. Darul Hijrah].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jangan Mencela Ayam Jantan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada diantara kita tak pernah berpikir kalau ayam yang kita lihat sehari-hari, ternyata ia memiliki keutamaan membantu manusia dalam beribadah, karenanya Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- memuji ayam jantan, dan melarang kita mencelanya. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda melarang kita mencela ayam jantan, karena ayam jantan itu berkokok untuk membangunkan manusia agar beribadah kepada penciptanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Janganlah kamu mencela ayam, karena ayam jantan itu membangunkan (orang) untuk shalat". [HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya(5101). Di-shohih-kan oleh syaikh Al-Albaniy dalam Takhrij Misykah Al-Mashobih (4136)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Husain bin Al-Hasan Al-Hulaimiy-rahimahullah- berkata, "Dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa segala sesuatu yang diambil suatu faedah darinya, tak pantas untuk dicela, dan direndahkan, bahkan haknya untuk dimuliakan, dan disyukuri; dihadapai (dipergauli) dengan baik". [Lihat Faidhul Qodir Syarh Al-Jami’ Ash-Shoghir (1/1327/no.9786) karya Abdur Ra’uf Al-Munawiy]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kebiasaan sebagian orang yang suka menghina ayam jantan, bahwa itu hanyalah binatang, maka ini merupakan perbuatan sia-sia, dan tolol. Justru perbuatannya tersebut yang pantas dicela. Lebih konyol lagi, jika ayam jantan ini tidak sekedar dihina, tapi disakiti tubuhnya ketika atraksi judi "Sabung Ayam" !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Jangan Mencela Angin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- juga melarang mencela angin, karena sesungguhnya angin itu berhembus dengan perintah Penciptanya, bukan atas kemauannya sendiri, maka mencela angin berarti mencela Allah -Ta’ala- . Tapi hendaknya seseorang jika melihat hembusan angin yang menakutkannya hendaklah dia berdo’a dengan do’a yang dituntunkan oleh nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sebagaimana hadits berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Janganlah kamu mencela angin! Jika kamu melihat apa yang kamu tidak suka dari angin itu maka berkatalah: wahai Allah, kami mohon kepadamu kebaikan angin ini, dan berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan dari keburukan yang ada pada angin ini, dan dari keburukan yang angin ini dikirim". [HR. At-Tirmidzy dalam Sunan-nya(2252), Ahmad dalam Al-Musnad (5/123/no.21176)Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (2756)].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdur Rahman bin Hasan Alusy Syaikh-rahimahullah- berkata, "Angin itu berhembus dengan penciptaan Allah -Ta’ala-’ dan perintah-Nya, karena Allah yang menciptakannya dan memerintahkannya. Maka mencelanya berarti mencela Pelakunya, yaitu Allah -Ta’ala-, sebagaimana telah berlalu tentang larangan mencela masa, dan ini menyerupainya. Tak ada yang melakukannya, kecuali orang yang bodoh terhadap Allah dan agama-Nya,dan terhadap perkara yang Dia syariatkan kepada hamba-hamba-Nya. Jadi, Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- melarang orang-orang yang beriman dari perkara yang dikatakan oleh orang-orang yang bodoh dan kasar. Beliau membimbing mereka kepada perkara yang disukai untuk dikatakan pada saat angin berhembus, yaitu beliau bersabda, " Jika kamu melihat apa yang kamu tidak sukai dari angin itu maka katakanlah, "Ya Allah, kami mohon kepada-Mu dari kebaikan angin ini, dan dari kebaikan yang ada pada angin ini, dan dari kebaikan yang angin ini dikirim. Kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, dan dari keburukan yang ada pada angin ini, dan dari keburukan yang angin ini dikirim". Di dalam do’a ini terdapat peribadahan kepada Allah, ketaatan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, dan menolak keburukan-keburukan; menyebut karunia dan nikmat Allah. Inilah keadaan orang-orang yang bertauhid dan beriman. Berbeda dengan keadaan orang-orang yang fasik dan penuh dengan maksiat, orang-orang yang dihalangi dari mencicipi rasa tauhid yang merupakan hakikat iman". (Lihat Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid (hal. 559), cet. Dar Alam Al-Kutub, 1417 H)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber :&lt;br /&gt;Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 37 Tahun I.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-2977628237475657304?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/2977628237475657304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2009/06/mencela-makhluk-mencela-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/2977628237475657304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/2977628237475657304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2009/06/mencela-makhluk-mencela-allah.html' title='MENCELA MAKHLUK, MENCELA ALLAH'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-1455013251488505534</id><published>2009-06-05T13:32:00.001+07:00</published><updated>2009-06-05T13:34:23.813+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausyiah Keluarga'/><title type='text'>MENTAATI SUAMI..atau ORANGTUA ?!</title><content type='html'>&lt;p&gt;Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oleh Syaikh Al-’Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seorang wanita yang telah menikah dihadapkan pada dua perintah yang berbeda. Kedua orang tuanya memerintahkan suatu perkara mubah, sementara suaminya memerintahkan yang selainnya. Lantas yang mana yang harus ditaatinya, kedua orang tua atau suaminya? Mohon disertakan dalilnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Al-’Allamah Al-Muhaddits Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menjawab: “Ia turuti perintah suaminya. Dalilnya adalah seorang wanita ketika masih di bawah perwalian kedua orang tuanya (belum menikah) maka ia wajib menaati keduanya. Namun tatkala ia menikah, yang berarti perwaliannya berpindah dari kedua orang tuanya kepada sang suami, berpindah pula hak tersebut –yaitu hak ketaatan– dari orang tua kepada suami. Perkaranya mau tidak mau harus seperti ini, agar kehidupan sepasang suami istri menjadi baik dan lurus/seimbang. Jika tidak demikian, misalnya ditetapkan yang sebaliknya, si istri harus mendahulukan kedua orang tuanya, niscaya akan terjadi kerusakan yang tidak diinginkan. Dalam hal ini ada sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sebuah hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, ia menaati suaminya dan menjaga kemaluannya, niscaya ia akan masuk ke dalam surga Rabbnya dari pintu mana saja yang ia inginkan.”1&lt;br /&gt;Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.&lt;br /&gt;(Al-Hawi min Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 448)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batasan Melihat Wanita Bukan Mahram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah bisa dipahami bahwa maksud dari keharaman memandang wanita ajnabiyyah (non mahram) adalah memandang wajahnya ditambah dengan memandang auratnya, ataukah yang diharamkan memandang auratnya saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;“Yang diharamkan tidak hanya memandang auratnya, bahkan seluruhnya dilarang.” Demikian jawaban Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah. Beliau lanjutkan: “Karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur`an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman (kaum mukminin): “Hendaklah mereka menundukkan sebagian dari pandangan mereka dan hendaklah mereka menjaga kemaluan mereka….” (An-Nur: 30)&lt;br /&gt;Sekalipun wanita itu terbuka wajahnya, tidaklah berarti boleh memandang wajahnya. Karena terdapat perintah untuk menundukkan pandangan. Laki-laki menundukkan pandangannya dari melihat wanita. Demikian pula sebaliknya, wanita diperintahkan menundukkan pandangannya dari melihat laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman (kaum mukminat): ‘Hendaklah mereka menundukkan sebagian dari pandangan mereka…’.” (An-Nur: 31)&lt;br /&gt;Apabila seorang wanita berjalan di pasar, ia melihat laki-laki, melihat gelang yang dipakai laki-laki, melihat wajah mereka, tangan dan betis mereka, ini memang bukan aurat laki-laki. Namun bersamaan dengan itu, si wanita harus menundukkan pandangannya walaupun si lelaki tidak membuka auratnya. Karena hal ini merupakan penutup jalan menuju kerusakan (saddun lidz-dzari’ah). Tatkala Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kaum mukminin untuk menundukkan pandangan dari melihat wajah-wajah wanita yang mungkin terbuka, demikian pula ketika Dia memerintahkan para wanita untuk menundukkan pandangan mereka dari melihat laki-laki, bukanlah karena permasalahan yang berkaitan dengan hukum syar’i tentang aurat semata. Namun semuanya itu menegaskan ditutupnya jalannya menuju kerusakan. Karena dikhawatirkan bila si lelaki memandangi wajah seorang wanita lantas mengagumi kecantikannya, akan menyeret si lelaki kepada perbuatan nista. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina2...”&lt;br /&gt;Demikian pula wanita diperintahkan menundukkan pandangannya dari lelaki karena khawatir ia akan terfitnah dengan keelokan wajah si lelaki, besarnya ototnya, lurusnya lengannya dan bagian-bagian tubuh lain yang dapat membuat fitnah. Maka datanglah perintah yang melarang masing-masing jenis dari melihat lawan jenis (yang bukan mahramnya) dalam rangka menutup jalan menuju kerusakan. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.” (Al-Hawi min Fatawa Asy-Syaikh Al-Albani, hal. 461-462)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Kaki :&lt;br /&gt;1 HR. Ibnu Hibban dalam Shahih-nya&lt;br /&gt;2 Haditsnya secara lengkap adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, dia akan mendapatkannya, tidak bisa tidak. Maka zina mata adalah dengan memandang (yang haram), dan zina lisan adalah dengan berbicara. Sementara jiwa itu berangan-angan dan berkeinginan, sedangkan kemaluan yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu)&lt;br /&gt;Dalam riwayat Muslim disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ditetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, akan diperoleh hal itu, tidak bisa tidak. Kedua mata itu berzina dan zinanya dengan memandang (yang haram). Kedua telinga itu berzina dan zinanya dengan mendengarkan (yang haram). Lisan itu berzina dan zinanya dengan berbicara (yang diharamkan). Tangan itu berzina dan zinanya dengan memegang. Kaki itu berzina dan zinanya dengan melangkah (kepada apa yang diharamkan). Sementara hati itu berkeinginan dan berangan-angan, sedangkan kemaluanlah yang membenarkan semua itu atau mendustakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-1455013251488505534?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/1455013251488505534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2009/06/mentaati-suamiatau-orangtua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/1455013251488505534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/1455013251488505534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2009/06/mentaati-suamiatau-orangtua.html' title='MENTAATI SUAMI..atau ORANGTUA ?!'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-5317112756449840605</id><published>2009-06-05T10:51:00.000+07:00</published><updated>2009-06-05T10:56:41.861+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tausyiah'/><title type='text'>Nasihat Perkawinan</title><content type='html'>&lt;p&gt;Yazid bin Abdul Qadir Jawas&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Islam adalah agama yang syumul (universal). Agama yang mencakup semua sisi kehidupan. Tidak ada suatu masalah pun, dalam kehidupan ini, yang tidak dijelaskan. Dan tidak ada satu pun masalah yang tidak disentuh nilai Islam, walau masalah tersebut nampak kecil dan sepele. Itulah Islam, agama yang memberi rahmat bagi sekalian alam. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah perkawinan, Islam telah berbicara banyak. Dari mulai bagaimana mencari kriteria bakal calon pendamping hidup, hingga bagaimana memperlakukannya kala resmi menjadi sang penyejuk hati. Islam menuntunnya. Begitu pula Islam mengajarkan bagaimana mewujudkan sebuah pesta pernikahan yang meriah, namun tetap mendapatkan berkah dan tidak melanggar tuntunan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, begitu pula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap penuh dengan pesona. Islam mengajarkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikah merupakan jalan yang paling bermanfa'at dan paling afdhal dalam upaya merealisasikan dan menjaga kehormatan, karena dengan nikah inilah seseorang bisa terjaga dirinya dari apa yang diharamkan Allah. Oleh sebab itulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendorong untuk mempercepat nikah, mempermudah jalan untuknya dan memberantas kendala-kendalanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikah merupakan jalan fitrah yang bisa menuntaskan gejolak biologis dalam diri manusia, demi mengangkat cita-cita luhur yang kemudian dari persilangan syar'i tersebut sepasang suami istri dapat menghasilkan keturunan, hingga dengan perannya kemakmuran bumi ini menjadi semakin semarak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui risalah singkat ini. Anda diajak untuk bisa mempelajari dan menyelami tata cara perkawinan Islam yang begitu agung nan penuh nuansa. Anda akan diajak untuk meninggalkan tradisi-tradisi masa lalu yang penuh dengan upacara-upacara dan adat istiadat yang berkepanjangan dan melelahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestikah kita bergelimang dengan kesombongan dan kedurhakaan hanya lantaran sebuah pernikahan ..?&lt;br /&gt;Na'udzu billahi min dzalik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu musta'an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUQADIMAH &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan perkawinan adalah persoalan yang selalu aktual dan selalu menarik untuk dibicarakan, karena persoalan ini bukan hanya menyangkut tabiat dan hajat hidup manusia yang asasi saja tetapi juga menyentuh suatu lembaga yang luhur dan sentral yaitu rumah tangga. Luhur, karena lembaga ini merupakan benteng bagi pertahanan martabat manusia dan nilai-nilai ahlaq yang luhur dan sentral. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena lembaga itu memang merupakan pusat bagi lahir dan tumbuhnya Bani Adam, yang kelak mempunyai peranan kunci dalam mewujudkan kedamaian dan kemakmuran di bumi ini. Menurut Islam Bani Adam lah yang memperoleh kehormatan untuk memikul amanah Ilahi sebagai khalifah di muka bumi, sebagaimana firman Allah Ta'ala. &lt;br /&gt;"Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata : "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?. Allah berfirman : "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (Al-Baqarah : 30). &lt;br /&gt;Perkawinan bukanlah persoalan kecil dan sepele, tapi merupakan persoalan penting dan besar. 'Aqad nikah (perkawinan) adalah sebagai suatu perjanjian yang kokoh dan suci (MITSAAQON GHOLIIDHOO), sebagaimana firman Allah Ta'ala. &lt;br /&gt;"Artinya : Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat". (An-Nisaa' : 21). &lt;br /&gt;Karena itu, diharapkan semua pihak yang terlibat di dalamnya, khususnya suami istri, memelihara dan menjaganya secara sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam telah memberikan petunjuk yang lengkap dan rinci terhadap persoalan perkawinan. Mulai dari anjuran menikah, cara memilih pasangan yang ideal, melakukan khitbah (peminangan), bagaimana mendidik anak, serta memberikan jalan keluar jika terjadi kemelut dalam rumah tangga, sampai dalam proses nafaqah dan harta waris, semua diatur oleh Islam secara rinci dan detail. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya untuk memahami konsep Islam tentang perkawinan, maka rujukan yang paling sah dan benar adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah Shahih (yang sesuai dengan pemahaman Salafus Shalih -pen). Dengan rujukan ini kita akan dapati kejelasan tentang aspek-aspek perkawinan maupun beberapa penyimpangan dan pergeseran nilai perkawinan yang terjadi di masyarakat kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak semua persoalan dapat penulis tuangkan dalam tulisan ini, hanya beberapa persoalan yang perlu dibahas yaitu tentang : Fitrah Manusia, Tujuan Perkawinan dalam Islam, Tata Cara Perkawinan dan Penyimpangan Dalam Perkawinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Judul Asli = Konsep Perkawinan Dalam Islam &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-5317112756449840605?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/5317112756449840605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2009/06/nasihat-perkawinan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/5317112756449840605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/5317112756449840605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2009/06/nasihat-perkawinan.html' title='Nasihat Perkawinan'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3946421693918757254.post-8439134737054100837</id><published>2009-06-04T15:49:00.000+07:00</published><updated>2009-06-04T15:56:10.695+07:00</updated><title type='text'>ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAH</title><content type='html'>Selamat datang di Hendra's Home Blog, semoga bisa berbagi dan bermanfaat, Salam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;http://www.internetsukses.com/?ref=hendrawn, http://www.program5milyar.com/?id=kanghendrawn&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3946421693918757254-8439134737054100837?l=hendrawnugraha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/feeds/8439134737054100837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2009/06/assalamualaikum-warahmatullah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/8439134737054100837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3946421693918757254/posts/default/8439134737054100837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hendrawnugraha.blogspot.com/2009/06/assalamualaikum-warahmatullah.html' title='ASSALAMU&apos;ALAIKUM WARAHMATULLAH'/><author><name>Blog HENDRAWN's</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06264896652575762174</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_KmiI_C8MTag/Sih-GccHGLI/AAAAAAAAAAc/jz-xOqHkAYo/S220/23-09-08_1256.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
